Kamis, 21 Mei 2015

Definisi dan Pengertian Metode Pendidikan (Perspektif Islam)

Dari segi bahasa metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “cara”. Dengan demikian metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Selain itu juga ada yang mengatakan bahwa metode adalah suatu sasaran untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tersebut.
Dalam pengertian umum, metode diartikan sebagai cara mengerjakan sesuatu, sedangkan dalam pandangan filosofis pendidikan metode merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat itu mempunyai dua fungsi ganda yaitu yang bersifat polipragmitis dan monopragmatis,
Selanjutnya Arifin (1993:98) menyebutkan bahwa polipragmatis, bilamana metode itu mengandung kegunaan yang serba ganda (multi purpose), sebaliknya metode yang bersifat monoprafmatis adalah alat yang hanya dapat dipergunakan untuk mencapai satu macam tujuan saja.
Selanjutnya jika kata metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek saran, yaitu pribadi Islami. Selain itu metode dapat pula membawa arti sebagai cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Bertolak pada pandangan tersebut di atas, Al-qur’an menawarkan berbagai pendekatan dan metode pendidikan, yakni dalam menyampaikan materi pendidikan. Metode tersebut antara lain :
1. Metode Teladan
Metode ini dianggap penting Karena aspek agama yang terpenting adalah akhlak yang termasuk dalam kawasan afektif yang terwujud dalam bentuk tingkah laku (behavioral).
Contohnya dalam Al-qur’an surat Al-Ahzab, 33 :21

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
 
Artinya : “sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab, 33 : 21)

2. Metode Kisah-Kisah
Kisah atau cerita sebagai suatu metode pendidikan ternyata mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita ini, dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh Karena itu islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu teknik pendidikan.
Contohnya dalam al-Qur’an surat Al-Qashash, 28 : 78:


قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرَ جَمْعًا وَلاَيُسْئَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

Artinya : “Karun berkata : “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, Karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinaskan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta ? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (Q.S Al-Qashash, 28:78)

3. Metode Nasihat
Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan nasihat sebagai salah satu cara untuk menyampaikan suatu ajaran. Al-Qur’an berbicara tentang penasihat, yang dinasehati, objek nasihat, situasi nasihat, dan latar belakang nasihat. Karenanya sebagai suatu metode pengajaran nasihat dapat diakui kebenarannya.
Contohnya dalam Al-qur’an surat Al-A’raaf, 7 : 79

فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَاقَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لاَتُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ



Artinya : “Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata : “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat”.(Q.S. Al-A’Raaf, 7:79)

4. Metode Pembiasaan
Cara lain yang digunakan oleh Al-Qur’an dalam memberikan materi pendidikan adalah melalui kebiasaan yang dilakukan secara bertahap. Dalam hal ini termasuk merubah kebiasaan-kebiasaan yang negative. Kebiasaan ditempatkan oleh manusia sebagai suatu yang istimewa. Misalnya dalam kasus menghilangkan kebiasaan meminum khamar yang merupakan kebiasaan orang-orang kafir Quraisy.
Contohnya dalam Al-quran surat An-Nahl, 16 : 67

وَمِن ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَاْلأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَةُ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ . وَأَوْحَى رَبُّكِ إِلَى النَّحْلِ أَنِاتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ .

Artinya : “ Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukan dan rezki yang baik. Sesunguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (Q.S An-Nahl, 16:79).
 
5. Metode Hukum dan ganjaran
Terhadap metode hukum tersebut di atas, terdapat pro dan kontra, setuju dan menolak. Kecenderungan-kecerderungan pendidikan modern sekarang memandang tabu terhadap hukuman itu tetapi generasi muda yang ingin dibina tanpa hukuman seperti di Amerika adalah generasi muda yang sudah kedodoran, meleleh, dan sudah tidak bias lagi di bina eksistensinya. Padahal dalam kenyataan, manusia banyak melakukan pelanggaran, dan tidak dapat dibiarkan.
Contohnya dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah, 5 : 38

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمُُ
Artinya : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah maha perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Maidah, 5 :38)

6.    Metode Ceramah (khutbah)
Ceramah atau khutbah termasuk cara yang paling banyak digunakan dalam menyampaikan atau mengajak orang lain mengikuti ajaran yang telah ditentukan.
Contohnya dalam Al-Qur’an surat Yaasin, 36 : 17

وَمَاعَلَيْنَآ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ

Artinya : “Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.”(Q.S Yaasin, 36:17)
 
7. Metode Diskusi
Metode diskusi juga diperhatikan oleh Al-Qur’an dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian, sikap pengetahuan mereka terhadap sesuatu masalah.
Contohnya dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl, 16 : 125

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang telah mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S An-Nahl, 16 : 12)

8. Metode Lainnya
Al-Qur’an sebagai kitab suci tidak pernah habis digali isinya. Demikian juga tentang masalah metode pendidikan ini, masih bisa dikembangkan lebih lanjut. Muzayyin Arifin, misalnya menyebutkan tidak kurang dari 15 metode pendidikan yang dapat diambil dari Al-Qur’an yang diantaranya metode-metode yang telah disebutkan di atas. Sedangkan metode lainnya disebutkan : Metode perintah dan larangan, metode pemberian suasana, metode medidik secara kelompok, metode instruksi, metode bimbingan dan penyuluhan, metode perumpamaan, metode taubat dan ampunan dan metode penyajian. Namun, metode-metode yang disebutkan terakhir ini kurang popular, sedangkan yang popular adalah metode-metode yang telah disebutkan terdahulu.


Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top