Sabtu, 24 Oktober 2015

Ciri-ciri dan Unsur-unsur Masyarakat

Masyarakat sebagai Suatu Sistem, individu-individu yang terdapat di dalam masyarakat saling berhubungan atau berinteraksi satu sama lain, misalnya dengan melakukan kerja sama guna memenuhi kebutuhan hidup masing-masing. Apabila kita mengikuti pengertian masyarakat baik secara natural maupun kultural, maka akan tampak bahwa keberadaan kedua masyarakat itu merupakan satu-kesatuan. Dengan demikian, kita akan tahu bahwa unsur-unsur yang ada di dalam masyarakat yang masing-masing saling bergantung merupakan satu-kesatuan fungsi. Adanya mekanisme yang saling bergantung, saling fungsional, saling mendukung antara berbagai unsur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain itulah yang kita sebut sebagai sistem.
Masyarakat sebagai suatu sistem selalu mengalami dinamika yang mengikuti hukum sebab akibat (kausal). Apabila ada perubahan pada salah satu unsur atau aspek, maka unsur yang lain akan menerima konsekuensi atau akibatnya, baik yang positif maupun yang negatif. Oleh karena itu, melihat masyarakat atau perubahan pada masyarakat selalu dalam kerangka sistemik, artinya perubahan yang terjadi di salasatu aspek akan memengaruhi faktor-faktor lain secara menyeluruh dan berjenjang.

Berbicara mengenai ciri-ciri masyarakat, maka dapat dipaparkan mengenai ciri-ciri masyarakat sebagai berikut :
  1. Masyarakat adalah Manusia Yang Hidup Berkelompok, Ciri-ciri masyarakat yang pertama adalah Manusia yang hidup secara bersama dan membentuk kelompok. Kelompok ini lah yang nantinya membentuk suatu masyarakat. Mereka mengenali antara yang satu dengan yang lain dan saling ketergantungan. Kesatuan sosial merupakan perwujudan dalam hubungan sesama manusia ini. Seorang manusia tidak mungkin dapat meneruskan hidupnya tanpa bergantung kepada manusia lain.
  2. Masyarakat Yang Melahirkan Kebudayaan, Ciri-ciri masyarakat yang berikutnya ialah yang melahirkan kebudayaan. Dalam konsepnya tidak ada masyarakat maka tidak ada budaya, begitupun sebaliknya. Masyarakatlah yang akan melahirkan kebudayaan dan budaya itu pula diwarisi dari generasi ke generasi berikutnya dengan berbagai proses penyesuaian.
  3. Masyarakat yaitu yang Mengalami Perubahan, Ciri-ciri masyarakat yang berikutnya yaitu yang mengalami perubahan. Sebagaimana yang terjadi dalam budaya, masyarakat juga turut mengalami perubahan. Suatu perubahan yang terjadi karena faktor-faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri. Contohnya : dalam suatu penemuan baru mungkin saja akan mengakibatkan perubahan kepada masyarakat itu.
  4. Masyarakat adalah Manusia Yang Berinteraksi, Ciri-ciri masyarakat yang berikutnya adalah manusia yang berinteraksi. Salah satu syarat perwujudan dari masyarakat ialah terdapatnya hubungan dan bekerja sama di antara ahli dan ini akan melahirkan interaksi. Interaksi ini boleh saja berlaku secara lisan maupun tidak dan komunikasi berlaku apabila masyarakat bertemu di antara satu sama lain.
  5. Masyarakat yang Terdapat Kepimpinan, Ciri-ciri masyarakat yang berikutnya yaitu terdapat kepemimpinan. Dalam hal ini pemimpin adalah terdiri daripada ketua keluarga, ketua kampung, ketua negara dan lain sebagainya. Dalam suatu masyarakat Melayu awal kepimpinannya bercorak tertutup, hal ini disebabkan karena pemilihan berdasarkan keturunan.
  6. Masyarakat terdapat Stratifikasi Sosial, Ciri-ciri masyarakat yang terakhir ialah adanya stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial yaitu meletakkan seseorang pada kedudukan dan juga peranan yang harus dimainkannya di dalam masyarakat.
Unsur-unsur Masyarakat
Unsur-unsur Masyarakat terdiri dari :
A. Kesatuan-kesatuan sosial (social units)
kesatuan kesatuan sosial ini terdiri dari:
1. orang banyak atau Crowd
Crowd adalah pengelompokkan orang banyak pada suatu tempat tertentu.
Ciri-ciri crowd adalah:
  • Terjadi karena adanya pusat perhatian yang sama.
  • Interaksi antara individu sudah ada, yang tampak berupa komentar-komentar, tanya jawab sekitar objek yang menjadi pusat perhatian.
  • Crowd biasanya berjalan dalam waktu yang tidak lama.
  • perasaan sebagai satu kesatuan telah ada walaupun hanya bersifat sementara dan akan hilang pada saat kerumunan itu bubar.
2. Golongan atau Social Kategory
Golongan adalah kelompok-kelompok dalam masyarakat yang didasarkan atas ciri-ciri umum. Baik ciri umum yang objektif, maupun ciri umu yang tidak objektif, yaitu stereotipe dari individu-individu anggota kelompok.
a. Pengertian Golongan Sosial
Pitirim A. Sorokin menggunakan istilah pelapisan sosial yaitu pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat/hierarkhis. Perwujudannya dikenal dengan adanya kelas sosial tinggi (upper class) contohnya: pejabat, penguasa, dan pengusaha; kelas sosial menengah (midle class) contohnya: dosen, pegawai negeri, pengusaha kecil dan menengah; kelas sosial rendah (lower class) contohnya: buruh, petani, dan pedagang kecil.

b. Timbulnya Golongan Sosial
Golongan sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya sebagai hasil proses pertumbuhan masyarakat. Faktor penyebabnya antara lain: kemampuan/kepandaian, umur, jenis kelamin, sifat keaslian, keanggotaan masyarakat dan lain-lain. Faktor penentu dari setiap masyarakat berbeda-beda, misalnya pada masyarakat berburu faktor penentunya adalah kepandaian berburu.

c. Dasar-Dasar Pembentukan Golongan Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, kriteria yang dipergunakan sebagai ukuran dalam menggolongkan masyarakat ke dalam golongan sosial/pelapisan sosial adalah:
1) Ukuran Kekayaan
2) Unsur kekuasaan atau wewenang
3) Ukuran Ilmu Pengetahuan
4) Unsur kehormatan (keturunan)

d. Karakteristik Golongan Sosial
Beberapa karakteristik golongan sosial/pelapisan sosial yang terjadi di dalam suatu masyarakat adalah :
1) Adanya perbedaan status dan peranan
2) Adanya pola interaksi yang berbeda
3) Adanya distribusi hak dan kewajiban
4) Adanya penggolongan yang melibatkan kelompok
5) Adanya prestise dan penghargaan
6) Adanya penggoongan yang bersifat universal

e. Pembagian Golongan dalam Masyarakat
Berdasarkan karakteristik golongan sosial di atas, maka terdapat beberapa pembagian golongan sosial sebagai berikut :

1)Sistem Golongan Sosial dalam Masyarakat Pertanian (Agraris), di dasarkan pada hak dan pola kepemilikan tanah, terbagi menjadi:
  • Golongan Atas : para pemilik tanah pertanian dan pekarang untuk rumah tinggal (penduduk inti).
  • Golongan Menengah: para pemilik tanah pekarangan dan rumah tapi tidak memiliki tanah pertanian (kuli gendul).
  • Golongan Bawah : orang yang tidak memiliki rumah atau pekarangan (inding ngisor).
2)Sistem Golongan Sosial pada Masyarakat Feodal, di dasarkan pada hubungan kekerabatan dengan raja/kepala pemerintahan, terbagi menjadi :
  • Golongan Atas : kaum kerabat raja atau bangsawan.
  • Golongan Menegah : rakyat biasa (kawula).
3)Sistem Golongan Sosial dalam Masyarakat Industri, meliputi :
  • Golongan teratas terdiri para pengusaha besar atau pemilik modal, direktur, komisaris.
  • Golongan menengah atau madya terdiri dari tenaga ahli dan karyawan.
  • Golongan bawah seperti buruh kasar, pekerja setengah terampil, pekerja sektor informal (pembantu).
f. Sifat Sistem Penggolongan Sosial
Klasifikasi dari sifat sistem penggolongan sosial, meliputi :
1)Sistem lapisan tertutup: sistem yang tidak memungkinkan seseorang pindah ke golongan/lapisan sosial lain..
2)Sistem lapisan terbuka: sistem yang memungkinkan seseorang pindah / naik ke golongan sosial atasnya.
3)Sistem campuran: sistem kombinasi antara terbuka dan tertutup.

g. Fungsi Golongan Sosial
Golongan sosial memiliki fungsi-fungsi berikut ini:
1)Distribusi hak istimewa yang obyektif seperti penghasilan, kekayaan.
2)Sistem pertanggaan pada strata/tingkat yang diciptakan masyarakat menyangkut prestise dan penghargaan.
3)Penentu simbol status/kedudukan seperti cara berpakaian, tingkah laku.
4)Alat solidaritas di antara individu/kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama dalam masyarakat.

h. Pengertian Kategori Sosial
Menurut Koentjaraningrat,  kategori sosial adalah kesatuan manusia yang terwujud karena adanya suatu ciri-ciri obyektif yang dikenakan pada manusia-manusia tersebut. Dalam kategori sosial tidak terikat oleh unsur adat istiadat, sistem norma, sistem nilai tertentu, tidak memiliki  identitas, tidak memiliki lokasi, tidak mempunyai organisasi, dan tidak memiliki pemimpin.

3. Perkumpulan (Asosiasi)
a. Pengertian Perkumpulan
Perkumpulan atau asosiasi adalah kesatuan manusia yang dibentuk secara sadar untuk tujuan-tujuan khusus. Terbentuknya perkumpulan dilandasi oleh kesamaan minat, tujuan, kepentingan, pendidikan, keahlian profesi, atau agama. Perkumpulan merupakan suatu organisasi buatan yang bersifat formal, dengan jumlah anggota relatif terbatas, memiliki kepentingan-kepentingan tertentu, hubungan antar anggota tidak bersifat pribadi, memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

b. Bentuk-Bentuk Perkumpulan
Bentuk-bentuk perkumpulan dalam masyarakat adalah :
  1. Berdasarkan sifat hubungan anggotanya, terbentuk kelompok sekunder (secondary group). Kelompok sekunder adalah suatu perkumpulan yang terdiri dari banyak orang dengan bentuk hubungan tidak bersifat pribadi dan bersifat sementara. Contohnya: negara, bangsa dan suku.
  2. Berdasarkan sifat organisasi, terbentuk organisasi formal (formal group) yaitu kesatuan manusia yang tergabung dalam sebuah organisasi yang memiliki peraturan tegas yang sengaja diciptakan oleh anggotanya untuk mengatur hubungan antar sesama. Contohnya: perkumpulan mahasiswa, perkumpulan organisasi massa, instansi pemerintah, dan sebagainya.
  3. Berdasarkan pola hubungan yang diciptakan para anggotanya, terbentuk kelompok patembayan (gesellschaft). Kelompok patembayan merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok, biasanya untuk jangka waktu pendek, dan terdapat dalam hubungan perjanjian berdasarkan ikatan timbal balik (kontrak). Misalnya: ikatan karyawan dan majikan dalam organisasi suatu pabrik.
  4. Berdasarkan prinsip guna/fungsinya, terdapat perkumpulan atas dasar ekonomi. Contohnya: perkumpulan pedagang, koperasi, suatu perseroan suatu perusahaan dan sebagainya.
  5. Berdasarkan keperluan, terdapat banyak perkumpulan contohnya seperti perkumpulan untuk memajukan pendidikan maka dibentuk yayasan pendidikan, suatu perkumpulan pemberantasan buta huruf.
  6. Perkumpulan untuk memajukan ilmu pengetahuan atau organisasi profesi, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial (HISPI), Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), dan sebagainya.
  7. Berdasarkan aktivitas keagamaan, terdapat banyak perkumpulan, contohnya seperti organisasi penyiar agama, kelompok pengajian, organisasi gereja, gerakan kebatinan, dan sebagainya.
  8. Berdasarkan aktivitas politik, terdapat banyak perkumpulan, contohnya seperti Parpol, kelompok kepentingan/penekan, dan sebagainya.
  9. Berdasarkan kepentingan memajukan olah raga, terdapat banyak perkumpulan, contohnya: PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia), PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia).
3. kolektif atau cillectivity.
Kolektif biasanya didasarkan atas ciri-ciri yang mencolok, baik fisik, maupun ciri-ciri kebudayaannya.

4. Kelompok
Kelompok adalah kesatuan sosial yang memiliki ciri-ciri: sistem organisasi yang merupakan pengelompokkan individu pada masa-masa tertentu dan berulang-ulang, memiliki unsur pimpinan dan memiliki aturan-aturan tertentu.
Kelompok Sosial
a. Pengertian Kelompok Sosial
Kelompok sosial (social group) adalah himpunan/kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama, terdapat hubungan timbal balik, saling memengaruhi sehingga timbul suatu kesadaran untuk saling menolong di antara mereka.
Kesatuan manusia yang hidup bersama disebut kelompok sosial harus memenuhi kriteria :
  1. Adanya kesadaran setiap kelompok bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok tersebut.
  2. Terdapat hubungan timbal balik (interaksi) antar anggota kelompok
  3. Memiliki struktur, kaidah, dan pola perilaku tertentu.Memiliki suatu sistem dan proses tertentu.
  4. Adanya faktor pengikat yang dimiliki anggota-anggota kelompok, seperti persamaan nasib, kepentingan tujuan, ideologi politik dan lain- lain.
b. Jenis-Jenis Kelompok Sosial
Jenis-jenis kelompok sosial dalam masyarakat dapat dikelompokkan menjadi :
  1. Berdasarkan Identifikasi Diri, dikenal adanya in group dan out group. In group adalah kelompok sosial yang dijadikan tempat oleh individu untuk mengidentifikasi dirinya. In group sering dikaitkan dengan istilah “kami atau kita” dan pada umumnya didasarkan pada faktor simpati dan perasaan dekat dengan anggota kelompoknya. “Kami anggota kelompoknya”. Sedangkan Out group adalah kelompok sosial yang oleh individu diartikan sebagai lawan in group-nya. Out group sering dihubungkan dengan istilah”mereka”. Sikap out group ditandai oleh suatu sikap antipati.
  2. Berdasarkan hubungan kedekatan anggota, teridentifikasi adanya kelompok primer (primary group). Menurut Charles Horton Cooley kelompok primer/primary group adalah kelompok sosial yang paling sederhana, anggotanya saling mengenal, serta terdapat kerjasama yang erat dan bersifat pribadi, interaksi sosial berlangsung secara tatap muka (face to face), Contohnya: keluarga, kelompok bermain, klik/clique.
  3. Berdasarkan hubungan familistik (sifat kekeluargaan), dikenal adanya paguyuban (Gemeinschaft). Ferdinand Tonnies mengataakan bahwa paguyuban (gemeinscaft) adalah bentuk kehidupan hubungan batin yang murni terikat oleh hubungan batin yang kekal berdasarkan rasa cinta dan rasa persatuan batin. Contohnya: kelompok kekerabatan, rukun tetangga/RT.
  4. Berdasarkan sifat organisasi, terdapat informal group. Informal group adalah kelompok yang tidak memiliki struktur/organisasi tertentu, kelompok-kelompok tersebut biasanya terbentuk berdasarkan pertemuan yang berulangkali. Contohnya: kelompok arisan, kelompok belajar, klik/clique.
  5. Berdasarkan keanggotaan, terdapat adanya kelompok membership group dan reference group. Kelompok membership adalah kelompok yang para anggotanya tercatat secara fisik sebagai anggota. Contohnya: peserta asuransi nasabah bank, anggota OSIS, anggota PGRI. Sedangkan kelompok reference/kelompok rujukan atau acuan adalah kelompok sosial yang dijadikan rujukan/acuan oleh individu-individu yang tidak tercatat dalam anggota kelompok tersebut untuk membentuk kepribadiannya dalam berperilaku. Contohnya; seseorang yang gagal menjadi mahasiswa UI tetapi ia tetap bertingkah laku seperti mahasiswa UI.
B. Pranata Sosial
Pranata sosial adalah wujud dari berbagai respon yang di formulasikan dan disistematiskan dari segala kebutuhan hidup.
Sifat-sifat dan ciri-ciri pranata sosial adalah:
  1. Pranat sosial biasanya berwujud sebagai suatu unit dalam sistem kebudayaan yang merupakan suatu kesatuan yang bulat
  2. Pranata sosial berfungsi menyediakan berbagai pemenuhan kebutuhan.
  3. Pranata sosial biasanya mempunyai berbagai pemenuhan kebutuhan.
  4. Pranata sosial biasanya relatif tetap dan kokoh.
  5. Pranata sosial timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan yang jelas.
Tipe-tipe pranata sosial menurut Summer yang dikutif Harsojo dalam buku “PengantarAntropologi” yaitu:
  1. Dresive institutions yaitu Pranata yang tumbuh tanpa direncanakan terlebih dahulu dan tanpa disadari
  2. Enacted institutions yaitu Pranata yang diorganisasikan secara sadar
  3. Basic institutions yaitu Pranata yang dianggap esensial sebagai pengaturan hubungan sosial dan bagi kelangsungan hidup suatu masyarakat
  4. Subsidiary institutions yaitu Pranata yang kurang penting sifatnya dibandingkan dengan Basic institutions dalam Suatu masyarakat tertentu.
  5. Pranata sosial yang telah mempunyai sanksi sosial dan pranata sosial yang belum mempunyai sanksi. Pranata sosial yang telah mempunyai sanksi adalah pranata sosial yang sudah disetujui oleh masyarakat. Pranat sosial yang belum mempunyai sanksi adalah pranata sosial yang belum disetujui oleh masyarakat.
  6. Pranat sosial yang bersifat umum, dan pranata sosial yang bersifat khusus (restricted). Pranata sosial yang bersifat umu misalnya Religi atau agama, pranata sosial yang bersifat khusus, misalnya agama islam.
  7. Pranata Sosial yang bersifat Operatif dan pranata sosial yang bersifat Regulatif. Pranata sosial yang bersifat operatif misalnya Industrialisasi. Pranata sosial yang bersifat relatif, misalnya hukum.
Syarat suatu sistem dari aktivitas kemasyarakatan baru disebut pranata, adalah :
  1. Harus memiliki aturan-aturan atau norma-norma yang hidup dalam ingatan atau yang tertulis.
  2. Aktivitas-akitivitas bersama itu harus memiliki suatu sistem hubungan yang didasarkan atas norma-norma tertentu.
  3. Aktivitas-aktivitas bersama itu harus memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu yang disadari dan dipahami seluruh kelompok masyarakat yang bersangkutan.
  4. Harus memiliki peralatan dan perlengkapan.
Macam-macam Pranata Sosial
Menurut Koentjaraningrat Pranata sosial paling sedikot dibagi menjadi delapan golongan, walaupu kedelapan golongan ini belum lengkap. Kedelapan golongan ini dimaksudkan untuk memberikan contoh mengenai pranata sosial tersebut secara konkrit.
Kedelapan Macam pranata sosial tersebut, yaitu :
  1. Kinship atau domestic Institutions Yaitu pranata Sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan kekerabatan. Contohnya: Pelamaran, perkawinan, pengasuhan anak, Perceraian, pertunangan.
  2. Economic Institutions Yaitu pranat sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang berhubungan dengan matapencaharian hidup, memproduksi, mendistribusikan harta benda. Contohnya: pertanian, peternakan, industri, barter, perdagangan, koperasi.
  3. Educational Institutions Yaitu pranat sosial yang bertujuan memenuhi kebutuhan penerangan dan pendidikan warga masyarakat, agar menjadi anggota masyarakat yang berguna, Contohnya: Taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, kursus-kursus, pers, perpustakaan umum.
  4. Scientific Instituions. Yaitu pranata sosial yang bertujuan memenuhi kebutuhan memiliki pengetahuan, menyelami dan memahami alam semesta. Contohnya: penelitian, metodik ilmiah, pendidikan ilmiah.
  5. Aesthetic Institutions dan recreational Institutions Yaitu pranata sosial yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk menyatakan perasaan keindahan, dan kebutuhan rekreasi. Contohnya: seni rupa, seni suara, seni tari, kesusastraas, sport, hiburan, dan sebagainya.
  6. Religius Institutions Yaitu pranat sosial yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia yang bertujuan dengan tuhan dan alam ghaib. Contohnya: Gereja, Masjid, pura, do’a, mantra upacara keagamaan, pantangan, penyiaran agama.
  7. Political institutions Yaitu pranat sosial yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mengatur kehidupan berkelompok atau kehidupan bernegara. Contohnya: Pemerintahan, demokrasi, kehakiman, kepartaian, kepolisian, TNI, dsb.
  8. Somatic Institutions Yaitu pranata sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan segi lahiriah atau jasmaniah manusia. Contohnya: Pemeliharaan kecantikan, kesehatan, kedokteran, dsb.
Hubungan antara pranata dan adat sitiadat
Hubungan antara pranata sosial dan adat istiadat dapat dilihat bahwa adat istiadat merupakan dasar terbentuknya pranata-pranata sosial dalam suatu masyarakat. Dengan pengertian lain bahwa adat istiadat merupakn sumber bagi berbagai macam pranata sosial.

Sedangkan menurut Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa unsur-unsur masyarakat sebagai berikut ini :
  1. Berangotakan minimal dua orang.
  2. Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.
  3. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat.
  4. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.


Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top