Sabtu, 09 Mei 2015

Permasalahan dan Tantangan Penanggulangan Terorisme di Indonesia

Adapun permasalahan dan tantangan penanggulangan terorisme yang ada di Indonesia antara lain :
A) Peraturan perundang-undangan tentang terorisme, antara lain :
  1. Peraturan pemerintah pengganti UU RI No. 1 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme yang kemudian dirubah menjadi UU No. 15 tahun 2003 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-undang No. 1 tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, menjadi Undang-undang.
  2. PP pengganti UU Republik Indonesia No. 2 tahun 2002 tentang pemberlakuan peraturan pemerintah pengganti UU Republik Indonesia No. 1 tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, pada peristiwa peledakan bom di Bali tanggal 12 Oktober 2002. Perpu ini kemudian dirubah, menjadi UU No. 16 tahun 2003 tentang penetapan PP pengganti UU No. 2 tahun 2002 tentang pemberlakukan PP pengganti UU No. 1 tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, pada peristiwa peledakan bom di Bali tanggal 12 Oktober 2002, menjadi Undang-undang UU No. 15 tahun 2003 dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi setelah diadakan Judicial Review.
  3. PP No. 24 tahun 2003 tentang Tata cara perlindungan terhadap saksi, penyidik, penuntut umum dan Hakim dalam perkara tindak pidana terorisme.
  4. Instruksi Presiden No. 4 tahun 2002 tanggal 22 Oktober 2002.
  5. Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 5 tahun 2002 tanggal 22 Oktober 2002
B) Kebijakan pemerintah Amerika Serikat
Pasca tragedi peledakan World Trade Center (WTC) dan Pentagon pada tanggal 11 September 2001 Amerika Serikat secara gencar mengkampanyekan perang melawan terorisme. Beberapa kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang dianggap tidak adil oleh negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam antara lain : (a) Dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dalam penyelesaian konflik antara Palestina dengan Israel; (b) Invasi Amerika Serikat ke Irak dan Afghanistan dengan alasan senjata pemusnah yang dimiliki oleh Irak dan pencarian Osama Bin Laden di Afghanistan; dan (c) Intervensi Amerika Serikat terhadap negara-negara yang dianggap sebagai sarang teroris.C) Aspek Sentimen Agama
Menurut Samuel Huntington menyatakan bahwa sumber konflik di dunia di masa yang akan datang bukan lagi berupa idiologi ataupun ekonomi akan tetapi bersumber dari peradaban budaya

C) Konflik bernuansa agama.
Konflik bernuansa agama yang terjadi di Ambon dan Poso belum dapat diselesaikan secara tuntas oleh pemerintah Indonesia

D) Kondisi ekonomi Indonesia.
Krisis ekonomi Indonesia pada tahun 1997 dan sampai saat ini pemerintah Indonesia belum dapat mengatasi krisis ekonomi dan bahkan menjadi krisis multi dimensi, termasuk ketidakstabilan politik dan supremasi hukum. Dalam perspekstif mereka (pelaku teroris), lebih baik mencari surga daripada hidup dalam kemiskinan. Mereka selalu diiming-imingi reward yang indah setelah mati.

E) Kelompok Islam garis keras.
Gerakan Islam di Indonesia banyak dipengaruhi oleh Islam gerakan internasional yang radikal antara lain : Ihkwanul Muslimin. Jamaah Tabligh, Salafi, dan lain-lain.
Menurut Achmad Jainuri, terdapat tiga aspek tujuan terorisme, yaitu : perang melawan ketidakadilan, penindasan dan fitnah. Dalam konteks tersebut, perang itu ditujukan kepada Barat. Banyak kaum muslimin kecewa kepada elit poltiknya. “ Kaum radikalis kemudian menuduh penguasa muslim sebagai boneka Barat”.
Selaras dengan pendapat Achmad Jainuri, Achmad Mubarok mengemukakan bahwa syahid-syahadah adalah konsep kematian sebagai bukti atas komitmen kepada Tuhan. Nabi berkata : Hiduplah sebagai orang terhormat atau matilah sebagai syahid, ‘isy kariman aw mut syahidan. Mati syahid menarik hati para mujahid karena Alqur’an menjanjikan kehidupan yang lebih baik, dan rizki yang lebih baik, bahkan hakikatnya tidak mati (Q/3:169). Bagi mujahid yang kehidupan ekonominya susah seperti Amrozi, mati syahid merupakan tawaran yang menarik secara psikologis.

F) Konsep Jihad.
Dikalangan umat Islam terjadi perbedaan pendapat tentang konsep Jihad. Konsep Jihad telah digunakan oleh pejuang-pejuang Islam untuk merasionalisasikan tindakan terorisme dalam rangka ekspansi politik maupun mempertahankan politik Islam.
Achmad Mubarok mengemukakan bahwa salah satu ayat Alqur’an yang memerintahkan berjihad dalam arti perang fisik justru menggunakan kata qital (Q/22:39), dan bukan jihad. Psikologi mujahid yang dalam posisi terdesak selalu terobsesi untuk berjihad dalam arti qital dan melupakan jihad dalam pengertian yang lebih luas (jihad fisabililah). Daya tarik psikologis jihad dalam arti qital antara lain adalah mati sebagai syahid. Dikemukakan lebih lanjut bahwa jihad mempunyai korelasi signifikan dengan marah. Marah membuat orang berfikir tidak teliti, berbuat dan berkata tidak pada tempatnya (tidak adil). Oleh karena itu Nabi selalu berpesan Laa Taghdlab (jangan marah). Marah akan mengubah makna jihad menjadi sesat, dari kemuliaan menjadi kehinaan.
Sedang menurut Hasyim Muzadi yang mengutip Surat Al An’am Ayat 108 yang berbunyi :” Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah (selain Allah), karena dengan melakukan itu mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan …”. Ditegaskan lebih lanjut bahwa tidak ada satu pun ayat dalam Alquran yang menghalalkan terorisme, apalagi dengan dalih jihad.

G) Heterogenitas sistem sosial Indonesia
Sistem sosial di Indonesia sangat heterogen baik secara vertikal maupun horizontal. Kondisi seperti ini merupakan suatu kekayaan, akan tetapi juga merupakan potensi konflik yang potensial. Selain latar belakang agama Islam yang dipeluk sebagian besar rakyat Indonesia, faktor geografis berpengaruh. Luas wilayah dan bentangan pulau-pulau Indonesia, sangat menguntungkan aksi terorisme. Sebab, mobilitas mereka akan sangat sulit dideteksi. Selain itu, beragam fasilitas Amerika Serikat banyak di Indonesia dan menjadi target. Hal ini lebih terkondisikan karena kemampuan aparat kita juga terbatas.

Pustaka.

Achmad Jainuri, 15/10/2006, Janji Surga di Tengah Kemiskinan, Jawa Pos, Surabaya
Achmad Mubarok, (tanpa tahun), Pencegahan Terorisme Dengan Pendekatan Islamic Indigenous Psychology
Muzadi, 01/12/2005, Tak Ada Ayat Halalkan Terorisme, Suara Merdeka, Semarang
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top