Sabtu, 09 Mei 2015

Definisi dan Pengertian Terorisme Serta Sejarah Terorisme Global dan Regional

Pengertian atau definisi secara baku terorisme sampai saat ini masih belum ada dan terus berkembang. Menurut Mark Juergensmeyer, terorisme berasal dari bahasa latin, Terrere yang berarti menimbulkan rasa gemetar dan rasa cemas. Sedang dalam bahasa Inggris to terrorize berarti menakuti-nakuti. Terrorist berarti teroris, pelaku teroris. Terrorism berarti membuat ketakutan, membuat gentar. Terror berarti ketakutan atau kecemasan.

MB Ali dan T Deli mengemukakan bahwa teror berarti perbuatan kejam / sewenang-wenang. Sedangkan terorisme berarti tindakan-tindakan teror . Sedangkan Anton Tabah dalam bukunya Menangani Kasus-kasus Bom Di Indonesia (2005:vii) menyatakan bahwa teror adalah kata sifat yang menggambarkan rasa takut luar biasa. Tak ada lagi jaminan keamanan (security), tak ada lagi jaminan keselamatan (safety), tak ada lagi jaminan hukum (legality). Rasa takut luar biasa itu menembus batas, ruang dan waktu.
Sedang pengertian lain sebagaimana dijelaskan dalam Forum Keadilan (29 Nopember 2002), yang mengatakan bahwa teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian atau kekejaman oleh seseorang, kelompok atau golongan.

Terorisme menurut Wilkinson adalah aksi teror yang sistematis, rapi dan dilakukan oleh organisasi tertentu . Disamping itu menurut Konvensi PB tahun 1937 menyatakan bahwa terorisme adalah segala bentuk tindakan kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas .
Dengan demikian definisi terorisme yang penulis simpulkan sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menyebutkan bahwa terorisme merupakan tindak pidana yang didefinisikan sebagai kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas umum atau fasilitas internasional.

Sejarah Terorisme Global dan Regional

Abdul Qadir Djaelani menyebutkan bahwa aksi terorisme sudah berlangsung sejak era Yunani Kuno. Sejarawan Yunani, Xenophon (430-349 SM), pernah mengulas tentang manfaat dan efektivitas perang urat syaraf untuk menakut-nakuti musuh. Tetapi sulit diketahui, kapan aksi teror mulai dilakukan. Ada yang berpendapat, aksi teror seusia dengan sejarah peradaban manusia sendiri. Bahaya terorisme pun berkembang semakin kompleks seiring dengan kemajuan peradaban dan teknologi.
Adapun sejarah teroris dan terorisme secara kronologis populer sejak revolusi Perancis. Sistem atau rezim de la terreur pada 1793-1794 dimaknai sebagai cara memulihkan tatanan saat periode kekacauan dan pergolakan anarkis setelah peristiwa pemberontakan rakyat pada 1789. Jadi rezim teror ketika itu adalah instrumen kepemerintahan dari negara revolusioner.
Hal ini berlanjut sejak deklarasi Rosbespierre pada tahun 1794 ini nyaris sejiwa dengan komunike kelompok-kelompok seperti Brigade Merah Italia dan Faksi Tentara Merah Jerman : “ We want an order of things … in which the arts are an abdoment to the liberty that ennoblas them, and commerce the source of wealth for the public and not of onstrous apulence for a few families … In our country we desire morality instead of selfishmess, honesty and not mere “horror”, principle and not mere custom, duty and not mere propriety, the sway of reason rather than the tyrany of fashion, a scorn for vice and not a contempt for the unfortunate”.
Munculnya wacana nasionalisme dan kenegaraan (statehood) serta kewarganegaraan (citizenship) melahirkan negara-negara (nation state) baru seperti Jerman dan Italia. Sementara itu, perubahan sosial ekonomi akibat revolusi industri juga menciptakan ideologi-ideologi “universalis” baru seperti Marxisme dan komunisme. Era ini juga merupakan terorisme era baru kelanjutan dari terorisme era revolusi Perancis.
Titik balik perkembangan teror dan terorisme mulai muncul pertengahan abad ke-19 di Rusia ketika muncul organisasi Narodnaya Volya yang didirikan pada 1878 untuk menentang kekuasaan Tsar dengan pimpinan antara lain Mikhail Bakuin. Apatisme dan keterasingan massa Rusia merupakan modal bagi organisasi ini untuk melakukan aksi-aksi kekerasan dramatis dalam rangka menarik perhatian khalayak.
Dialektika perkembangan terorisme semakin menarik. Pada era Perang Dunia I, terorisme masih tetap memiliki konotasi revolusioner. Pada tahun 1880-an dan 1980-an, gerakan nasionalis Armenia militan di Turki Timur melancarkan strategi teroris untuk melawan kekuasaan Ottoman. Taktik inilah kemudian diadopsi oleh gerakan-gerakan separatis pada pasca Perang Dunia II.
Pada pasca Perang Dunia II, terorisme kembali mengalami perubahan makna, dan mengandung konotasi revolusioner. Terorisme dipakai untuk menyebut revolusi dengan kekerasan-kekerasan oleh kelompok nasionalis anti kolonialis di Asia, Afrika dan Timur Tengah selama kurun 1940-an dan 1950 an.
Kemudian pada era tahun 1970-an, terorisme dipakai oleh penguasa diktator sebagai bentuk kekerasan seperti di Argentina, Chile dan Yunani (tahun 1970-an) atau di El Salvador, Guatemala, Colombia dan Pera sejak pertentangan 1980-an. Hal ini menjadikan berbagai kelompok seperti PLO, kelompok separatis Quebec FLQ (Front de Liberation du Quebec), Basque ETA (Euskadia ta Askatasuna atau kemerdekaan bagi negeri Basque) mengadopsi terorisme sebagai cara untuk menarik perhatian dunia, simpati internasional dan dukungan.
Pada 1980-an misalnya terorisme dianggap sebagai calculated means untuk mendestabilisasi barat yang dituduh ambil bagian dalam konspirasi global.
Pada awal tahun 1990-an pemakaian terminologi terorisme menjadi makin kabur lagi dengan munculnya istlah baru narco – terrorism”. Kelompok - kelompok teroris saat ini berinteraksi dengan sindikat - sindikat kriminal terorganisir, terutama dengan kartel - kartel perdagangan narkotika, penyelundupan, dan sebagainya.
Amerika Serikat juga menggunakan kata “terorisme” untuk perlawanan Palestina terhadap pendudukan militer Israel. Setelah hampir empat dekade pendudukan, Israel terus melanjutkan praktek-praktek kejam dengan dukungan diplomatik dan bantuan AS. Sulit disangkal bawa AS sangat berperan dalam menghalangi konsensus internasional penyelesaian damai Timur Tengah (Carey, 2000).
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa terminologi “terorisme” lebih bersifat ideologi “faktual”. Terorisme dengan mudah dibingkai sebagai “kekerasan politik dalam konflik ideologi”.

Pustaka.
S.Endriyono, 2005, Terorisme – Ancaman Sepanjang Masa, CV Media Agung Persada, Semarang,
MB Ali dan T Deli, 2000, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Penabur Ilmu, Bandung
Anton Tabah, 2005, Menangani Kasus-kasus Bom Di Indonesia, Cyntia Press, Jakarta
Facebook Twitter Google+

1 komentar:

Bagus dan bermanfaat untuk menambah pengetahuan, trima kasih.

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top