Selasa, 19 Mei 2015

Definisi dan Pengertian Belajar

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Hal ini berarti menunjukkan bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat tergantung pada proses belajar yang dialami peserta didik, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya. Oleh karena itu pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya dapat mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.
Pengertian belajar sangat banyak sekali, akan tetapi semuanya menitikberatkan kepada perubahan. Syah dalam bukunya Psikologi Pendidikan mengutip banyak pengertian atau definisi belajar antara lain, Skinner (1985) dalam bukunya Educational Psychology : The Teaching-Learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Sedangkan pakar psikologi lainnya seperti Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat Learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behavior. Artinya, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Dalam penjelasan lainnya, pakar psikologi belajar itu menambahkan bahwa pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar. Sebab, sampai batas tertentu pengalaman hidup juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian seseorang (Syah, 2002 : 90).
Di kalangan ahli psikologi terdapat keragaman dalam cara menjelaskan dan mendefinisikan makna belajar (learning). Namun baik secara eksplisit maupun secara implisit pada akhirnya terdapat kesamaan maknanya, ialah bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu (Makmun, 2002 : 157).

Pendekatan psikologi lebih menekankan arti penting proses internal manusia, mental manusia. Dalam pandangan ahli kognitif tingkah laku manusia yang tidak tampak tidak dapat diukur dan diterapkan tanpa melibatkan proses mental, seperti motivasi kesengajaan, keyakinan, dan lain sebagainya.
Dalam persepsi psikologi kognitif belajar merupakan perubahan fungsional. Pendapat ini dikemukakan oleh penganut faham teori daya (faculty psychology) yang lebih luas lagi termasuk ke dalam faham Nativisme. Paham ini berpendirian bahwa jiwa manusia itu terdiri atas sejumlah fungsi-fungsi yang memiliki daya atau kemampuan tertentu seperti daya mengingat, daya berpikir dan sebagainya. Agar daya-daya itu berlaku secara fungsional, harus terlebih dahulu terlatih. Oleh karena itu, dalam konteks ini, belajar berarti melatih daya (mengasah otak) agar ia tajam sehingga berguna untuk menyayat atau memecah persoalan-persoalan dalam hidup ini. Artinya, belajar merupakan proses manusia dari tidak tahu menjadi tahu. Menurut paham ini, hasil belajar dalam bidang tertentu, akan dapat ditransferkan ke bidang-bidang lain (Makmun, 2002 : 159). Dengan demikian, untuk menumbuhkan dan mempertajam fungsi-fungsi tersebut diperlukan strategi mengajar yang baik, di antaranya pengaturan waktu mengajar yang berkesinambungan dalam hal ini frekuensi mengajar. Selain itu diperlukan pula alokasi waktu atau intensitas mengajar yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
Dalam perkembangannya teori ini kita temukan sebagai teori kognitif yang dikemukakan oleh Piaget dalam konteks teori keseimbangannya yang disebut accommodation. Dijelaskan bahwa struktur fungsi kognitif dapat berubah apabila individu berhadapan dengan hal-hal yang baru yang tidak dapat diorganisasikan ke dalam struktur yang telah ada. Dengan demikian, belajar dalam hal ini dapat mengandung makna sebagai perubahan struktural prilaku manusia. Secara visual perubahan prilaku atau pribadi tersebut menurut Di Vesta and Tompson pada prinsipnya dapat digambarkan sebagai berikut :

Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghapalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru.
Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan, misalnya psikologi pendidikan. Karena demikian pentingnya arti belajar, maka bagian terbesar riset dan eksperimen psikologi pendidikan pun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia.
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan berubahlah, manusia terbatas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah di bumi. Selain itu, dengan kemampuan berubah melalui belajar itu, manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya.
Belajar selalu berkenan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, apakah itu mengarah kepada yang lebih baik ataupun yang kurang baik, direncanakan atau tidak. Hal lain yang juga selalu terkait dalam belajar adalah pengalaman-pengalaman yang berbentuk interaksi dengan orang lain atau lingkungannya. Unsur perubahan dan pengalaman hampir ditekankan dalam rumusan atau definisi tentang belajar, seperti halnya yang dikemukakan para ahli antara lain Witherington (1952) mendefinisikan belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru dan berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan (Sukmadinata, 2003 : 155). Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Crow and Crow dan Hilgard (1958). Menurut Crow and Crow belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru, sedangkan menurut Hilgard belajar adalah suatu proses di mana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi.

Sasaran Kegiatan Proses Belajar Mengajar
Setiap kegiatan belajar-mengajar, apapun materinya selalu memiliki sasaran (target). Sasaran, yang lazim disebut tujuan itu pada umumnya tertulis. Akan tetapi, ada juga sasaran yang tak tertulis dan dikenal dengan sasaran objective in mind. Proses belajar mengajar yang baik harus pula disertai dengan persiapan sehingga tujuannya benar-benar tercapai. Kemudian untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan tersebut guru seyogianya mengadakan penilaian seberapa jauh performance ia mengajar dan performance siswa belajar. Sebagai kriteria atau tolak ukur utama dalam evaluasi tersebut biasanya dipergunakan sebagai pegangan seberapa jauh tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dapat tercapai. Oleh karena itu tujuan proses belajar mengajar baik jika dinyatakan dengan jelas dan tegas (stated objectives) maupun hanya tersembunyi (hidden) dalam pikiran guru dan siswa (objective in mind) seperti dikatakan oleh Socket dalam Makmun (2002 : 124) merupakan titik sentral yang strategis dalam suatu sistem intruksional.
Sasaran yang dituju oleh proses belajar mengajar bersifat bertahap dan meliputi beberapa jenjang dari jenjang yang konkret dan langsung dapat dilihat dan dirasakan sampai yang bersifat nasional dan universal. Ditinjau dari sudut waktu pencapaiannya, sasaran proses belajar mengajar dapat dikategorikan dalam tiga macam, yaitu tujuan pembelajaran khusus atau sasaran-sasaran jangka pendek, sasaran jangka menengah, dan jangka panjang.

Pustaka.
-
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top