Sabtu, 16 Mei 2015

Tujuan Pendidikan Karakter

Sebagai aspek kepribadian, karakter merupakan cerminan dari kepribadian secara utuh dari seseorang: mentalitas, sikap dan perilaku. Pendidikan karakter semacam ini lebih tepat sebagai pendidikan budi pekerti. Pembelajaran tentang tata-krama, sopan santun, dan adat-istiadat, menjadikan pendidikan karakter semacam ini lebih menekankan kepada perilaku-perilaku aktual tentang bagaimana seseorang dapat disebut berkepribadian baik atau tidak baik berdasarkan norma-norma yang bersifat kontekstual dan kultural.

Pentingnya pendidikan karakter untuk dikembangkan dan diinternalisasikan, baik dalam dunia pendidikan formal maupun dalam pendidikan non formal.

Asep Barhia (2012:27) beralasan pendidikan karakter mempunyai tujuan mulia karena memiliki manfaat serta tujuan yang cukup mulia bagi bekal kehidupan peserta didik agar senantiasa siap dalam merespon segala dinamika kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab pendidikan formal tetapi semua stakeholder pendidikan harus terlibat dalam rangka mengembangkan pendidikan karakter ini, bahkan pemangku kebijakan harus menjadi teladan terdepan. Hal ini sependapat dengan Doni (2007:135), dengan menempatkan pendidikan karakter dalam rangka dinamika dan dialektika proses pembentukan individu, para insane pendidik, seperti guru, orang tua, staf sekolah, masyarakat dan lain-lain, diharapkan semakin menyadari pentingnya pendidikan karakter sebagai sarana pembentuk pedoman prilaku, pengayaan nilai individu dengan cara memberikan ruang bagi figur keteladanan bagi anak didik dan mencipatakan sebuah lingkungan yang kondusif bagi proses pertumbuhan berupa kenyamanan, keamanan yang membantu suasana pengembangan diri satu sama lain dalam keseluruhan dimensinya.

Satu hal yang harus diperhatikan sebuah lembaga pendidikan untuk merealisasikan pendidikan karakter ini adalah membuat visi sekolah yang jelas. Karena, visi sebuah lembaga pendidikan menurut Aqib (2011:47) akan menentukan sejauh mana program pendidikan karakter itu berhasil diterapkan di dalam lingkungan sekolah. Melalui visi ini, sekolah-sekolah memberikan sebuah lingkungan yang nyata dimana idealisme dan cita-cita secara kongkrit menjadi pedoman prilaku, sumber motivasi sehingga setiap individu di lembaga itu semakin tumbuh secara utuh dan penuh. Pendidikan karakter yang memiliki basis dasar pendekatan nilai-nilai ini, dengan adanya visi lembaga pendidikan akan menjadi contoh nyata sebuah sikap hidup berdasarkan nilai-nilai ideal.

Di saat stakeholder telah serempak memiliki tujuan jelas secara komprehensif untuk mengembangkan karakter individu peserta didik di sekolah, dengan visi misi yang jelas pula, maka tujuan dari pendidikan karakter akan mudah direalisasikan, yaitu membentuk manusia seutuhnya (insankamil).

Tujuan pertama pendidikan karakter menurut Dharma dkk (2011:9) adalah memfasilitasi pengetahuan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam prilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah proses sekolah (setelah lulus dari sekolah).

Pengetahuan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan dalam seting sekolah bukanlah suatu dogmatisasi nilai kepada peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam prilaku keseharian manusia, termasuk bagi anak. Penguatan juga mengarahkan proses pendidikan pada proses pembiasaan yang disertai oleh logika dan refleksi terhadap proses dan dampak dari proses pembiasaan yang dilakukan oleh sekolah baik dalam seting kelas maupun sekolah. Penguatanpun memiliki makna adanya hubungan antara penguatan prilaku melaui pembiasaan di sekolah dengan pembiasaan di rumah.

Pustaka.
-
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top