Rabu, 03 Juni 2015

Pengukuran Akuntansi Biaya-Biaya yang Terkait dengan Biaya Awal Operasi (Subsequent Costs) Pembiayaan Murabahah.

Subsequent cost adalah biaya-biaya yang dibayar oleh bank Islam setelah bank Islam membayar biaya-biaya awal (intial costs). Studi Al-Khadas (1999, 18) menjelaskan tentang opini para ahli syariah tentang biaya yang terkait dengan biaya awal operasi dan harus dibebankan dalam pembiayaan murabahah, meliputi:
  1. Biaya langsung, yaitu biaya yang dibayar atau akan dibayar oleh bank Islam sehubungan dengan perolehan produk (aset) murabahah.
  2. Biaya-biaya tidak langsung, yaitu biaya-biaya yang akan meningkatkan nilai produk (aset) murabahah tetapi tidak berhubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh murabih (bank) sehingga murabih harus membayar kepada pihak lain sehubungan dengan pekerjaan tersebut.
Sedangkan biaya-biaya lain terkait yang tidak seharusnya dibebankan ke dalam biaya awal operasi dalam pembiayaan murabahah :
  1. Biaya-biaya langsung yang berhubungan dengan pekerjan yang dilakukan oleh murabih.
  2. Biaya-biaya tidak langsung yang berhubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh murabih.
  3. Macam-macam biaya tidak langsung yang meningkatkan nilai produk dan berhubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh bagian lain tetapi hal ini merupakan tanggung jawab murabih untuk melakukannya.
  4. Macam-macam biaya tidak langsung yang tidak meningkatkan nilai produk.
Shahata (1987, 125) menyebutkan bahwa biaya awal dan biaya-biaya lain yang terkait dengan biaya awal tersebut dalam perspektif akuntansi Islam harus diberlakukan menurut konsep biaya historis seperti dalam akuntansi konvensional. Ada beberapa pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh murabih, seperti pekerjaan manajemen murabahah, dan menurut perspektif akuntansi Islam, biaya-biaya tersebut merupakan biaya-biaya langsung yang tidak dipertimbangkan sebagai biaya operasi pembiayaan murabahah. Hal ini karena berhubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh murabih seperti penjelasan sebelumnya.
Studi lain (Al-Galaf, 1996, 29-30) menjelaskan bahwa biaya-biaya lain yang terkait yang dapat dibebankan pada biaya awal murabahah, meliputi :
1. Biaya langsung industri.
2. Biaya langsung penjualan.
3. Biaya langsung manajerial.
 
Studi ini mengabaikan biaya-biaya tidak langsung tersebut belum tentu benar karena seperti sebelumnya disebutkan beberapa biaya tidak langsung ada yang dapat dan tidak dapat dibebankan pada biaya awal operasi pembiayaan murabahah. Studi lain (Shahata, 1990, 132-135) menjelaskan tentang biaya-biaya lain yang terkait apa saja yang seharusnya dan tidak seharusnya dibebankan ke biaya awal operasi pembiayaan murabahah.
1. Biaya-biaya lain yang terkait dengan biaya awal operasi pembiyaaan murabahah dan seharusnya dibebankan adalah :
a. Biaya-biaya langsung pada kondisi dimana biaya-biaya tersebut dibayar atau akan dibayar dan berlawanan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh bagian lain kecuali murabih sendiri.
b. Macam-macam biaya tidak langsung pada kondisi biaya-biaya meningkatkan nilai produk dan telah dibayarkan.
2. Biaya-biaya lain yang terkait dengan biaya awal operasi pembiayaan murabahah dan tidak seharusnya dibebankan adalah :
a. Biaya-biaya yang berhubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh murabih sendiri, seperti : biaya manajemen umum atau biaya manajemen murabih.
b. Biaya-biaya untuk pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh murabih sendiri.
c. Biaya-biaya untuk pekerjaan yang dilakukan oleh pihak lain dan tidak meningkatkan nilai produk.
d. Biaya-biaya umum selama alokasinya tergantung pada estimasi dan perkiraan.
FAS-IBFI (Financial Accounting Standard for Islamic Bank andFinancial Instituion) menjelaskan bahwa pengukuran pembiayaan murabahah seperti akuisisi produk (aset) murabahah oleh bank Islam harus mengikuti ketentuan :
  1. Dalam kasus murabahah kepada pemesan pembelian yang diwajibkan untuk memenuhi janjinya. Barang-barang yang tersedia untuk penjualan setelah akuisisi akan diukur pada biaya historisnya. Dalam kasus ini dimana penurunan nilai barang di bawah biaya akibat kerusakan atau dari keadaan yang tidak menguntungkan, seperti penurunan yang dinyatakan dalam nilai akhir barang pada akhir periode laporan keuangan.
  2. Pada kasus murabahah atau murabahah kepada pemesan pembelian yang tidak memenuhi kewajibannya. Ketika bank Islam menemukan adanya indikasi kemungkinan tidak tertutupnya biaya barang-barang yang tesedia.
FAS-IBFI mengabaikan analisa tipe-tipe biaya-biaya lain yang terkait secara langsung maupun tidak langsung yang seharusnya dibebankan kepada biaya awal operasi pembiayaan murabahah. Dan fokus mereka hanyalah pada perlakuan biaya awal pembiayaan murabahah dan dalam kasus jika pemesan pembelian wajib memenuhi janjinya atau tidak.
Jelas bahwa praktek-praktek bank tersebut sesuai dengan pandangan ahli khususnya madhab Hanafi, yang merujuk pada persetujuan (al-urf) (Omar, 1987, 155). Hasil dari pembahasan sebelumnya bahwa isu yang paling penting adalah untuk membuat suatu pengukuran yang unik dan formal yang harus diterapkan oleh semua bank Islam. Menurut pendapat-pendapat sebelumnya, biaya-biaya lain yang terkait yang dapat dibebankan ke dalam biaya awal harus berada dalam batasan-batasan berikut :
  1. Biaya langsung apapun yang menghasilkan peningkatan nilai produk (aset) murabahah dan dibayar oleh bank Islam seperti biaya transportasi, biaya pengiriman, komisi pembelian, biaya cukai, biaya manajerial langsung, dll. Semua ahli setuju dengan hal itu.
  2. Biaya tidak langsung dapat dibebankan ke dalam biaya awal operasi murabahah dalam dua kondisi berikut: (1) harus dibayar, (2) harus meningkatkan nilai produk. Semua ahli setuju dengan hal ini, kecuali madhab Al-Maliki yang menyatakan bahwa tidak diperbolehkan untuk membebankan biaya awal dengan biaya tidak langsung apapun yang berkaitan dengan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh murabih tetapi dilakukan oleh pihak lain, meskipun dibayar untuk itu, karena itu merupakan kewajiban dari murabih untuk melakukan pekerjaan tersebut.
  3. Biaya apapun yang berkaitan dengan kerja atau jasa amal tidak boleh dibebankan kepada biaya awal barang murabahah. Semua ahli setuju dengan itu.
  4. Semua biaya tidak langsung, yang tidak meningkatkan nilai dari produk tidak boleh dibebankan pada biaya awal. Semua ahli setuju dengan itu.
  5. Tidak diperbolehkan untuk membebankan biaya operasi murabahah dengan biaya operasi apapun yang berkaitan dengan bank Islam seperti gaji, depresiasi, upah, alat tulis, dll. Semua biaya ini harus dipotong dari bagian bank Islam dari laba murabahah.
  6. Tidak diperbolehkan untuk membebankan biaya operasi murabahah kepada kerugian apapun yang berkaitan dengan aktivitas bank Islam atau kerugian apapun yang berkaitan dengan barang murabahah seperti penalti, kompensasi yuridis, karena semua biaya tersebut berkaitan dengan tanggung jawab bank Islam.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top