Jumat, 01 Januari 2016

Teori Motivasi Hirarki Kebutuhan dari Maslow

Salah seorang pelopor yang mendalami teori motivasi adalah Abraham H. Maslow yang berkarya sebagai ilmuwan dun melakukan usahanya pada pertengahan dasawarsa empat puluhan. Bahwa hasil-hasil pemikirannya kemudian dituangkan dalam buku yang berjudul "Motivation and Personality". Sumbangan teori motivasi Maslow sampai dewasa ini tetap diakui di kalangan teoretes dan praktisi. Keseluruhan teori Maslow (dalam Siagian, 1995; 146-162) berintikan pendapat yang mengatakan bahwa kebutuhan manusia itu dapat diklasifikasikan pada lima hirarki kebutuhan, yaitu: a) kebutuhan fisiologis, b) kebutuhan akan keamanan, c) kebutuhan sosial, d) kebutuhan 'esteem', kebutuhan untuk aktualisasi diri.
Kebutuhan fisiologis. Teori Motivasi Hirarki Kebutuhan Maslow, Perwujudan paling nyata dari kebutuhan fisiologis ialah kebutuhan-kebutuhan pokok manusia seperti; sandang, pangan, dan perumahan. Kebutuhan ini dipandang sebagai kebutuhan yang paling mendasar bukan saja karena setiap orang membutuhkannya terus-menerus sejak lahir hingga ajalnya, akan tetapi juga karena tanpa pemuasan berbagai kebutuhan tersebut seseorang tidak dapat dikatakan hidup secara normal. Berbagai kebutuhan fisiologis ini berkaitan dengan status manusia sebagai insan ekonomi. Kebutuhan itu bersifat universal dan tidak mengenal batas geografis, asal-usul, tingkat pendidikan, status sosial, pekerjaan atau profesi, umur jenis kelamin, dan faktor-faktor lainnya yang menunjukkan keberadaan seseorang.

Kebutuhan keamanan. Kebutuhan keamanan harus dilihat dalam arti luas. tidak hanya dalam arti keamanan fisik, meskipun hal ini yang sangat penting, akan tetapi keamanan yang bersifat psikologis, termasuk perlakuan adil dalam pekerjaan seseorang. Karena pemuasan kebutuhan itu terutama dikaitkan dengan tugas pekerjaan seseorang, kebutuhan keamanan itu sangat penting untuk mendapat perhatian.
Kehutuhan sosial. Bahwa manusia di samping sebagai makhluk individu dia juga sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan bermasyarakat manusia sebagai insan sosial mempunyai kebutuhan yang berkisar pada pengakuan akan keberadaan seseorang dan penghargaan atas harkat dan martabatnya. Biasanya kebutunan sosial tersebut tercermin dalam empat bentuk 'perasaan' yaitu:
  1. perasaan diterima oleh orang lain dengan siapa ia bergaul dan berinteraksi dalam masyarakat. Dengan perkataan lain ia memiliki 'sense of belonging' yang tinggi. Tidak ada seorang manusia normal yang senang merasa terasing dari kelompok di mana ia menjadi anggotanya. Sebaliknya kegairahan kerjanya akan meningkat apabila ia diterima sebagai anggota yang terhormat. Dengan perasaan demikian ia akan berperilaku positif yang biasanya tercermin dalam kemauan memberikan sumbangsih yang makin besar kepada usaha bermasyarakat untuk mencapai tujuannya. Agar setiap siswa merasa diterima dalam kelompoknya, guru dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) praktekkan grup atau individual konseling sehingga setiap anak merasa betah di dalam kelompoknya, 2) susunlah rencana, tugas, dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga semua siswa menjadi anggota yang berfungsi di dalam kelompoknya, 3) kelompokkanlah para siswa berdasarkan sosiometri sehingga ada persamaan, saling tertarik, dan saling membantu di dalam kelompok (Hamalik, 2002: 177),
  2. harus diterima sebagai kenyataan bahwa setiap orang mempunyai jati diri yang khas dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dengan jati dirinya yang khas itu setiap orang merasa dirinya penting. Hamalik (2002: 177) menjelaskan bahwa seseorang akan merasa dirinya dihargai orang lain kalau ia merasa bahwa dirinya dianggap penting. Tidak ada manusia yang senang apabila diremehkan. Artinya setiap orang memiliki 'sense of importance'. Jika seorang pimpinan atau guru mengingkari kenyataan ini bukan mustahil ia akan menghadapi berbagai kesulitan dalam menggerakkan para bawahan atau siswanya,
  3. kebutuhan akan perasaan maju. Pada umumnya manusia tidak senang menghadapi kegagalan, para ahli merumuskan kebutuhan ini sebagai 'need for achievement’.  Ia akan merasa senang dan bangga apabila ia meraih kemajuan, apapun bentuk  kemajuan itu. Tiap orang akan berusaha agar keinginannya dapat berhasil. Untuk kelancaran belajar, perlu optimis, percaya akan kemampuan diri, dan yakin bahwa ia dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik (Slameto, 1995; 75), dan d) kebutuhan akan perasaan diikutsertakan atau 'sense of participation'. Kebutuhan ini sangat dirasakan, terutama pada saat proses pengambilan keputusan yang menyangkut diri dan lanjutan studinya. Slameto (1995: 75) menjelaskan bahwa belajar bersama dengan kawan-kawan, dapat meningkatkan pengetahuan dan ketajaman berpikir siswa.
Kebutuhan 'esteem'. Salah satu ciri manusia ialah bahwa dia mempunyai harga diri. Karena itu semua orang memerlukan pengakuan atas keberadaan dan statusnya oleh orang lain. Keberadaan dan status seseorang biasanya tercermin  pada berbagai lambang yang penggunaannya sering dipandang sebagai hak seseorang di dalam dan di luar organisasi. Ternyata penggunaan lambang-lambang status tersebut dikenal baik di lingkungan masyarakat yang disebut tradisional maupun di lingkungan masyarakat yang sudah maju dan modern. Bentuk, jenis, aneka ragam, dan penggunaan lambang-lambang status tertentu berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, berbeda dari satu tempat ke tempat lain.
Aktualisasi diri. Dewasa ini makin disadari olen berbagai kalangan yang makin luas bahwa dalam diri setiap orang terpendam potensi kemampuan yang belum seluruhnya dikembangkan. Adalah hal yang normal apabila dalam meniti karier, seseorang ingin agar potensinya itu dikembangkan secara sistematis sehingga menjadi kemampuan efektif. Dengan pengembangan demikian, seorang dapat memberikan sumbangan yang lebih besar bagi kepentingan organisasi dan dengan demikian meraih kemajuan profesional yang pada gilirannya memungkinkan yang bersangkutan memuaskan berbagai jenis kebutuhannya.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top