Rabu, 03 Juni 2015

Perspektif Konvensional dan Islam mengenai Definisi atau Pengertian Laba

Laba dianggap sebagai salah satu hal yang penting bagi bisnis dan merupakan alat yang penting untuk mengevaluasi keberhasilan atau kegagalan bisnis. Laba dalam akuntansi konvensional adalah selisih antara pendapatan dengan beban. Pendapatan adalah peningkatan dalam aset yang dihasilkan dari penjualan barang atau jasa kepada pihak ketiga (Harvey dan Keer, 1984, 52). Definisi yang lebih spesifik adalah pendapatan merupakan arus masuk atau peningkatan lain, atau penyimpanan dalam arus keluar, dari keuntungan ekonomi di masa depan dalam bentuk peningkatan aset atau pengurangan dalam kewajiban dari entitas, selain yang berkaitan dengan kontribusi oleh pemilik, yang menghasilkan peningkatan dalam ekuitas selama periode pelaporan (Chartered Accountants and Australian Society of CPAs, 1998, 112). Beban merupakan konsumsi atau kerugian dari keuntungan ekonomi masa depan dalam bentuk pengurangan aset atau peningkatan kewajiban dari entitas, selain yang berkaitan dengan distribusi kepada pemilik, yang menghasilkan penurunan dalam ekuitas selama periode pelaporan (Chartered Accountants and Australian Society of CPAs, 1998, 113).
 
Dari perspektif Islam mengenai akuntansi, konsep laba tidak berbeda dari konsep laba sekuler. Kata laba dalam Qur’an disebut sekali dalam Surat Al-Baqarah : 16. Konsep laba dalam Islam terdiri dari laba selama kehidupan dan setelah kehidupan. Selama hidup para ahli mendefiniskan laba sebagai pertumbuhan dalam modal (Al-Asfahani, tanpa tanggal, 388 dan Mohammad, 1988, 7). Dalam zakat, konsep laba berarti pertumbuhan dan peningkatan nilai (Naser,tanpa tanggal, 305). Dan dalam mu’amalat (hukum sipil yang berkaitan dengan lingkup ekonomi dan sosial dari aktivitas manusia) laba adalah selisih dari pendapatan dan beban (Naser, tanpa tanggal, 305 dan Al-Masri, 1994, 3). Laba ini datang dari campuran dari buruh dan modal, yang datang dari aktivitas pembelian dan penjualan.
 
Dalam akuntansi konvensional konsep laba sulit untuk didefinisikan karena pendapatan pada umumnya diasosikan dengan prosedur-prosedur akuntansi tertentu, tipe-tipe tertentu mengenai perubahan-perubahan nilai dan aturan yang implisit untuk menentukan kapankah pendapatan dilaporkan (Hendriksen, 1974, 159). Dalam perspektif Islam mengenai akuntansi, para ahli membedakan antara gala (hasil) dan laba. Gala adalah peningkatan dalam orud al-tijarah atau aktiva lancar non-kas (Al-Dawski, tanpa tanggal, 465). Dan ini bukanlah laba karena tidak datang dari usaha pekerja. Sebagai contoh, al-gala dalam operasi mudharabah menjadi bagian rab-ul-mal (pemilik investasi). Jadi tidak didistribusikan sebagai laba antara mudharib (pekerja) dengan rab-ul-mal.¬ Juga ada perbedaan antara al-fa’adah (bunga) dengan laba. Al-fa’adah adalah peningkatan dalam orud al-quniah (aktiva tetap). Dan diperoleh dari penjualan orud al-quniah. Ini sama dengan pendapatan kapitalis dalam akuntansi konvensional (Al-Ibji, 1996, 21). Jadi dalam Islam ada laba, gala, dan fa’adah, dan perlu untuk membedakan secara akurat di antara mereka khususnya ketika kita melihat distribusi laba antara pemegang saham dengan depositor dalam bank Islam.
 
Dalam Islam, laba memiliki batasan-batasan, laba tidak boleh diperoleh dari riba, pemalsuan, monopoli, dan penipuan. Laba diperoleh dari kombinasi dua atau semua modal, buruh, dan risiko (jaminan). Laba dengan modal berarti bahwa rab-ul-mal bisa memperoleh laba dari investasi modalnya dengan risiko sebagian dengan mudharib. Dan titik utama bahwa rab-ul-mal tidak dapat memutuskan bagian labanya sebagai rasio modal terpisah dari hasil bisnis jika suatu laba atau rugi telah terjadi. Laba dengan buruh berarti bahwa mudharib memperoleh laba dengan rab-ul-mal di luar kerjanya. Laba dengan resiko berarti bahwa harus meningkatkan laba jika risiko meningkat seperti transfer produk untuk dijual ke negara yang jauh.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top