Minggu, 10 Mei 2015

Definisi dan Pengertian Sistem Ekonomi Islam

Sebenarnya tidak ada definisi ekonomi Islam baku yang digunakan sebagai pedoman umum yang menjadikan secara pasti. Beberapa ekonom Islam berusaha untuk mendefinisikan akan tetapi tidak lepas dari konteks permasalahan-permaslahan ekonomi yang mereka hadapi sehingga ada kesan telah terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan definisi ekonomi Islam. Yang dimaksud dengan sistem ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi yang dilaksanakan dalam praktek (penerapan ilmu ekonomi) sehari-harinya bagi individu, keluarga, kelompok masyarakat maupun pemerintah/penguasa dalam rangka mengorganisasi faktor produksi, distribusi, dan pemanfaatan barang dan jasa yang dihasilkan tunduk dalam peraturan-peraturan/perundang-undangan Islam (Sunnatullah). Sedangkan menurut Muhammad Abdul Manan mendefinisikan ekonomi Islam sebagai upaya untuk mengoptimalkan nilai Islam dalam kehidupan ekonomi masyarakat, ekonomi Islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh ekonomi Islam. Hal senada pula dengan M. M. Metwally mengatakan bahwa yang dimaksaud dengan ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku muslim (yang beriman) dalam suatu masyarakat yang mengikuti Al Quran , hadits nabi, ijma dan qiyas. Dengan demikian, sumber terpenting peraturan/perundang-undangan perekonomian Islam adalah Al Quran dan Sunnah. Namun, sangat disayangkan hingga saat ini belum ada satu literature yang mengupas tentang sistem ekonomi Islam secara menyeluruh. Memang, sudah agak lama umat Islam mengalami suatu penyakit pluralisme ekonomi (berada di tengah-tengah sistem ekonomi kapitalis dan sosialis).
Individualisme Fondasi Asas Kapitalis
Jiwa peraturan kapitalisme terlihat jelas pada egoisme, bebas menumpuk harta kekayaan, mengembangkannya dan membelanjakannya. Pemikiran yang berorientasi kepada individualisme sama sekali tidak memperhatikan kepentingan orang lain kecuali kalau ada manfaat yang dapat dipetiknya. Mereka tidak mementingkan kemaslahatan orang lain jika itu bertentangan dengan kemaslahatan pribadi. Sikap kapitalis ini tidak mementingkan apa dan siapa kecuali laba/keuntungan dalam jumlah besar. Segala cara digunakan untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Dalam kaum kapitalis, individu merupakan perputaran ekonomi. Individu adalah penggerak dan sekaligus tujuan akhir aktifitas ekonomi tersebut. Negara tidak berhak mengatur individu, bahkan Negara berhak memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada individu. Individu bebas melaksanakan aktivitas ekonomi dan berbuat sesuka hati, baik itu mendatangkan laba atau sebaliknya. Dalam sistem kapitalis, individu merasa memiliki harga diri dan eksistensi. Terbuka baginya jalan untuk mengembangkan bakat. Namun, dalam banyak hal, sistem kapitalis merupakan malapetaka bagi manusia.

Sosialisme Menolak Hak Individu
Jiwa peraturan sosialisme bertolak belakang dengan kapitalisme. Jiwa sosialisme bersikap buruk sangka terhadap individu. Kaum sosialis merampas segala hak pribadi demi mencapai kemaslahatan bersama, dalam hal ini Negara. Mengakui hak milik pribadi bagi kaum sosialis merupakan kezaliman dan penyimpangan sehingga harus diputus. Segala usaha yang mengarah kepada pengakuan hak milik pribadi harus di musnahkan, walupun dengan jalan kekerasan dan membangkitkan dengki. Dalam mencapai tujuannya, paham sosialis bersandar pada kekuasaan tepatnya kekuasaan Negara dan kediktaktoran pemimpin. Negara menurut paham sosialis merupakan pengerak dan kompas bagi perekonomian rakyat. Individu sama sekali tidak berperan dan tidak mempunyai andil dalam investasi harta Negara. Hal itu (pluralisme sistem ekonomi) muncul disebabkan oleh ketidakmampuan umat Islam melahirkan suatu konsep sistem ekonomi Islam (menggabungkan sistem ekonomi dengan syariat). Kondisi ini oleh Muhammad Syafi’i Antonio dilukiskan dengan mengemukakan, “disuatu pihak kita mendapat para ekonom, banker, dan usahawan yang aktif dalam menggerakan roda pembangunan ekonomi tetapi ‘lupa’ mambawa pelita agama karena memang tidak menguasai syariat terlebih lagi fiqih muammalah secara mendalam”. Di lain pihak, kita menemukan para kiai dan ulama yang menguasai secara mendalam konsep-konsep fiqih ulumul Quran dan disiplin lainya tetapi kurang menguasai dan mamantau fenomena ekonomi dan gejolak bisnis di sekelilingnya. Akibatnya ada semacam tendensi da kulla umariddunya lil qaisar wa fawwiddh kulla umuril akhirah lil baba (let’s everything related to the worldly matters to the king an religious matter to the pope) “biarlah kami mengatur urusan akhirat dan mereka urusan dunia. Padahal Islam adalah risalah untuk dunia dan akhirat”.

Asas Tatanan Ekonomi Islam : Pertengahan Dan Keseimbangan Yang Adil
Jiwa tatanan dalam Islam adalah keseimbangan yang adil. Hal ini terlihat jelas pada sikap Islam terhadap hak individu dan masyarakat. Kedua hak itu diletakan dalam neraca keseimbangan yang adil (pertengahan) tentang dunia dan akhirat, jiwa dan raga, akal dan hati, perumpamaan dan kenyataan. Islam juga bersikap ditengah-tengah (wasat) antara iman dan kekuasaan. Ekonomi yang moderat tidak menzalimi masyarakat khususnya kaum lemah sebagaimana yang terjadi pada masyarakat kapitalis. Islam juga tidak menzalimi hak indifidu sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum sosialis, terutama komunis, tetapi ditengah-tengah antara keduannya. Islam mangakui hak individu dan masyarakat, juga meminta mereka melaksanakan kewajiban masing-masing. Dengan demikian, Islam menjalankan peranannya dengan penuh keadilan serta bijaksana.

Ekonomi Bagian Dari Peraturan Islam
Ekonomi adalah bagian dari tatanan Islam yang perspektif. Islam meletakan ekonomi pada posisi tengah dan keseimbangan yang adil dalam bidang ekonomi, keseimbangan diterapkan dalam segala segi imbang antara modal dan usaha, antara produksi dan konsumsi, antara produsen perantara dan konsumen, dan antara golongan-golongan dalam masyarakat.
Norma menengah yang paling menonjol dalam lapangan perekonomian terletak pada dua sendi :
  1. Pemahaman Islam tentang kedudukan harta. Islam adalah agama tengah-tengah antara agama aliran dan filsafat yang menerangi segala bentuk kehidupan dunia yang baik-baik dengan aliran yang meterialistis yang menjadikan harta sebagai Tuhan yang disembah dan bahwa kehidupan ini hanya untuk dunia.
  2. Pemahaman Islam tentang hak individu. Islam berdiri diantara kelompok yang mengakui hak individu, sehingga orang mengangap harta itu hak miliknya secara mutlak dan kelompok yang memerangi hak tersebut. 
Kelompok terakhir ini mengangap pemilikan harta secara individu adalah sumber kejahatan dan penindasan dalam masyarakat sehingga mereka berusaha menghapuskannya dengan sekuat tenaga.
Sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang mandiri dan terlepas dari sistem ekonomi yang lainnya. Adapun yang membedakan sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah sebagai mana diungkapkan oleh Suroso Imam Zadjuli dalam Achmad Ramzy Tadjoeddin, adalah sebagai berikut :
A. Asumsi dasar/norma pokok ataupun aturan main dalam proses maupun interaksi kegiatan ekonomi yang diberlakukan. Dalam sistem ekonomi Islam yang menjadi asumsi dasarnya adalah “syariat Islam”. Syariat Islam tersebut diberlakukan secara menyeluruh (kaffah/totalitas) baik terhadap individu, keluarga, kelompok, masyarakat, usahawan maupun penguasa/pemerintah dalam mamenuhi kebutuhan hidupnya baik untuk keperluan jasmani maupun rohaniah.
B. Prinsip ekonomi Islam adalah penerapan asas efisien dan manfaat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan alam.
C. Motif ekonomi Islam adalah mancari “keberuntungan” di dunia dan di akhirat selaku khalifatullah dengan jalan beribadah dalam arti yang luas.
Hal tersebut didasarkan kepada ketentuan yang terdapat didalam perintah yang terdapat dalam ajaran Islam, yaitu :
  1. Ajaran Islam dilaksanakan secara totalitas, Perintah ajaran Islam dilaksanakan di dalam seluruh kegiatan umat Islam (termasuk dalam bidang ekonomi). Dasar perintah tersebut adalah Al Quran Surat Al Baqarah ayat 208, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.
  2. Asas efisiensi dan manjaga kelestarian lingkungan, Perihal menjaga efisiensi dan kelestarian lingkungan dapat dilihat dalam Al Quran Surat Ar Rum ayat 41,yang artinya : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
  3. Motif ekonomi adalah keberuntungan di dunia dan di akhirat, Persoalan motif ekonomi menurut pandangan Islam dapat dilihat dalam Al Quran Surat Al Qasas ayat 77, yang artinya :“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Berkaitan dengan dasar-dasar ekonomi Islam, Goenawan Mohammad dalam Achmad Ramzy Tadjoeddin memberikan tawaran :
Pertama, Ekonomi Islam ingin mancapai masyarakat yang berkehidupan sejahtera di dunia dan di akhirat. Yakni tercapainya pemuasan optimal pelbagai kebutuhan jasmani dan rohani yang seimbang, baik bagi perorangan maupun masyarakat. Untuk itu alat pemuas dicapai secara optimal dengan pengorbanan tanpa pemborosan dan kelestaian alam dapat terjaga. Kedua, hak milik relatif perorangan diakui sebagai usaha dan kerja secara halal dan dipegunakan untuk hal-hal yang halal pula. Ketiga, dilarang menimbun harta benda dan menjadikannya terlantar. Keempat, dalam harta benda itu terdapat hak untuk orang miskin yang meminta. Oleh karena itu, harus dinafkahkan sehingga dapat dicapai pembagian rezeki. Kelima, pada batasan tertentu hak milik tersebut dikenakan Zakat. Keenam, perniagaan diperkenankan, akan tetapi riba dilarang. Ketujuh, tidak ada perbedaan suku dan keturunan dalam bekerja sama, dan yang menjadi ukuran perbedaan hanyalah potensi kerja.

Pustaka.



Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, (Sinar Grafika : Jakarta, 2000)
Yusuf Qardhawi, Norma Dan Etika Ekonomi Islam, (Gema Insani Press : Jakarta, 2000)
Manan, Abdullah Abdul, 1993, Teori dan Praktek Ekonomi Islam (terj), Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta
Metwally, M.M, 1995, Teori dan Model Ekonomi Islam (terj) Bangkit Daya Insani, Jakarta
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top