Jumat, 24 April 2015

Uraian Tentang Prestasi Belajar (Kerangka Pemikiran)

Adapun prestasi belajar  merupakan salah satu aspek tingkah laku yang harus dicapai oleh siswa melalui proses belajar. Tingkah laku yang diharapkan dalam hal ini terjadi setelah siswa mengalami atau mempelajari sesuatu biasanya mengalami perubahan sebagai hasil belajar. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa itu lazim disebut sebagai prestasi.
Prestasi belajar adalah kecakapan nyata atau aktual yang menunjukkan kepada aspek kecakapan yang segera dapat didemontrasikan dan diuji karena merupakan hasil usaha yang bersangkutan dengan bahan dan dalam hal-hal tertentu yang dialaminya.  Prestasi belajar adalah memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa berdasarkan indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) melalui alat ukur tertentu.
Prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketika mengajarkan tugas atau kegiatan tertentu. Prestasi akademik adalah hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran di sekolah bersifat kognitif ditentukan melaui penilaian. Sedangkan prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oteh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oteh guru.
Secara garis besar hasil belajar (prestasi belajar) dapat diuaraikan sebagai berikut;
a.     Ranah Kognitif (Pemahaman)
Ranah kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir mencakup kemampuan intelektuat sederhana, yaitu mengingat sampai kemampuan memecahkan masalah yang menuntut para siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan gagasan, metode atau prosedur yang sebelumnya dipelajari untuk memecahkan masalah tesebut. Dengan kata lain, ranah kognitif adalah sub taksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi.
Ranah kognitif terdiri dari enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda, yaitu:
  1. Tingkat pengetahuan (knowledge). Untuk/level ini siswa dituntut untuk mampu mengingat (recall) berbagai informasi yang telah diterimanya seperti fakta, terminologi, dan sebagainya, sehingga diharapkan terbentuk pola baru yang kompteks.
  2. Tingkat pemahaman (comprehentions). Dalam tingkat atau/level ini para siswa harus mampu menterjemahkan atau menyebutkan kembali apa-apa yang tetah didengar dengan kata-kata sendiri.
  3. Tingkat penerapan (aplication). Dalam tingkat atau level ini, siswa dituntut untuk menerapkan/mengaplikasikan segala informasi yang diterimanya dalam situasi baru, serta mampu memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Tingkat analisis (analysis). Dalam tingkat/level ini para siswa dituntut untuk mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, gagasan, asumsi, pendapat, hipotesis, atau kesimpulan serta mampu untuk mengkoreksi setiap komponen untuk menemukan ada tidaknya kontradiksi. Dengan demikian, siswa diharapkan mampu menunjukkan adanya hubungan antara berbagai ide/gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar prinsip atau prosedur/mekanisme yang telah dipelajari dan diketahuinya.
  5. Tingkat sintesis (syntesis). Dalam level ini siswa dituntut untuk mampu mengaitkan atau menghubungkan berbagai elemen atau unsur pengetahuan yang ada, sehingga terbentuk pola baru yang lebih kompteks.
  6. Tingkat evaluasi (evaluation). Dalam tingkat/level ini siswa dituntut untuk mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda yang menggunakan kriteria tertentu, tetapi yang dimaksud evaluasi disini bukan sistem penilaian dalam kaitannya untuk menghasilkan nilai prestasi. level ini merupakan level tertinggi, dalam ranah kognitif.
b. Ranah Afektif (sikap dan perilaku)
Ranah afektif merupakan tujuan yang berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai, dan sikap hati (attitude) yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Untuk memperoleh gambaran tentang ranah tujuan instruksional afektif secara utuh, dapat dicermati setiap tingkat secara berurutan sebagai berikut;
  1. Tingkat penerimaan (receiving). Penerimaan dapat diartikan sebagai proses pembentukan sikap dan perilaku dengan cara membangkitkan kesadaran tentang adanya stimulus tertentu yang mengandung estetika.
  2. Tingkat tanggapan (responding). Artinya, tanggapan di sini dapat dilihat dari segi pendidikan, yaitu berupa perilaku baru dan siswa sebagai manifestasi adanya perangsang (stimulus) yang timbul pada saat siswa tersebut belajar. Tanggapan yang dapat ditihat dari segi psikologis perilaku, artinya segala perubahan perilaku organisasi yang terjadi karena adanya rangsangan dan perubahan. Atau tanggapan dilihat dari segi adanya kemauan dan kemampuan untuk bereaksi terhadap suatu stimulus dengan cara berpartisipasi dalam berbagai bentuk.
  3. Tingkat penilaian (evaluation). Kemauan dan kemampuan untuk menerima objek setelah siswa tersebut menyadari bahwa objek tersebut mempunyai nilai atau kekuatan, dengan cara menyatakan dalam bentuk sikap/prilaku positif atau negatif.
  4. Tingkat pengorganisasian (organization). Yakni kemampuan untuk mengorganisasikan nilai-nilai untuk menentukan hubungan antara nilai dan menerima bahwa suatu nilai itu lebih dominan dibanding dengan nilai yang lain.
  5. Tingkat karaktensasi (characterization). Karakterisasi merupakan suatu proses pembentukan sikap dan perbuatan yang konsisten yang dilakukan oleh seorang siswa setaras dengan nilai-nilai yang diterimanya, sehingga sikap perbuatannya itu seolah-olah telah menjadi jati dirinya.
c. Ranah Psikomotor (psycomotor domain)
Ranah psikomotor adalah ranah yang berorientasi kepada keterampilan motorik yang berhubugan denga anggota tubuh, atau tindakan (action) yang memerlukan koordinasi antara saraf dan otot. Ada empat kelompok tingkatan
  1. Gerakan seturuh badan (gross body movement), adalah perilaku seseorang dalam suatu kegiatan yang memerlukan kegiatan fisik secara menyeluruh.
  2. Gerakan yang terkoordinasi (coordination movement), adalah gerakan yang dihasilkan dan perpaduan antara fungsi salah satu atau lebih alat dari manusia dengan salah satu organ manusia.
  3. Komunikasi non verbal (non verbal communication), ialah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau isyarat, misalnya isyarat dengan tangan, anggukan kepala, ekspresi wajah, dan sebagainya.
  4. Kebolehan dalam berbicara (Speech Behavior), yaitu kebolehan dalam berbicara yang berhubungan dengan koordinasi gerakan tangan atau anggota tubuh lainnya dengan ekspresi muka dan kemampuan berbicara.
Keempat ranah tersebut di atas, secara teoritis dan eksplisit dapat dipisah-pisahkan satu sama lain. Tetapi dalam praktek kehidupan sehari-hari tidak dapat dipisahkan, karena perilaku kehidupan sehari-hari merupakan perpaduan yang sama antara ranah kognitif, efektif, dan psikomotor.

Pustaka.
Tulus Tu’u, Peran Disiplin Prilaku dan Prestasi Siswa, (Jakarta : Grasindo 2004), 
Abin Syamsudin, Makmum Psi kologi Pendidikan, (Bandung : IKIP, 1992).   
Muhibin Syah, Sikologi Belajar
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top