Jumat, 01 Januari 2016

Definisi atau Pengertian Motivasi Belajar

Secara sederhana pengertian atau definisi motivasi belajar dapat diartikan sebagai keseluruhan daya pengaruh yang ada di diri siswa yang dapat menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiatan itu demi mencapai suatu tujuan. Motivasi belajar mengandung peranan penting dalam menumbuhkan gairah atau semangat dalam belajar, sehingga siswa yang bermotivasi kuat memiliki energi yang banyak untuk melakukan kegiatan belajar (Winkel , 1991: 92).

Uraian Motivasi Belajar.
Motivasi tidak terlepas dari kata “ motif “. Secara morfologi, kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian motif dan motivasi sebagai berikut :
Motif adalah kata benda yang artinya pendorong, sedangkan motivasi adalah kata kerja yang artinya mendorong. Dengan kata lain motif dapat diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu sedangkan motivasi adalah dorongan atau kekuatan dalam diri individu untuk melakukan sesuatu dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Sementara untuk pengertian motivasi belajar ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakannya. W.S. Winkel ( 1983:73 ) berpendapat bahwa motivasi belajar adalah “ Keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu, maka tujuan yang dikehendaki siswa tercapai “.
Sardiman ( 1988:75 ) mengatakan bahwa :
Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di daam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu tercapai.
Berdasarkan pendapat – pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi belajar adalah dorongan atau kekuatan dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan serta arah belajar untuk mencapai tujuan yang dikehendaki siswa.

Dilihat dari alasan timbulnya motivasi Burton yang dikuitip oleh Pasaribu dan Simanjuntak (1983: 53) membagi motivasi menjadi dua.
  1. Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang timbul dari dalam individu untuk berbuat sesuatu.
  2. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang timbulnya dari luar individu.
Sardiman A. M (1996: 75) mengatakan bahwa motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu dapat timbul di dalam diri seseorang. Sedangkan Sumadi Suryabrata (1983: 9) mengemukakan pendapatnya bahwa motivasi intrinsik lebih efektif dalam mendorong seseorang untuk belajar daripada motivasi ekstrinsik.
Menurut Sardiman A. M (1996: 75) dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar tersebut dan juga memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki siswa dalam belajar tercapai.
Menurut Sardiman (1996: 85) fungsi motivasi bagi siswa antara lain:
  1. mendorong siswa untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi,
  2. menentukan arah, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai,
  3. menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Utami Munandar (1992: 34-35) menyatakan ciri siswa yang bermotivasi, antara lain:
  1. tekun menghadapi tugas,
  2. ulet menghadapi tugas,
  3. tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi,
  4. ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan,
  5. selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin,
  6. menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah,
  7. senang dan rajin belajar, penuh semangat, cepat bosan dengan tugas-tugas rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif),
  8. dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya,
  9. mengejar tujuan-tujuan jangka panjang,
  10. senang mencari dan memecahkan soal-soal.
Selain itu motivasi juga sebagai pendorong usaha dalam pencapaian prestasi. Menurut Anderson dan Faust yang dikutip oleh Elida Prayitno (1989: 10) mengungkapkan bahwa motivasi siswa dalam belajar dapat dilihat dari karakteristik tingkah laku siswa yang menyangkut minat, ketajaman perhatian, konsentrasi dan ketekunan. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa siswa yang temotivasi dapat dilihat dari ketekunan, perhatian, konsentrasi dan minat terhadap memecahkan persoalan.
Belajar menurut Morgan yang dikutip oleh Sri Rumini (1995: 59) adalah perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil latihan dan pengalaman. Dalam pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan, dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan sekedar mengingat, akan tetapi lebih luas , bukan suatu penguasaan hasil latihan. Kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku merupakan proses belajar.
Menurut Dimyati Mahmud yang dikutip oleh Sri Rumini (1995:59) berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku baik yang diamati maupun yang tidak diamati secara langsung dan terjadi dalam diri seseorang karena pengalaman. Menurut Moh. Surya yang dikutip oleh Sri Rumini (1995: 59) juga berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Sedangkan menurut Fontana yang dikutip oleh Erman Suherman (2003:7) pengertian belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil pengalaman.
Ratna Wilis Dahar (1996: 11) memberikan penjelasan tentang komponen-komponen yang terdapat di dalam belajar, sebagai berikut.
  1. Perubahan Perilaku, Belajar disimpulkan, sebagai perilaku suatu organisma termasuk manusia, mengalami perubahan. Dalam hal ini yang menjadi perhatian utama adalah perilaku verbal dari manusia.
  2. Belajar dan Pengalaman, Komponen yang kedua ini diungkapkan ”sebagai suatu hasil pengalaman”. Belajar dengan istilah ini menekankan pada pengalaman yang merupakan komponen utama dalam belajar.
Belajar menurut Endang Supartini (2001: 5) adalah suatu proses usaha yang dilakukan dengan lingkungannya, supaya terjadi perubahan perilaku atau pribadi kearah lebih baik. Sedangkan menurut Slameto (1991: 2) belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Perubahan yang terjadi dalam proses belajar dapat berupa penambahan, pengayaan atau pendalaman mengenai pendalaman baru. Perubahan tersebut bisa juga diartikan dari keadaan tahu menjadi tidak tahu, atau dari keadaan tidak terampil menjadi terampil, perubahan tersebut terjadi tidak didapat dari faktor kemetangan melainkan melalui pengalaman atau latihan.
Menurut Suryawahyuni Latief, beberapa teknik motivasi yang dapat dilakukan dalam pembelajaran sebagai berikut.
  1. Memberikan penghargaan dengan menggunakan kata-kata, seperti ucapan bagus sekali, hebat, dan menakjubkan.  Penghargaan yang dilakukan dengan kata-kata (verbal) ini mengandung makna yang positif karena akan menimbulkan interaksi dan pengalaman pribadi bagi diri siswa itu sendiri.     
  2. Memberikan tes (tes singkat atau kuis dan tes evaluasi) dan memberikan nilai dari tes tersebut sebagai pemacu siswa untuk belajar lebih giat.  Dengan mengetahui hasil yang diperoleh dalam belajar maka siswa akan termotivasi untuk belajar lebih giat lagi.
  3. Menumbuhkan dan menimbulkan rasa ingin tahu dalam diri siswa.  Rasa ingin tahu dapat ditimbulkan oleh suasana yang mengejutkan atau tiba-tiba.
  4. Mengadakan permainan dan menggunakan simulasi.  Mengemas pembelajaran dengan menciptakan suasana yang menarik sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan dapat melibatkan afektif dan psikomotorik siswa.  Proses pembelajaran yang menarik akan memudahkan siswa memahami dan mengingat apa yang disampaikan.
  5. Menumbuhkan persaingan dalam diri siswa. Maksudnya adalah guru memberikan tugas dalam setiap kegiatan yang dilakukan, dimana siswa dalam melakukan tugasnya tidak bekerjasama dengan siswa yang lainnya.  Dengan demikian siswa akan dapat membandingkan hasil pekerjaan yang dilakukannya dengan hasil siswa lainnya.
  6. Memberikan contoh yang positif, artinya dalam memberikan pekerjaan kepada siswa guru tidak dibenarkan meninggalkan ruangan untuk melaksanakan pekerjaannya lainnya.
  7. Penampilan guru; penampilan guru yang menarik, bersih, rapi, sopan dan tidak berlebih-lebihan akan memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Termasuk juga kepribadian guru, guru yang masuk kelas dengan wajah tersenyum dan menyapa siswa dengan ramah akan mebuat siswa merasa nyaman dan senang mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung. 

Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top