Sabtu, 16 Mei 2015

Partisipasi Guru Agama dalam Penyelenggaraan Pesantren Kilat

Kata pesantren identik dengan sebuah lembaga pendidikan Islam tempat para santri menimba ilmu. Di sana ada bilik-bilik kecil tempat para santri tinggal dan tidur di dalamnya. Pesantren merupakan kawah candra dimuka tempat para santri digembleng menjadi manusia yang alim, shalih, dan berkesadaran tinggi tentang hakikat kehambaannya.
Seiring dengan perkembangan zaman, kata pesantren kemudian diadopsi dan digabungkan dengan kata lain sebagai ungkapan untuk memaknai inti kegiatan, yaitu pesantren kilat (Peskil atau Sanlat).
Bahwa kegiatan yang biasanya dilakukan di pesantren ini dilakukan di berbagai tempat yang tujuannya menimba ilmu dan pengalaman seperti yang biasa dilakukan di pesantren. Beberapa tahun terakhir, kegiatan ini cukup populer digelar oleh satuan pendidikan (sekolah) dari tingkat SD sampai SMA.
Istilah pesantren kilat ini sudah sangat populer di lingkungan sekolah, dan telah menjadi bagian dari program ekstrakurikuler pendidikan agama di sekolah sejak lama. Istilah tersebut digunakan karena suasana pesantren yang berlangsung di sekolah hanya sebentar, kurang lebih satu minggu. Tujuan dari keberadaan pesantren kilat ini adalah memberikan tambahan pendidikan Islam pada murid-murid sekolah, terutama karena kurangnya waktu pendidikan agama yang disediakan dalam kurikulum sekolah.
Dalam pesantren kilat ini biasanya para siswa diajarkan berbagai pengetahuan agama Islam, dan belajar membaca Alquran. Pelaksanaan pesantren kilat biasanya pada hari libur sekolah dengan mengambil tempat yang berbeda-beda. Sebagian sekolah mengambil tempat di sekolah sendiri, sebagian lagi mengambil tempat di luar sekolah seperti di hotel, balai diklat, di kapal dan lain-lain. Meskipun pesantren kilat ini hanya berlangsung beberapa hari, para siswa tidak hanya belajar ilmu pengetahuan agama tetapi juga belajar mengamalkan ritual secara teratur seperti sholat berjamaah selama lima waktu, dan belajar bergaul dalam lingkungan komunitas terbatas. Tentu saja, semakin sering pesantren kilat dilaksanakan di sekolah akan semakin tinggi kemungkinan pendidikan agama Islam memiliki dampak positif terhadap keberagamaan siswa sekolah.
Seturut perjalanan waktu, istilah peskil atau sanlat juga mendapat sorotan secara kebahasaan. Bagi sebagian orang, istilah bukanlah hal esensial yang mesti diperdebatkan. Namun, bagi sebagian yang lain, istilah amatlah bermasalah. Pesantren kilat, oleh mereka, dimaknai mempelajari dan mendalami ilmu agama secara kilat (cepat). Dari situlah timbul kekhawatiran, spirit peskil akan cepat menguap bersamaan berakhirnya acara.
Partisipasi guru, khususnya guru agama dalam kegiatan pesantren kilat sangat penting mengingat kenyataan yang memprihatinkan akibat arus modernisasi yang kian tak terbendung. Modernisasi merupakan keniscayaan yang harus dihadapi siapa pun. Namun, bukan berarti modernisasi harus kita biarkan berjalan tanpa pengawalan. Tawuran remaja, persentuhan dengan narkoba, hubungan bebas, kriminalitas remaja, dan sebagainya, adalah bukti nyata betapa dahsyat dampak modernisasi yang berjalan tanpa kawalan ketat.
Dengan kegiatan inilah diharapkan pengetahuan keagamaan siswa kian menyamudera dan kesadarannya untuk menghamba kepada Sang Maha Agung semakin tebal. Dalam konteks keimanan dan ketakwaan, pesram amat membantu membentuk dan memperkokoh pondasi keimanan siswa.
Di antara tujuan digelarnya pesantren kilat, pertama, menumbuhkan ketabahan pribadi. Iman seseorang bisa naik dan turun (fluktuatif). Begitu juga ketabahan siswa bisa naik dan turun. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa mempunyai ketabahan dalam menghadapi beratnya hidup.
Kedua, menyehatkan jasmani. Melalui pesram, siswa lebih aktif dalam beragam kegiatan sehingga membuatnya semakin sehat. Apalagi setiap pagi hari mereka dikondisikan dengan aneka kegiatan olah raga dan penyuluhan kesehatan. Selama puasa mereka dilatih pula bagaimana pola makan yang baik pada saat buka puasa dan sahur.
Ketiga, menumbuhkan kesabaran. Kesabaran perlu dilatih. Untuk melatih dan menumbuhkan kesabaran di kalangan siswa salah satunya dengan pola hidup gaya pesantren yang memang terkenal dengan aktivitas riyadlah-nya (tirakat). Dengan demikian, mereka akan benar-benar menghayati makna syukur atas kenikmatan yang dirasakannya selama ini.
Keempat, latihan berserah diri kepada Allah. Manusia tidak mempunyai daya dan kekuatan tanpa pertolongan dari Allah SWT. Siswa harus berserah diri kepada Yang Mahakuasa, yakni Allah SWT.
Kelima, menumbuhkan kerinduan kepada surga. Pada waktu pesram, siswa diperkenalkan berbagai aktivitas ukhrawi yang menjanjikan kenikmatan surga, seperti tahajjud, zikir, membaca Alquran, dan sebagainya.
Di sinilah letak betapa pentingnya partisipasi guru agama dalam penyelenggaraan pesantren kilat, agar ketercapaian tujuan pengajaran agama di sekolah mestinya berdampak positif pada sikap siswa. Bahkan, jika siswa memahami dengan keyakinan yang penuh dan berpegang teguh pada kebenaran nilai-nilai agama, mereka akan merasa miris melakukan perbuatan tidak terpuji, karena berarti melakukan pengkhianatan terhadap amanah yang diemban dari orang tua, lingkungan, dan Sang Pencipta. Berkomitmen dengan agama semestinya berimplikasi pada ketidakberanian bolos sekolah, membuang sampah sembarangan, berbuat amoral, dan perbuatan tidak terpuji lainnya.
Sayangnya, sering kali kita temukan pengajaran agama masih bersifat rutinitas ritual yang usang, tidak segar, dan tidak menarik.
Padahal mengajar agama dengan cara menarik menjadi penting baik bagi guru maupun siswa. Dan, pesantren kilat dapat menjadi alternatif metode pendidikan yang menyenangkan.
Sebagai wahana pendidikan kancah disiplin, para siswa pun diatur dengan kegiatan dari mulai bangun tidur, salat malam, tadarus Al Quran, olah raga, menjaga lingkungan, makan, belajar, dan berbagai kegiatan lain yang dilakukan secara bersama-sama. Dalam proses pembelajaran materi agama, pesantren kilat lebih cenderung pada aspek esoteris yang sangat memerhatikan nilai-nilai ilahiah dan insaniah.
Belajar agama di pesantren kilat berbeda dengan suasana pembelajaran agama di sekolah yang standar keberhasilannya bisa diukur dengan selembar kertas hasil ujian. Pesantren kilat, selama ini tidak memiliki ukuran, namun yang terpenting setelah mengikuti pelatihan, siswa mengalami perubahan positif dalam hidupnya.
Saat ini banyak permasalahan yang menjadi sorotan kepada lembaga pendidikan karena sekolah sebagai soko guru. Untuk itulah dengan adanya pesantren kilat yang dilaksanakan di bulan suci Ramadhan maka diharapkan dapat membuat insan pendidikan menjadi lebih baik. Paling tidak segala iri dan dengki dapat dihilangkan dengan adanya kegiatan ini. Terutama kepada para guru, mereka harus dengan tulus ikhlas menyampaikan ilmu insya Allah akan diberikan rahmat kepada kita. Dengan pesantren kilat diupayakan meningkatkan kesabaran dan keimanan guru dan murid sehingga masyarakat pun dapat mendukung kegiatan pendidikan yang dilaksanakan.
Pesantren kilat yang dilaksanakan tiap sekolah baik tingkat SMP, SMA ataupun SMK merupakan suatu program kegiatan yang sangat bermanfaat. Daripada murid keluyuran selepas jam sekolah, lebih baik diisi dengan hal-hal yang bermanfaat seperti agenda kegiatan dalam pesantren Ramadhan. Apalagi dalam setiap kegiatan pesantren Ramadhan banyak acara yang digelar yang sangat besar nilainya terhadap pembentukan iman siswa. Sebut saja beberapa kegiatan yang rutin dilaksanakan dalam program pesantren kilat seperti zikir, taubat, tadarusan, simulasi, ISQ dan sebagainya. Selain itu siraman pengetahuan yang disesuaikan dengan kaidah dan syariat Islam seperti bagaimana pergaulan remaja yang sesuai dengan Islam, bagaimana berpacaran ala Islam, dan sebagainya.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top