Sabtu, 31 Oktober 2015

Penyebab dan Dampak Global Warming (Pemanasan Global)

Pemanasan global (Inggris : global warming) adalah proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 00:18 ° C (± 01:33 00:32 ° F) selama seratus tahun terakhir. Panel Antar pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20, kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia” melalui efek rumah kaca.
Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Namun, ada beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan dari IPCC menyatakan. Model iklim direferensikan oleh proyek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1,1-6,4 ° C (2,0-11,5 ° F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario yang berbeda mengenai gas emisi gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Meskipun sebagian besar penelitian telah difokuskan pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Hal ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Setiap dampak pasti ada penyebabnya begitu pula dengan meningkatnya suhu global yang diperkirakan akan menyebabkan pemanasan global (global warming) terjadi perubahan lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Efek pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. Beberapa hal yang para ilmuwan masih ragu tentang jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi akan bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Hingga saat ini masih menjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi sana.

Penyebab Pemanasan Global (Global Warming)
Global warming atau dikenal juga dengan pemanasan global merupakan hal yang sering diperbincangakan saat ini dan telah menjadi isu bersama diberbagai belahan dunia. Banyak orang yang sudah tidak asing lagi dengan adanya pemanasan global yang berdampak buruk bagi kehidupan, baik bagi manusia, tumbuh-tumbuhan maupun hewan serta alam sekitar.
Banyak hal yang menjadi penyebab dari terjadinya pemanasan global (gobal warming). Semakin banyak penyebabnya, maka akan semakin kompleks cara mengatasi pemasana global yang sekarang sudah terjadi di Indonesia, bahkan di dunia. Tapi bukan tidak mungkin semua bisa di cari solusinya, hanya saja yang terjadi adalah manusia banyak yang tidak mau melaksanakan solusi untuk mengatasi pemanasan global tersebut.


Contoh kecil dari semua itu adalah, dengan selalu naiknya suhu panas bumi, sehingga banyak manusia yang mengeluh, dan mencari alternatif dengan menggunakan AC. Padahal AC juga punya peran dalam pemanasan global. Banyaknya masyarakat yang tidak tahu penyebab dari pemanasan global menjadikan ulasan berikut perlu kita cermati dan beritahukan kepada masyarakat. diantara penyebab terjadinya pemanasan global (global warming) adalah berikut :

Efek Rumah Kaca : Efek rumah kaca adalah proses atmosfer menghangatkan planet. efek rumah kaca terjadi akibat panas yang dipantulkan ke permukaan bumi terperangkap oleh gas-gas di atmosfer, sehingga tidak dapat diteruskan ke luar angkasa, melainkan dipantulkan kembali ke permukaan Bumi. Efek rumah kaca memiliki manfaat bagi makhluk hidup di Bumi, namun  jika berlebihan berbahaya kehidupan di Bumi karena dapat mempengaruhi dan mengganggu iklim.
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup di bumi, karena tanpa itu, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata 15 ° C (59 ° F), bumi sebenarnya memiliki lebih banyak panas 33 ° C (59 ° F) dari suhu semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 ° C sehingga es akan menutupi permukaan seluruh bumi. Namun sebaliknya, jika gas tersebut telah dibesar-besarkan di atmosfer, akan menyebabkan pemanasan global.
Salah satu dari banyaknya pemanasan global terjadi karena model rumah atau gedung dengan konsep rumah kaca. Sehingga dari rumah kaca memantulkan cahaya ke udara, bukan menyerap sinar matahari. Jika satu atau dua rumah saja maka tidak terlalu berdampak. Namun yang terjadi bukan saja rumah, gedung -gedung pencakar langit pun memakai konsep bangunan kaca. Jika yang terjadi demikian, maka pemanasan global adalah “prestasi” yang di hasilkan dari banyak rumah dan gedung yang bermodelkan  kaca.

Meningkatnya Gas Rumah Kaca : Gas-gas memiliki sifat yang memerangkap panas, sehingga panas yang terpantul dari permukaan bumi tidak dapat diteruskan ke cahaya akibat dari gas tersebut, gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca. Gas yang paling berperan adalah karbon dioksida (CO2). penyebab meningkatnya karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar batu bara, pembakaran minyak bumi, pembakaran gas alam.

Efek Umpan Balik : Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer. Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es.[4] Ketika suhu global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan
Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi lebih hangat.Umpan balik ini hanya mempengaruhi lambat karena CO2 memiliki waktu yang lama di atmosfer.

Variasi Matahari : Variasi Matahari selama 30 tahun. Ada hipotesis bahwa variasi matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat berkontribusi terhadap pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer.
Pendinginan stratosfer bagian bawah telah diamati setidaknya sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas matahari menjadi penyumbang utama pemanasan saat ini. Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.
Fenomena variabilitas matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri untuk tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.

Penggunaan CFC yang Tidak Terkontrol : CFC atau Cloro Flour Carbon adalah bahan kimia yang digabungkan menjadi sebuah bahan untuk memproduksi peralatan, terkhusus pada peralatan rumah tangga. CFC terdapat pada kulkas dan AC.

Jumlah kendaraan terus bertambah : Hal ini sudah di bahas di atas, tapi ini hal ini harus mendapat sikap dari pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan dalam kendaraan bermotor. Misal dengan keluarnya kendaraan terbaru, maka kendaraan tahun lama bisa di cabut atau di daur ulang atau apalah. Yang penting jumlah kendaraan bermotor bisa berkurang, bukan malah bertambah.
Yang terjadi saat ini adalah jumlah kendaraan bermotor bertambah, namun tidak di barengi dengan infrasrtuktur jalan, sehingga bukan hanya polusi udara yang berdampak kepada pemanasan global terjadi, kemacetan pun selalu menghiasi jalan.

Bahan Bakan Kenderaan : Bahan bakan dari kendaran selain mengganggu bagi kesehatan manusia, juga bisa memberikan bertambahnya pemasanasan global dari polusi udara yang di hasilkan.
Kita ketahui, jumlah kendaraan terus bertambah, tidak ada pengurangan. Pengguna sepeda motor dari tahun ketahun terus meningkat penggunanya. Begitu juga dengan pengendara mobil tidak mau kalah. Sementara sepeda motor dan mobil yang lama tidak di musnahkan atau tetap di biarkan beredar.

Polusi Kendaraan berbahan bakar bensin : Kendaraan memberikan penyebab terbesar dalam terjadi pemanasan global. Polusi yang dihasilkan kendaraan berbahan bakar bensin seperti motor, mobil dan kendaraan lainnya dimana dari hasil pembuangannya menghasilkan gas karbon dioksida yang berlebihan. Gas karbon dioksida merupakan penyebab utama terjadinya pemanasan global karena karbon dioksida adalah gas yang memerangkap panas sehingga tidak dapat keluar ke angkasa.
Meningkatnya jumlah kendaraan maka karbon dioksida pun yang dihasilkan dari kendaraan tersebut akan bertambah banyak dan tentu saja menimbulkan pemanasan global.

Polusi Metana oleh Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan : Gas metana menempati urutan kedua sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global. Gas metana dapat berasal dari bahan-bahan organik yang kekurangan oksigen dari hasil pemecahan bakteri seperti di persawahan, sedangkan pada peternakan, seperti usus hewan ternak, meningkatnya produksi hewan ternak maka meningkatnya pula gas metana yang dilepaskan ke permukaan bumi.
Polusi asap dari industri Pabrik Dengan alasan membuka lapangan pekerjaan bagi rakyat Indonesia, maka banyak pabrik industri yang tumbuh dan berkembang. Tidak lain dan tidak bukan untuk mensejahterakan rakyat. Supaya bisa mendapatkan penghasilan dengan bekerja.
Jika pernyataan di atas benar, maka wajar jika kita mendapatkannya, ya mendapatkan rasa panasnya bumi karena banyak polusi asap dari pabrik industri. Ini memang dilema, di satu sisi untuk kepentingan rakyat, tapi di sisi lain mengorbankan eksistensi bumi.

Pembakaran Sampah Secara Berlebihan : Pembakaran sampah berlebihan yang dilakukan secara massal akan menyebabkan terjadinya pemanasan global karena dari hasil pembakaran sampah tersebut adalah gas metana, yang dapat memerangkap panas.

Pengrusakan Hutan : Hutan berfungsi dalam menyerap karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen, jika hutan rusak akibat dari penebangan dan pembakaran, maka yang terjadi adalah jumlah karbon dioksida yang diserap oleh hutan sedikit, dan semakin banyak karbon yang berkumpul di atmosfer yang menyebabkan terjadinya pemanasan global.

Pembakaran Hutan dan ilegal loging : Apakah Anda tahun berapa hektar jumlah hutan Indonesia? Dan sudah berapa berkurang akibat pembakaran hutan dan ilegal loging?
Sumber mangatakan bahwa sekitar 50 % pemanasan global disebabkan oleh CO2, dimana emisi CO2 disebabkan oleh penggunaan bahan bakarfosil dan kerusakan/pembakaran hutan.
Hutan banyak fungsi, di samping bisa mencegah terjadinya banjir, hutan juga bisa mereduksi suhu panas bumi yang cendrung meningkat.
Tapi apa yang terjadi jika hutan sebagai warisan nenek moyang di bakar dan di tebang (baca: di curi) oleh oknum yang tidak bertanggung jawab?
Dalam mencegah pembakaran hutan dan ilegal loging, peran pemerintah harus serius dalam menanganinya , karena sudah banyak terjadi dan terus terjadi beberapa bulan lalu di provinsi Riau

Minimnya ruang terbuka hijau : Pakar tata kota dari Universitas Trisakti, Jakarta, Nirwono Yoga, menilai sejauh ini belum ada lonjakan persentase yang berarti terhadap jumlah ruang terbuka hijau (RTH) yang ada di Jakarta, sebagaimana di lansir dari media online _http://koran-jakarta.com.
Upaya pemerintah di setiap daerah sangat minim untuk membangun ruang terbuka hijau. Hal ini bisa di lihat dengan susah sekali kita menemukannya. Walau sekarang ada beberapa kota seperti Bandung dan Surabaya yang sedang menggalakkan. Maka hal itu bisa di jadikan contoh bagi kota-kota lain.
Halaman Rumah tanpa pepohonan Tumbuhan hijau atau pepohonan bisa membuat udara menjadi sejuk dan menetralkan suhu udara sehingga bisa di simpulkan bahwa pohon (tumbuhan) bisa mengatasi suhu panas yang tinggi. Jika memang benar demikian, maka selayaknya setiap rumah mau menanam pohon di pekarangan rumahnya. Tapi hal ini juga tidak dilakukan oleh banyak rumah, apakah lagi rumah di perkotaan yang lebih memilih membangun gedung daripada menanam pepohonan hijau.
Kalau setiap pekarangan atau halaman rumah tidak ada pohon, maka wajarlah yang namanya pemanasan global itu terjadi.

Pemboroson Energi Listrik : Energi listrik sebagian besar kita gunakan adalah hasil pembakaran dari pembakaran minyak bumi dan batu bara, dimana hasil pembakaran tersebut menghasilkan karbon dioksida
Penggunan listrik yang wajar dan sesuai kebutuhan tentu prilaku manusia bijak. Semua orang menginginkan hal tersebut bisa di lakukan oleh setiap individu. Tapi, ternyata untuk hemat dalam penggunaan listrik bukanlah pekerjaan yang mudah bagi sebagian besar orang. Akibatnya, hal ini sebagai penyumbang pemanasan global terjadi.
Himbaun atau kampanye hemat listrik (save energy) sudah banyak di lakukan, tapi tetap saja banyak rumah yang boros dalam pemakaian listrik.

Usia Bumi Yang sudah tua : Planet bumi yang sudah  mencapai usia 4,6 miliar tahun menjadi penyebab juga. Artinya sudah sangat tua. Ibarat manusia jika sudah tua, pasti banyak penyakit yang mudah menyerang. Begitu juga bumi. Penyakit yang diderita bumi hari ini adalah pemanasan global dan hujan asam serta banyak lagi yang lain.
Bocornya lapisan ozon Sinar matahai yang memancar kebumi tidak langsung sampai kebumi, karena ada laipsan ozon yang melakukan filter terlebih dahulu. Hal itu jika memang lapisan ozon memang masih normal. Yang terjadi sekarang ini adalah lapisan ozon sudah menipis bahkan ada yang bilang sudah bocor.
Sebuah sumber mengatakan bahwa: “Berdasarkan pemantauan menggunakan instrumen Total Ozone Mapping Spectrometer (TOMS) pada satelit Nimbus 7 dan Meteor 3, kerusakan ini telah menimbulkan sebuah lubang yang dikenal sebagai lubang ozon di kedua kutub

Penyebab Dari Kebijakan Pemerintah : Pemerintah bisa mencegah atau minimal mengurangi terjadinya pemanasan global khususnya di Indonesia. Karena pemerintah punya power yang bisa membuat regulasi – regulasi. Tapi apa yang terjadi sekarang ini dengan program pemerintah dalam mengatasi masalah pemanasan global? Di bawah ini beberaapa fakta yang terjadi

Dampak dari pemanasan global (global warming)
Para ilmuwan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuwan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, permukaan air laut, pantai, pertanian, satwa liar dan kesehatan manusia.
Iklim mulai tidak stabil, Para ilmuwan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah utara belahan bumi utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan tanah itu akan menyusut. Akan lebih sedikit es yang mengambang di perairan Utara. Daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mendapatkannya lagi.
Di gunung subtropis, bagian yang tertutup salju akan menyusut dan akan mencair lebih cepat. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa daerah. Suhu pada musim dingin dan malam hari akan cenderung meningkat.
Daerah yang hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air menguap dari lautan. Para ilmuwan belum yakin apakah kelembaban benar-benar akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan lebih lanjut. Hal ini karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer.
Namun, lebih banyak uap air akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa, di mana ia akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban tinggi akan meningkatkan curah hujan rata-rata sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir.
Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya, beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih keras dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan (badai) yang menarik kekuatannya dari penguapan air, akan lebih besar. Bertentangan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

Peningkatan permukaan laut, Perubahan tinggi rata-rata permukaan laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Ketika suasana menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volume akan memperluas dan meningkatkan permukaan laut.
Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Permukaan air laut di seluruh dunia telah meningkat sebesar 10-25 cm (4-10 inci) selama abad ke-20, dan para ilmuwan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9-88 cm (4-35 inci) pada abad ke-21.
Perubahan permukaan laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pesisir. Kenaikan 100 cm (40 inci) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau. Erosi tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika laut lepas mencapai muara, banjir pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk melindungi daerah pesisir, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan permukaan laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Munculnya 50 cm (20 inci) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa baru juga akan dibentuk, tapi tidak di daerah perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan permukaan laut akan menutupi sebagian besar Everglades, Florida.
Suhu Global Cenderung Meningkat, Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian selatan dari Kanada, misalnya, dapat mengambil manfaat dari curah hujan yang lebih tinggi dan panjang musim tanam.
Di sisi lain, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian Desert yang menggunakan air irigasi dari pergunungan mungkin menderita jika snowpack (koleksi salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum bulan puncak musim tanam. Tanaman pangan dan serangga hutan dan menyerang penyakit yang lebih kuat.
Gangguan Ekologis, Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit untuk menghindari efek pemanasan global karena sebagian besar lahan dikendalikan oleh manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub dan gunung-gunung. Tanaman akan mengubah arah pertumbuhan, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Namun, pembangunan manusia akan menghambat perpindahan ini.
Spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Dampak Sosial Dan Politik, Perubahan cuaca dan lautan dapat menyebabkan munculnya penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi.
Tingkat cuaca ekstrim dan meningkatnya laut karena mencairnya es di Kutub Utara dapat menyebabkan penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Munculnya bencana alam biasanya disertai dengan migrasi ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti : diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat berdampak pada penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air (waterborne penyakit) serta penyebaran vektor penyakit (vektor penyakit). Seperti peningkatan kejadian demam berdarah sejak munculnya ruang (ekosistem) nyamuk berkembang biak. Dengan perubahan iklim, ada beberapa spesies vektor penyakit (eq Aedes aegypti), virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang ditargetkan pada organisme tersebut. Selain itu, diperkirakan bahwa ada beberapa spesies alam akan beradaptasi atau punah karena ekosistem perbuhan ekstrim ini.
ini juga akan mempengaruhi perubahan iklim (climate change) yang dapat menyebabkan peningkatan penyakit tertentu seperti ISPA (kekeringan / kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak menentu) Lingkungan gradasi yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi terhadap penyakit yang ditularkan melalui air dan penyakit vektor. Ditambah dengan emisi polusi udara dari gas yang tidak terkontrol tanaman selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit pernapasan seperti asma, alergi, coccidioidomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.
Facebook Twitter Google+

2 komentar

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top