Jumat, 10 Juli 2015

Pengertian Tentang Struktur Organisasi

Struktur Organisasi juga merupakan faktor yang sama pentingnya dalam menentukan dan melihat cara kerja suatu organisasi, yang mana dapat dianalisa melalui strukturnya yang tergambar dan akan bisa diketahui bagian dan sub bagian, wewenang masing-masingnya serta hubungan koordinasi antar bagian dan sub bagian dalam pelaksanaan tugas serta tanggungjawab masing-masing berikut pembagian tugas berdasarkan spesialisasi yang ada akhirnya menggambarkan saling ketergantungan antar bagian dan sub bagian dalam suatu organisasi. Dengan demikian cukup dapat dimaklumi bahwa struktur organisasi juga merupakan faktor yang penting adanya dalam perkembangan suatu organisasi untuk pertumbuhan ke arah kemajuan yang pesat untuk mencapai tujuan sesuai dengan misi, di mana akan menentukan mekanisme orang-orang yang bekerja dalam organisasi.
Dapat disimak yang dikemukakan oleh Gibson ( 1951:101), yang dimaksud dengan Struktur Organisasi sebagai pola dan kelompok pekerjaan dalam suatu organisasi.
Berikut Wright dkk,(1996:188) menjelaskan pula bahwa yang dimaksud dengan Struktur Organisasi adalah :
“Sebagai bentuk cara di mana tugas dan tanggangjawab dialokasikan kepada individu, di mana individu tersebut dikelompokkan ke dalam kantor, departemen, dan divisi. Struktur Organisasi hendaknya selalu menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan publik dan lingkungan. Hal tersebut bertujuan untuk terciptanya kinerja organisasi yang efektif dan proses kerja yang cepat”.

Dari dua pendapat pakar di atas dapat diketahui betapa pentingnya Struktur Organisasi untuk dapat memeperjelas dan memahami tugas dan fungsi masing-masing personal ataupun pegawai dalam organisasi .
Menurut Steers (1977:70), bahwa :
“Struktur menyatakan cara organisasi mengatur sumber daya manusia bagi kegiatan-kegiatan ke arah tujuan. Struktur merupakan cara yang selaras dalam menempatkan manusia sebagai bagian organisasi pada suatu hubungan yang relatif tetap, yang sangat menentukan pola-pola interaksi, koordinasi dan tingkah laku yang berorientasi pada tugas”.

Selanjutnya hal tersebut dikatakan oleh Robbins (1995:6), yang mana :
“Struktur organisasi menetapkan bagaimana tugas akan dibagi, siapa melapor kepada siapa, mekanisme koordinasi yang formal serta pola interaksi yang akan diikuti”.
Kemudian dikatakan Robbins (1995:6) pula, bahwa :
“Sebuah struktur organisasi mempunyai tiga kelompok yaitu, kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi. Kompleksitas berarti dalam struktur organisasi mempertimbangkan tingkat diferensiasi yang ada dalam organisasi termasuk di dalamnya tingkat spesialisasi atau pembagian kerja, jumlah tingkatan dalam organmisasi serta tingkat sejauh mana unit-untit organisasi tersebar secara geografis. Formulasi berarti tingkat sejauh mana sebuah organisasi menyandarkan diri kepada peraturan dan prosedur untuk mengatur prilaku dari para pegawainya. Sentralisasi adalah mempertimbangkan di mana letak dari pusat pengambilan keputusan, apakah cenderung sentralisasi atau disentralisasi”.

Ada suatu model yang dikembangkan oleh Max Weber (dalam Robbins, 1994:40) mengenai model struktural sebagai alat yang efisien bagi sebuah organisasi untuk mencapai tujuannya , yaitu yang lebih popular disebut birokrasi. Adapun struktur tersebut dengan cirri-ciri :
- pembagian kerja
- hierarkhi kerja
- prosedur seleksi yang formal
- peraturan yang rinci
- hubungan yang tidak didasarkan atas hubungan pribadi (impersonal)
Dari pendapat para pakar di atas dapat diketahui bahwa untuk menentukan struktur dengan baik tentunya dengan jalan mengembangkan struktur yang mengarah kepada pemeberian keleluasaan kepada pegawai untuk dapat mengembangkan daya inovasi dengan mengacu ke arah responsif terhadap kebutuhan masyarakat yang dilayaninya sehari-hari. Hal ini juga memeberikan kesempatan kepada para pegawai agar bekerja lebih menggunakan daya kreativitas yang tinggi dengan kebebasan yang bertanggungjawab.
Selanjutnya menurut Fayol (dalam Robbins, 1994:29), beliau mengusulkan hal-hal yang perlu sebagai prinsip organisasi yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk diaplikasikan pada semua tingkatan organisasi, yaitu :
1. Pembagian kerja. Spesialisasi menambah hasil kerja dengan cara membuat para pekerja lebih efisien.
2. Wewenang. Jika wewenang digunakan seseorang harus sama dengan tanggungjawabnya.
3. Disiplin. Disiplin yang baik merupakan hasil dari kepemimpinan yang efektif, saling penegrtian yang jelas antara manajer dan karyawan tentang peraturan serta penerapan hukuman yang adil bagi yang menyimpang.
4. Kesatuan komando. Setiap pegawai seharusnya menerima perintah hanya dari seorang atasan.
5. Kesatuan arah. Setiap kelompok aktivitas organisasi yang mempunyai tujuan sama harus dipimpin seorang manajer dengan menggunakan sebuah rencana.
6. Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan individu.
7. Remunerasi. Para pekerja harus digaji sesuai dengan jasa yang mereka berikan.
8. Sentralisasi. Apakah pengambilan keputusan itu disentralisasi atau didisentralisasi
9. Rantai Skalar. Garis wewenang dari manajemen puncak sampai ke tingkat yang paling rendah merupakan rantai skalar.
10. Tata tertib. Orang dan bahan harus ditempatkan pada tempat dan waktu yang tepat.
11. Keadilan. Para manajer harus selalu baik dan jujur terhadap bawahan.
12. Stabilitas masa kerja pegawai. Perputaran (turn over) pegawai yang tinggi adalah tidak efisien.
13. Inisiatif. Para pegawai yang diizinkan menciptakan dan melaksanakan rencana-rencana akan berusaha keras.
14. Esprit de Corps. Mendorong team spirit akan membangun keselarasan dan persatuan di dalam organisasi.
Selanjutnya menurut pendapat Ya’qub (1984:53), bahwa :
“Seseorang dapat memiliki wewenang, karena adanya pelimpahan atau pendelegasian wewenang dari pihak atasan . Atasan tidak sanggup melakukan seluruh tugasnya dengan baik. Karena itu untuk meringankan bebannya, maka sebagian tugasnya dilimpahkan kepada salah seorang bawahan yang dipandang memiliki kemampuan. Dengan pendelegasian wewenang tersebut maka bawahan memiliki wewenang pula yang berlaku hingga wewenang itu dicabut daripadanya”.

Dwiyanto dan Kusumasari mengemukakan, bahwa :
“Pendelegasian wewenang terhadap bawahan sangat penting karena bawahan itu sebenarnya yang mengetahui secara langsung kebutuhan masyarakat”.
Seperti yang disebutkan para pakar di atas, bahwa dalam struktur ada hal yang penting yaitu unsur koordinasi. Koordinasi merupakan hal yang sangat perlu ada dalam sebuah organisasi, oleh karena koordinasi merupakan suatu tindakan untuk saling memadukan antara sub bagian atau bagian dari berbagai tugas yang diemban masing-masing yang sangat berguna bagi pencapaian tujuan organisasi sesuai misi. Hal tersebut seperti yang dijelaskan oleh.Stoner dan Freeman, bahwa :
“Koordinasi adalah proses pemaduan sasaran-sasaran dan kegiatan-kegiatan unit-unit (bagian-bagian atau bidang-bidang fungsional) yang terpisah pada sebuah organisasi agar dapat mencapai tujuan secara efisien”. (Stoner dan Freeman,1992:383).
Selanjutnya, menurut Darwin (1994:15) bahwa :
“Dalam melakukan pembagian kerja terhadap suatu kesatuan tugas yang besar (the whole) perlu diperhatikan integrasi di antara bagian-bagian (parts). Untuk bisa demikian harus ada koordinasi”.
Betapa pentingnya koordinasi dalam pelaksaan tugas sehari-hari, apalagi dalam melakukan tugas besar yang menyangkut dengan kepentingan orang banyak demi pelayanan terhadap masyarakat dalam era otonomi yang tengah bergema kala ini.
Lebih lanjut dikatakan Ya’qub, yang mana koordinasi terbagi dua, yakni : vertikal dan horizontal. Koordinasi vertikal berupa keserasian dan keselarasan antara atasan dan bawahan. Sedangkan koordinasi horizontal keserasian dan keselarasan antar suatu bagian dengan bagian lainnya.
Menurut Sughanda, Koordinasi itu meliputi :
a). Menurut lingkupnya, terdapat :
1. Koordinasi intern ialah koordinasi antar pejabat atau antar unit di dalam suatu organisasi.
2. Koordinasi ekstern ialah koordinasi antar pejabat dari berbagai organisasi atau antar organisasi.
b). Menurut arahnya, terdapat :
1. Koordinasi horizontal, yaitu koordinasi antar pejabat atau antar unit yang mempunyai tingkat hirarki yang sama dalam suatu organisasi dan antar pejabat dari organisasi yang sederajat atau antar organisasi yang setingkat.
2. Koordinasi vertikal, yaitu koordinasi antar pejabat-pejabat atau unit-unit tingkat bawah, oleh pejabat atasannya atau unit-unit tingkat atasannya langsung, juga cabang-cabang suatu organisasi oleh organisasi induknya.
3. Koordinasi diagonal, yaitu koordinasi antar pejabat atau unit yang berbeda fungsi dan berbeda tingkat hirarkhinya.
4. Koordinasi fungsional, yaitu koordinasi antar pejabat, antar unit atau antar organisasi yang didasarkan atas kesamaan fungsi atau karena koordinatornya mempunyai fungsi tertentu. (Sughanda,1998:11).
Berdasarkan pendapat yang dijelaskan para pakar di atas, maka jelaslah dapat dilihat betapa pentingnya keberadaan struktur dalam suatu organisasi yang sangat mempengaruhi adanya sebuah organisasi untuk dapat menghasilkan kinerja yang baik. Dengan demikian juga dapat dikatakan bahwa struktur organisasi merupakan suatu sistem formal yang berusaha menyelaraskan hubungan antar bagian maupun sub bagian dalam pengelompokan dan pembagian tugas, pendelegasian wewenang, koordinasi yang berdasarkan pada tugas serta hierarkhi .
Melihat faktor yang ada pada struktur ini seperti yang dijelaskan para pakar sangatlah kompleks , sehingga bila disebut ada hal yang pokok seperti adanya rentang kendali, desentralisasi atau sentralisasi yang relatif dari wewenang dan kekuasaan, tingkat keformalan yang ada, sejauh mana tingkat spesialisasi fungsi yang ada, kejelasan mengenai tugas yang telah diuraikan, prosedur tata kerja yang dibuat dan koordinasi antar bagian dan sub bagian. Untuk itu peneliti merasa perlu untuk menyesuaikan dengan keadaan tempat dan waktu yang diteliti, di mana hanya indikator yang sesuai dan relevanlah yang akan dibuat sebagai ukuran dalam penelitian ini nantinya.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top