Selasa, 28 April 2015

Definisi dan Pengertian Perilaku (Konsep Pendidikan)

Perilaku berasal dari kata “peri” dan “laku”. Peri berarti cara berbuat kelakuan perbuatan, dan laku berarti perbuatan, kelakuan, cara menjalankan. . Belajar dapat didefinisikan sebagai satu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.
Skinner membedakan perilaku menjadi dua, yakni :
  1. perilaku yang alami (innate behaviour), yaitu perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan yang berupa refleks-refleks dan insting-insting.
  2. perilaku operan (operant behaviour) yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar.
Pada manusia, perilaku operan atau psikologis inilah yang dominan. Sebagian terbesar perilaku ini merupakan perilaku yang dibentuk, perilaku yang diperoleh, perilaku yang dikendalikan oleh pusat kesadaran atau otak (kognitif). Timbulnya perilaku (yang dapat diamati) merupakan resultan dari tiga daya pada diri seseorang, yakni :
  1. daya seseorang yang cenderung untuk mengulangi pengalaman yang enak dan cenderung untuk menghindari pengalaman yang tidak enak (disebut conditioning dari Pavlov & Fragmatisme dari James);
  2. daya rangsangan (stimulasi) terhadap seseorang yang ditanggapi, dikenal dengan “stimulus-respons theory” dari Skinner;
  3. daya individual yang sudah ada dalam diri seseorang atau kemandirian (Gestalt Theory dari Kohler).
Perilaku adalah suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya. Dari batasan dapat diuraikan bahwa reaksi dapat diuraikan bermacam-macam bentuk, yang pada hakekatnya digolongkan menjadi 2, yaitu bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau konkret) dan dalam bentuk aktif dengan tindakan nyata atau (konkret)
Perilaku adalah keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya. Dalam pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan tindakan yang dilakukan makhluk hidup. Perilaku adalah suatu aksi dan reaksi suatu organisme terhadap lingkungannya. Hal ini berarti bahwa perilaku baru berwujud bila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan. Dengan demikian suatu rangsangan tentu akan menimbulkan perilaku tertentu pula
Proses pembentukan dan atau perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari diri individu itu sendiri, antara lain susunan syaraf pusat, persepsi, motivasi, emosi dan belajar. Susunan syaraf pusat memegang peranan penting dalam perilaku manusia, karena perilaku merupakan perpindahan dari rangsangan yang masuk ke respon yang dihasilkan. Perpindahan ini dilakukan oleh susunan syaraf pusat dengan unit-unit dasarnya yang disebut neuron. Neuron memindahkan energi dalam impuls-impuls syaraf. Perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi. Persepsi ini adalah pengalaman yang dihasilkan melalui indra pendengaran, penciuman dan sebagainya.

Para psikolog mengemukakan bahwa perilaku terbentuk dari adanya interaksi antara domain trikomponen sikap yakni interaktif antara komponen kognitif, afektif dan domain konatif. Namun masih terdapat kekeliruan yang menganggap komponen konatif salah satu komponen dalam trikomponent sikap sebagai perilaku (behaviour), sehingga perilaku dianggap sebagai salah satu komponen sikap (aptitude).
Para psikolog telah membedakan perilaku dan sikap sebagai dua gejala yang dapat berbeda satu sama lainnya. Lapiere ) telah meneliti dan menghasilkan poskulat variasi independent, intitemen yang dijelaskan dengan konsep adalah bahwa sikap dan perilaku merupakan dimensi dalam diri individu yang berdiri sendiri, terpisah dan berbeda.
Pemikiran ini didukung oleh Mueler yang berpendapat bahwa
Komponen konatif dalam trikomponen sikap tidak disamakan dengan perilaku. Komponen konatif merupakan baru sebatas kecenderungan perilaku yang terkristalisasi dalam kata akan, mau dan hendak. Sedangkan perilaku merupakan suatu bentuk tidakan nyata dari individu yang dapat diukur dengan panca indera langsung. Dengan demikian, Mueler menegaskan bahwa makna behaviour adalah perilaku aktual sedangkan makna konatif adalah trikomponen sikap sebagai “kecendrungan ”perilaku. Pemikiran ini menunjukkan bahwa komponen konatif dalam trikomponen sikap hanyalah salah satu penyebab pembentukan perilaku aktual.

Ada tiga asumsi yang saling berkaitan mengenai perilaku manusia. Pertama, perilaku itu disebabkan; Kedua, perilaku itu digerakan; Ketiga, perilaku itu ditujukan pada sasaran / tujuan”.
Dalam hal ini berarti proses perubahan perilaku mempunyai kesamaan untuk setiap individu, yakni perilaku itu ada penyebabnya, dan terjadinya tidak dengan spontan, dan mengarah kepada suatu sasaran baik secara ekslusif maupun inklusif.
“Perilaku pada dasarnya berorientasi tujuan (goal oriented)”. Dengan perkataan lain, perilaku kita pada umumnya dimotivasi oleh suatu keinginan untuk mencapai tujuan tertentu”. Senada dengan itu Ndraha, mendefinisikan perilaku sebagai :
Operasionalisasi dan aktualisasi sikap seseorang atau suatu kelompok dalam atau terhadap sesuatu (situasi atau kondisi) lingkungan (masyarakat, alam, teknologi atau organisasi). Pengaruh lingkungan dalam pembentukan perilaku adalah bentuk perilaku yang berdasarkan hak dan kewajiban, kebebasan dan tanggung jawab baik pribadi maupun kelompok masyarakat. Perilaku mendapat pengaruh yang kuat dari motif kepentingan yang disadari dari dalam faktor intrinsik dan kondisi lingkungan dari luar / faktor ekstrinsik atau exciting condition. Oleh karena itu perilaku terbentuk atas pengaruh pendirian, lingkungan eksternal, keperntingan yang disadari, kepentingan responsif, ikut-ikutan atau yang tidak disadari serta rekayasa dari luar.

Lebih lanjut Kwick (dalam Notoatmodjo, “perilaku adalah "tindakan atau perbuatan organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari”
Motif merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi atau penyebab timbulnya perilaku dalam hal ini Winardi mengemukakan bahwa motif-motif merupakan “mengapa“ dan “perilaku” mereka muncul dan mempertahankan aktifitas dan determinasi arah umum perilaku seorang individu. Pada intinya dapat dikatakan bahwa motif-mitif atau kebutuhan merupakan penyebab terjadinya tindakan-tindakan“. Kekuatan motif merupakan alasan yang melandasi perilaku, kekuatan motif cenderung menyusut, apabila ia terpenuhi atau apabila terhalangi.
Sebelum terbentuknya suatu pola perilaku, seseorang memiliki bentuk sikap dari suatu rangsangan yang datang dari luar dalam bentuk aktifitas, kemudian dari sikap tersebut terbentuklah perilaku (Baron). Sikap individu tersebut dalam bentuk pikiran dan perasaan yang tidak kasat mata (intangible) membentuk pola perilaku masyarakat sebagai perilaku yang tampak (tangible) perilaku yang tidak tampak (innert, covert behaviour) dan perilaku yang tampak (overt behaviour). Sarwono menyebutkan aspek-aspek pikiran yang tidak kasat mata (covert behaviour intangible) dapat berupa pandangan, sikap, pendapat dan sebagainya. Bentuk kedua adalah perilaku yang tampak (overt behavior, tangiable) yang biasanya berupa aktifitas motoris seperti berpidato mendengar dan sebagainya.

Teori Perilaku
A. Teori Medan (Field Theory)
Teori dari Lewin ini mengadaptasi medan magnetik dan elektrik dalam konsep psikolgis. Asumsi dari teori ini adalah setiap orang mempunyai ruang hidup (life space) tertentu yang merupakan faktor-faktor nyata yang mempengaruhi perilaku individu. Faktor dalam ruang hidup seseorang terdiri atas unsur internal (person = p) dan unsur lingkungan (psychologycal environment = E). Teori berasumsi bahwa perilaku individu dibentuk oleh kondisi dalam diri serta dukungan lingkungan, hal ini dapat disederhanakan dalam bentuk persamaan, P + E = L dan B = f (L), dimana B adalah perilaku (behaviour), dan L adalah ruang hidup (life space), maka B = f(P, E) 
B. Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory)
Teori dari Bandura (1977) didasari oleh pemikiran bahwa, perilaku adalah hasil interaksi timbal balik (reciprocal interaction) antara determinasi kognisi, perilaku lingkungan individu dan lingkungannya tidak saling independen. Aktivitas individu menyebabkan timbulnya keadaan lingkungan tertentu, demikian juga sebaliknya. Pola hubungan timbal balik tersebut lebih dari sekedar adanya interaksi kondisi internal individu dengan lingkungan terhadap pembentukan perilaku seperti yang dikemukakan dalam pendekatan Lewin yang merumuskan B = f (P,E). Hubungan timbal balik menunjukkan adanya analisis pada gejala psikologis dengan tingkatan yang lebih kompleks (Bandura). Model timbal balik berpusat pada self-system yang terdiri atas selfobservation-judgement-self responsive yang selanjutnya menciptakan kemungkinan self afficacy. Kelebihan teori ini dari teori kepribadian adalah mempertimbangkan lebih jauh konteks sosial yang dihadapi.
Salah satu dari teori pembelajaran adalah modifikasi perilaku yaitu usaha untuk memperbaiki perilaku individu dan kelompok ke arah yang lebih positif, konstruktif dan selaras dengan tujuan yang ingin dicapai.
Perilaku dalam memelihara kebersihan lingkungan sekolah
Pemeliharaan berasal dari kata kerja “pelihara” yang berarti :
  1. menjaga (membela, merawat, menyelenggarakan, dsb) baik-baik; misalnya kesehatan badan.
  2. mengusahakan(mengolah,memiara,mendidik) baik-baik; misalnya tanam-tanaman.
  3. menyelamatkan, melindungi, melepaskan atau meluputkan dari bahaya dsb.
Jadi pemeliharaan berati perbuatan memelihara, penjagaan, perawatan, penyelamatan dan penghindaran dari bahaya
Demikian juga kata kebersihan berasal dari kata keadaan bersih yang berarti tidak kotor, jernih, suci dan murni. Jadi kebersihan berarti keadaan bersih, kesucian hati.
Kesehatan lingkungan di negara-negara yang sedang berkembang berkisar pada sanitasi (jamban), penyediaan air minum, perumahan, pembuangan sampah, dan pembuangan air limbah (air kotor).

Pustaka.
Poerwadarminta. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka. 1976).
Dahar, Ratna Wilis.. Teori – teori Belajar. (Jakarta. Erlangga. 1989)
Bimo Walgito. Psikologi Sosial. (Yogyakarta : Andi Offset.1994)
Notoatmodjo, Soekidjo. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. (Jakarta: Rineka Cipta 2007).
Azwar, Saifuddi Sikap Manusia; Teori dan Pengukurannya. (Yogyakarta : Penerbit Fakultas Hukum UII. 1997)
Azwar, Saifuddi. Sikap Manusia; Teori dan Pengukurannya. (Yogyakarta : Penerbit Fakultas Hukum UII1997)
Mueller, J.D. Mengukur Sikap Sosial. Pegangan untuk Peneliti dan Praktisi. Jakarta: Bumi Aksara. 1996)
Fremon E. Kast dan James E. Rosenzweig, Organisasi Dan Manajemen, (Bumi Aksara. Jakarta. 1994).
Baron. Performance management: key Strategies and practical guidelines. (Thomson-Shore Inc. United States.1997)
 
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top