Sabtu, 04 Juli 2015

Pengertian Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja adalah tingkat kesenangan yang dirasakan seseorang atas peranan atau pekerjaannya dalam organisasi. Tingkat rasa puas individu bahwa mereka mendapat imbalan yang setimpal dari bermacam-macam aspek situasi pekerjaan dari organisasi tempat mereka bekerja. Jadi kepuasan kerja menyangkut psikologis individu didalam organisasi, yang diakibatkan oleh keadaan yang ia rasakan dari lingkungannya.
T. Hani Handoko (2000: 193-194) mengemukakan bahwa kepuasan kerja (Job Satisfaction) adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan para karyawan memandang pekerjaan mereka. Waktu/lama penyelesaian merupakan pencerminan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Ini dapat dilihat dari sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu di lingkungannya.
Tingkat kepuasan kerja adalah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi kerjanya karena yang akhirnya berpengaruh pada efektivitas organisasi. Dan juga kepuasan kerja pegawai tidak cukup hanya diberikan insentif saja akan tetapi pegawai juga membutuhkan motivasi, pengakuan dari atasan atas hasil pekerjaannya, situasi kerja yang tidak monoton dan adanya peluang untuk berinisiatif dan berkreasi.
Sumber daya terdiri dari sumber daya manusia, sarana dan prasarana maupun pembiayaan sangat menentukan keberhasilan organisasi untuk menjalankan tugasnya atau beroperasi dengan baik dalam mencapai tujuan. Aspek penting yang mendukung suatu keberhasilan tidak lain adalah tersedianya sumber daya yang memadai. Sejalan dengan itu Notoatmojo (1992) mengemukakan bahwa: pembangunan suatu bangsa memerlukan aset pokok yang disebut sumber daya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Kedua sumber tersebut sangat penting dalam menentukan keberhasilannya suatu pembangunan bangsa organisasi. Dari sumber daya yang tersedia dalam organisasi, sumber daya manusia memegang peranan sentral dan penting menentukan. Tanpa sumber daya manusia yang handal, pengolahan, penggunaan dan pemanfaatan sumber-sumber lainnya akan menjadi tidak efektif, efisien dan produktif. Dalam keadaan yang demikian tidaklah mengherankan bahwa tujuan serta program organisasi yang telah dirumuskan dengan baik hanya akan tetap sulit terwujud secara baik dan benar.
Dalam pelaksanaan penarikan pajak daerah dan retribusi daerah di Kabupaten Merauke faktor sumber daya manusia merupakan faktor yang menentukan keberhasilan pencapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ini. Dengan tersedianya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan, skill dan pengetahuan yang cukup memadai, maka pelaksanaan kebijakan Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah akan dapat berjalan dengan cukup baik.
Thoha (1993: 98) menyebutkan bahwa model yang dikembangkan Weisbord yaitu: tujuan, struktur, penghargaan, mekanisme tata kerja, hubungan dan kepemimpinan akan mempengaruhi efektivitas organisasi jika tidak dilakukan upaya pembinaan organisasi. Pembinaan organisasi merupakan sistem yang menyeluruh yang berusaha menerapkan ilmu perilaku dengan memakai perencanaan pengembangan-pengembangan jangka panjang yang terus berkelanjutan dengan mengembangkan strategi, struktur dan proses sehingga dicapai efektivitas organisasi. Pembinaan organisasi melalui diagnosa dan intervensi organisasi adalah upaya yang terencana untuk meningkatkan efektivitas.
Teori Hirarkhi Kebutuhan dari Maslow mengemukakan bahwa manusia ditempat kerjanya dimotivasi oleh suatu keinginan untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang ada dalam diri seseorang. Teori ini didasarkan pada tiga asumsi dasar sebagai berikut:
1. Kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hirarkhi, mulai dari hirarkhi kebutuhan yang paling dasar sampai ke kebutuhan yang kompleks atau paling tinggi tingkatannya.
2. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan dapat mempengaruh perilaku seseorang, di mana hanya kubutuhan yang belum terpuaskan yang dapat menggerakkan perilaku. Kebutuhan yang telah terpuaskan tidak dapat berfungsi sebagai motivator.
3. Kebutuhan yang lebih tinggi berfungsi sebagai motivator apabila kebutuhan yang hirarkhinya lebih rendah paling tidak telah terpuaskan secara minimal.
Atas dasar asumsi di atas, hirarkhi kebutuhan manusia menurut: Maslow adalah sebagai berikut:
1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)
Kebutuhan fisiologis merupakan hirarkhi kebutuhan manusia yang paling dasar yang merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makanan, minuman, perumahan, oksigen, tidur, seks dan lain sebagainya.
2. Kebutuhan Rasa Aman (Security Needs)
Apabila kebutuhan fisiologis relatif sudah terpuaskan maka muncul kebutuhan yang kedua yaitu kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan akan rasa aman ini meliputi keamanan akan perlindungan dan bahaya kecelakaan kerja, jaminan akan kelangsungan pekerjaannya, dan jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak lagi bekerja.
3. Kebutuhan Sosial (Social Needs)
Jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman telah terpuaskan secara minimal maka akan muncul kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi, dan interaksi yang lebih erat dengan orang lain. Dalam organisasi akan berkaitan dengan, kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang kompak, supervisi yang baik, rekreasi bersama dan lain sebagainya
4. Kebutuhan Penghargaan (Esteem Needs)
Kebutuhan ini meliputi kebutuhan keinginan untuk dihormati, dihargai atas prestasi seseorang, pengakuan atas kemampuan dan keahlian seseorang serta efektivitas kerja seseorang.
5. Kebutuhan aktualisasi diri (Self-Actualization Needs)
Aktualisasi diri merupakan hirarkhi kebutuhan dari Maslow yang paling tinggi. Aktualisasi diri berkaitan dengan proses pengembangan akan potensi yang sesunguhnya dari seseorang. Kebutuhan untuk menunjukan kemampuan, keahlian dan potensi yang dimiliki seseorang. Aktualisasi diri merupakan proses yang berlangsung terus-menerus dan tidak pernah terpuaskan Malahan kebutuhan akan aktualisasi diri ada kecenderungan potensinya meningkat karena orang mengaktualisasikan perilakunya. Seseorang yang didominasi oleh kebutuhan akan aktualisasi diri senang akan tugas-tugas yang menantang keahlian dan kemampuannya.
Pengertian diatas menunjukkan bahwa kepuasan kerja dari individu-individu dalam organisasi dipicu oleh berbagai faktor sesuai dengan tingkat kebutuhan yang dimilikinya. Khusus untuk kantor Dispenda Kabupaten Merauke, maka elemen yang akan dianalisis adalah kepuasan kerja yang diukur dari sistem insentif yang berlaku di organisasi tersebut, apakah insentif yang diberlakukan mampu memuaskan setiap anggota organisasi secara maksimal yang bermuara pada tingkat efektivitas individu, efektivitas kelompok dan pada akhirnya pada efektivitas organisasi.
Elemen lain yang menjadi perhatian adalah kecepatan kerja dari karyawan yang dipicu oleh kepuasan kerja yang dimilikinya. Individu akan bertindak tak acuh apabila ia merasa tidak puas dengan kondisi yang ada, baik dari aspek fisik yang berupa penghargaan materi maupun yang berbentuk psikis berupa kenaikan jabatan atau promosi bagi kariernya.
Dengan memperhatikan hubungan variabel bebas dan variabel terikat, model kerangka berpikirnya sebagai berikut:
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top