Selasa, 19 Mei 2015

Definisi dan Pengertian mengajar

Pengertian yang umum dipahami orang terutama mereka yang awam dalam bidang-bidang studi kependidikan, ialah bahwa mengajar itu merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada peserta didik. Dengan demikian, tujuannya pun hanya berkisar sekitar pencapaian penguasaan siswa atas sejumlah pengetahuan dan kebudayaan. Dari pengertian semacam ini timbul gambaran bahwa peranan dalam proses pengajaran hanya dipegang oleh guru, sedangkan murid dibiarkan pasif.

Arifin (1978) dalam Syah mendefinisikan mengajar sebagai suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran. Definisi tidak jauh berbeda dengan definisi orang awam di atas, karena sama-sama menekankan penguasaan pengetahuan (bahan pelajaran) belaka. Nuansa (perbedaan tipis sekali) yang terdapat dalam definisi ini adalah adanya pengembangan penguasaan siswa atas materi pelajaran. Namun, citra pengajaran yang hanya terpusat pada guru masih juga tergambar dengan jelas. Dengan demikian, siswa selaku peserta didik dalam definisi Arifin di atas, tetap tidak atau kurang aktif.
Tyson dan Caroll (1970) juga mempelajari secara seksama sejumlah teori pengajaran, menyimpulkan bahwa mengajar ialah …. a way working with students…a process of interaction …the teacher does something to student; the students do something in return. Dari definisi ini tergambar bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan (Syah, 2002 : 181).
Sehubungan dengan definisi itu, Tyson dan Caroll menetapkan sebuah syarat yakni apabila interaksi antarpersonal (guru dan siswa) di dalam kelas terjadi dengan baik, maka kegiatan belajar akan terjadi. Sebaliknya, jika interaksi guru-siswa buruk, maka kegiatan belajar pun tidak akan terjadi atau mungkin terjadi tetapi tidak sesuai dengan harapan. Sementara itu, Nasution (1986) masih dalam buku yang sama berpendapat bahwa mengajar adalah “…suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar”. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang kelas (ruang belajar), tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa. Tardif (1989) mendefinisikan mengajar secara lebih sederhana tetapi cukup komprehensif dengan menyatakan bahwa mengajar itu pada prinsipnya adalah …any action performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the learner). Artinya mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini guru) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini siswa) melakukan kegiatan belajar.
Kata the teacher (guru) dan the learner (orang yang belajar atau siswa) dalam definisi Tardif itu semata-mata hanya sebagai contoh yang mewakili dua individu yang sedang berinteraksi dalam proses pengajaran. Jadi, interaksi antar-individu di luar definisi tadi juga bisa terjadi, misalnya antara orang tua dengan anak atau antara kiai dengan santri.
Biggs (1991), seorang pakar psikologi kognitif masa kini, membagi konsep mengajar dalam tiga macam pengertian, yaitu pengertian kuantitatif, pengertian institusional, dan pengertian kualitatif.
1) Pengertian kuantitatif (yang menyangkut jumlah pengetahuan yang diajarkan). Dalam pengertian kuantitatif, mengajar berarti the transmission of knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini, guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa dengan sebaik-baiknya. Di luar itu, jika perilaku belajar siswa tidak memadai atau gagal mencapai hasil yang diharapkan, maka kesalahan ditimpakan kepada siswa. Jadi, kegagalan dianggap semata-mata karena siswa sendiri yang kurang kemampuan, kurang motivasi, atau kurang persiapan.
2) Pengertian institusional (yang menyangkut kelembagaan atau sekolah)
Dalam pengertian institusional, mengajar berarti …..the efficient orchestration of teaching skills, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam pengertian ini, guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar untuk bermacam-macam siswa yang berbeda bakat, kemampuan, dan kebutuhannya. Pengertian mengajar secara institusional ini jelas lebih ideal daripada pengertian mengajar menurut pengertian kuantitatif, karena adanya perhatian yang memadai dari pihak guru terhadap kemampuan, bakat, dan kebutuhan para siswa. Mengajar dengan adaptasi teknik seperti yang tercermin dalam definisi institusional tadi sudah dilaksanakan oleh mayoritas guru sekolah menengah di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia.

3) Pengertian kualitatif (yang menyangkut mutu hasil yang ideal)
Dalam pengajaran kualitatif, mengajar berarti the fasilitation of learning yakni upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa. Dalam hal ini, guru berinteraksi sedemikian rupa dengan siswa sesuai dengan konsep kualitatif, yakni agar siswa belajar dalam arti membentuk makna dan pemahamannya sendiri. Jadi guru tidak menjejalkan pengetahuan kepada murid, tetapi melibatkannya dalam aktivitas belajar efektif dan efisien. Pengajaran kualitatif ini lebih terpusat pada siswa (student centered), sedangkan pengajaran kuantitatif lebih berpusat pada guru (teacher centered). Dalam pendekatan pengajaran institusional pun sesungguhnya masih mengandung ciri pemusatan pada kegiatan guru, namun tidak seekstrim pendekatan pengajaran kuantitatif.
Dari bermacam-macam definisi dapat diambil kesimpulan bahwa mengajar itu pada intinya mengarah pada timbulnya perilaku belajar siswa. Inti penimbulan perilaku belajar ini tercermin terutama dalam definisi Tyson dan Caroll, Nasution dan definisi Biggs dalam hal mengajar kualitatif.
Selanjutnya mengingat tuntutan psikologis dan sosiologis yang tercermin dalam perundang-undangan kependidikan di negara kita, sudah selayaknya mengajar itu diartikan secara representative dan komprehensif dalam arti menyentuh segenap aspek psikologis siswa. Kedudukan guru dalam pengertian ini sudah tak dapat lagi dipandang sebagai penguasa tunggal dalam kelas atau sekolah, tetapi dianggap sebagai manager of learning (pengelola belajar) yang perlu senantiasa siap membimbing dan membantu para siswa dalam menempuh perjalanan menuju kedewasaan mereka sendiri yang utuh menyeluruh (Syah, 2002 : 182).
Sebagian ahli memandang mengajar sebagai ilmu (science). Oleh karenanya, guru merupakan sosok pribadi manusia yang memang sengaja dibangun untuk menjadi tenaga professional yang memiliki profisiensi (berpengetahuan dan berkemampuan tinggi) dalam dunia pendidikan yang berkompeten untuk melakukan tugas mengajar. Seorang pakar psikologi pendidikan, J.M. Stephens, berpendapat bahwa seorang yang professional seharusnya memiliki keyakinan yang mendalam terhadap ilmu yang berhubungan dengan proses kependidikan yang dapat menyelesaikan masalah-masalah besar itu. Hal ini penting, karena menurutnya mengajar itu terkadang berbentuk proses yang emosional dan entusiastik yang dapat menghambat penerapan secara persis teori-teori ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu untuk memahami sekaligus menerapkan sebuah teori proses mengajar, guru hendaknya pandai menyimpan perasaan dan harapan emosional dalam tempat penyimpanan yang dingin. Kemudian, hendaknya ia berusaha menghadapi kenyataan dengan akal terbuka.
Aliran pandangan yang menganggap mengajar sebagai ilmu dapat menimbulkan konotasi seseorang yang dikehendaki menjadi guru, misalnya oleh orangtuanya sendiri, akan dapat menjadi guru yang baik asal ia dididik di sekolah atau fakultas keguruan. Dari uraian tersebut jelas bahwa aliran yang memandang mengajar sebagai ilmu itu diilhami oleh teori perkembangan klasik yang disebut empirisme yang dipelopori oleh John Locke. Menurut teori ini, pembawaan dan bakat yang diturunkan oleh orangtua tidak berpengaruh apa-apa terhadap perkembangan kehidupan seseorang, sebab pada dasarnya setiap manusia pasti lahir dalam keadaan kosong. Hendak menjadi apa manusia itu kelak setelah dewasa, bergantung pada lingkungan dan pengalamannya, terutama pengalaman dan lingkungan belajarnya. Pengertian lainnya mengajar merupakan proses yang kompleks, tidak sekedar menyampaikan informasi dari guru ke siswa. Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada seluruh siswa. Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberikan kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar-mengajar yang lebih baik pada seluruh belajar (Rusyan dkk, 1992 : 26).

Strategi Perencanaan Proses Belajar Mengajar
Strategi dasar penjabaran tujuan belajar mengajar meskipun di dalam praktiknya guru hanya memegang dan bertanggungjawab atas penyelenggaraan bidang studi atau mata pelajaran tertentu di sekolah, namun seyogianya ia mengetahui dan memahami kaitannya antara tujuan-tujuan belajar mengajar yang sudah sangat bersifat operasional dari hari ke hari secara khusus itu dengan tujuan-tujuan yang umum bersifat ideal. Tujuan-tujuan belajar mengajar ideal sekali dikaitkan dengan tujuan pengembangan pribadi siswa individu secara utuh selama berada dan menjadi tanggungjawab sekolah bersangkutan.
Dengan berpedoman kepada pola dasar umum Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) dapat dipelajari pula konsep dasar strategi belajar mengajar. Menurut Newman dan Logan, dalam bukunya berjudul Strategy Policy and Central Management dikutip Makmun mengungkapkan bahwa strategi dasar dari setiap usaha akan mencakup empat point berikut ini :
  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (output) seperti apa yang harus dicapai dan menjadi sasaran (target) usaha itu, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic ways) manakah yang dipandang paling ampuh (effective) guna mencapai sasaran tersebut.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) mana yang akan ditempuh sejak titik awal sampai kepada titik akhir di mana tercapainya sasaran tersebut.
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolak ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) yang bagaimana dipergunakan dalam mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha tersebut.
Pustaka.
Facebook Twitter Google+

1 komentar:

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top