Sabtu, 16 Mei 2015

Urgensi Pesantren Kilat dalam pendidikan

Pesantren kilat yang boleh diselenggarakan oleh siapa saja saat ini kadang menimbulkan banyak pertanyaan pada masyarakat, apa tujuan yang hendak dicapai penyelenggara dalam waktu singkat yang berkisar antara 2 hari sampai satu minggu atau bahkan selama 1 bulan penuh. Jangan sampai penyelenggara hanya mengedepankan unsur bisnis semata. Bagi sekolah umum yang tanpa pendidikan agama secara khusus, pesantren kilat bagus untuk pengenalan dasar keagamaan dan harus dilanjutkan dengan pola didik keagamaan oleh orang tua di rumah dan fihak sekolah. Sedangkan pada sekolah terpadu yang memang berbasis agama dalam kurikulumnya, pesantren kilat dipandang tidak terlalu dibutuhkan karena sudah dikemas dalam kurikulum. (Riri Wijaya, 2008: 1)
 
Untuk tingkat TK kah, SMP, SMA, atau umum. Untuk anak-anak alangkah lebih baiknya kalau pengenalan terhadap agama dilakukan juga dalam permainan edukatif seperti mengenal ciptaan Allah yang ada di sekitar, beragam nikmatnya dll. Ada hal menarik yang disoroti, adanya pesantren kilat lansia di Jogjakarta. Hal ini bermanfaat untuk membimbing mereka lebih dekat dengan sang pencipta walaupun isi dari materi yang disampaikan kadang belum tentu dapat mereka serap dengan sempurna. Hal ini bisa dikembangkan untuk wilayah lain di Indonesia.
 
Selanjutnya penulis menyoroti bahwa pentingnya bimbingan pada anak. Dimana pada usia dini mereka belum dapat mempertanggungjawabkan perilaku dan pengetahuannya. Disinilah peran orang tua untuk membimbing dan mengarahkannya. Dua hal yang mungkin dilakukan anak bersikap positif atau sebaliknya. Orangtua bisa memberikan penghargaan berupa pelukan, ciuman, ucapan terimakasih dan pujian ketika anak bisa menjaga perilaku positifnya sehingga terbangun rasa percaya diri yang kuat pada anak, dan cobalah untuk mengabaikan perilaku anak yang walaupun kurang baik namun tidak membahayakan seperti makan berceceran, atau merajuk ketika menginginkan sesuatu. Sementara jika perilaku anak mengarah pada hal berbahaya seperti memanjat dinding rumah, smack down, bermain api dan lain sebagainya, orangtua harus mengalihkan perhatian anak untuk menghentikan kenakalannya. Menjadi sangat menarik jika kita berbicara tentang anak, karena pada dasarnya mereka adalah harta yang tak ternilai harganya.
Pelaksanaan Pesantren Kilat yang dilaksanakan setiap bulan Ramadhan oleh setiap sekolah-sekolah hendaknya lebih ditekankan ke dalam aplikasi sehari-hari bagi para siswa-siswa.
Hal tersebut dikatakan Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Kabid Urais) Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Riau Drs.H.Asyari Nur, SH.MM kepada Ragam Info ketika ditemui diruang kerjanya, Jum’at (21/9). 
Menurut Asyari Nur, pelaksanaan Pesantren Kilat yang dilaksanakan oleh sekolah-sekolah pada bulan Ramadhan merupakan hal yang positif. Terutama dalam memberikan bekal pengetahuan Agama Islam kepada para siswa dan siswi.
Ia mengatakan, kesan spritual yang tumbuh pada anak saat mengikuti Pesantren Kilat terutama di bulan Ramadhan ini akan tertanam di jiwa para anak-anak atau siswa-siswi.
 
Hanya saja kata Asyari Nur, kesan pelaksanaan Pesantren Kilat itu hanya dalam kerangka teori saja. Artinya hasil dari Pesantren Kilat ini tidak teraplikasi terutama dalam kehidupan sehari-hari para siswa-siswi tersebut.
Untuk itu, ia mengharapkan Pesantren Kilat ini lebih ditekankan lagi kepada aplikasi dari kegiatan itu. Hal itu agar hasil dari kegiatan Pesantren Kilat ini betul-betul terasa dan meresap kedalam jiwa para peserta pesantren kilat ini.
Ia mencontohkan, agar kegiatan Pesantern Kilat itu betul-betul teraplikasi kepada peserta, maka cara yang dilakukan adalah dengan melibatkan langsung dalam prakteknya. Misalnya, setelah Pesantren Kilat selesai langsung dilakukan shalat dengan berjamaah.
 
Kemudian, melibatkan langsung para siswa untuk melakukan kegiatan bakti sosial dan lainnya. Kegiatan itu bisa dengan cara melibatkan para siswa mengumpulkan sumbangan dari teman-temannya kemudian menyerahkannya langsung kepada yang menerima.
Hal tersebut bisa dilakukan pihak sekolah dalam hal ini para guru pembimbingnya mengkoordinir siswa untuk menyerahkan langsung kepada panti Asuhan. “Dalam menyerahkan ini siswa ini diajak langsung untuk berkunjung ke panti Asuhan itu,” ujarnya.
 
Dengan melakukan hal ini, para siswa akan merasakan langsung dan terlibat dalam kegiatan ini. Dengan terlibat langsung ini juga, kesan yang dirasakan akan bisa langsung tertanam dalam jiwa siswa-siswi ini. “Inilah aplikasi yang ditekankan dalam kegiatan ini. Jadi tidak hanya mendengarkan teori saja,” tambahnya.
Tempat untuk mengadakan pesantren kilat tidak hanya dilaksanakan di dalam gedung-gedung sekolah atau ruang masjid tetapi ada juga yang mengadakan pesantren kilat di ruang terbuka, seperti pegunungan dan di padepokan-padepokan taman wisata yang jauh dari kerumunan orang-orang banyak yang tujuan utamanya adalah supaya bisa khusyuk dan serius dalam menjalankan ibadah. (Gus Mus, 2005: 2)
 
Pesantren kilat umumnya dilaksanakan selama satu atau dua minggu pada awal bulan ramadhan. Materi yang diberikan pada pesantren kilat biasanya kegiatan-kegiatan yang bernafaskan rohani dan pendalaman ilmu-ilmu agama, misalnya membaca Al-Qur’an, praktik wudlu, shalat, tayamum, adzan, menghafal surat-surat pendek dan ayat-ayat pilihan, doa-doa, mendengarkan ceramah, dan berdiskusi tentang keislaman. Tetapi pada akhir-akhir ini, materi pesantren kilat tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu religius tetapi juga ada materi-materi umum seperti, psikologi yang menenkankan pentingnya mengetahui siapa manusia itu sebenarnya dan bagaimana harus berintraksi antara satu dengan yang lain, outbound atau permainan di luar ruangan, pentas musik, pentas teater, dan sebagainya. (Gus Mus, 2005: 3)
 
Misalnya saja pesantren kilat yang dilaksanakan oleh RISKA (Remaja Islam Sunda Kelapa) yang dilaksanakan di daerah Cisalak, Bogor, Jawa Barat. Dengan bertempat di alam terbuka peserta diharapkan bisa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan merenungkan ciptaan-Nya. Pesantren kilat yang laksanakan oleh RISKA tidak hanya diisi materi-materi agama tetapi peserta juga akan diajak untuk mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (LP) khusus wanita di Tangerang.
 
Manfaat mengikuti pesantren kilat adalah selain mendapatkan ilmu agama dan dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusus juga memperoleh banyak pengalaman berharga misalnya, berlatih mandiri, rasa sosial dan setia kawan jadi lebih meningkat, serta memupuk rasa kebersamaan. (Gus Mus, 2005: 5)
Pesantren kilat tampaknya dapat dijadikan alternatif pendidikan islami bagi siswa sekolah umum di kota-kota besar yang relatif kurang mendapatkan pelajaran keagamaan. Pesantren kilat selama bulan Ramadhan diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan para siswa sekolah serta menanamkan kepedulian sesama. Akan lebih baik lagi bila para pengelola pondok pesantren juga pro aktif menyelenggarakan pesantren kilat bagi para siswa sekolah umum selama bulan ramadhan sehingga para siswa sekolah umum di kota-kota besar dapat menyelami kehidupan asrama (mukim) di pesantren yang sarat dengan nilai kebersamaan dan kebersahajaan.
 
Pesantren kilat yang diselenggarakan langsung oleh Pondok Pesantren yang sehari-hari memang menyelenggarakan pendidikan keagamaan diharapkan dapat memberikan pemahaman keislaman yang menyeluruh (kaffah) dan tidak instant sehingga para siswa sekolah umum dapat memahami substansi ajaran agama dan tidak tejebak pada simbolisme agama yang seringkali bermuara pada ekstrimisme, radikalisme dan anarkisme. Kita tentunya prihatin dengan kecenderungan ekstrimisme dan radikalisme yang melanda kaum muda pelajar dan mahasiswa di sekolah dan kampus umum yang salah satunya disebabkan pemahaman agama yang simbolik dan instant. (Gus Mus, 2005: 7)
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top