Jumat, 10 Juli 2015

Pengertian Konsep Performance

Performance dapat diartikan sebagai tingkat pencapaian hasil atau “The degree of accomplishment” (Rue and Byars , 1981:375). Sering pula disebut tingkat pencapaian tujuan organisasi. Penilaian terhadap performance atau disebut juga kinerja merupakan suatu kegiatan yang sangat penting              Penilaian dimaksud bisa dibuat sebagai masukan guna mengadakan perbaikan untuk peningkatan  kinerja organisasi pada waktu berikutnya. (Mac Donald and Lawton , 1977).  Apabila  sebuah organisasi tidak menghasilkan keluaran berupa materi ,  performance juga sebagai  sebutan bagi pengukuran output atau hasil dari organisasi. Penjelasan tersebut dibicarakan oleh Stodgil dalam hubungannya dengan permasalahan output organisasi.
Menurut Peter Jennergren dalam Nystrom dan Starbuck (1981:43), makna dari Performance (Kinerja) adalah “Pelaksanaan tugas-tugas secara actual”. Sedangkan Osborn dalam John Willey dan Sons (1980:77)  menyebutnya sebagai “Tingkat pencapaian misi organisasi”. Dengan demikian dapatlah disimpulkan yang mana performance (kinerja) itu merupakan  “Suatu keadaan yang bisa dilihat sebagai gambaran dari hasil sejauh mana pelaksanaan tugas dapat dilakukan berikut misi organisasi”.
Untuk mengetahui bagaimana kinerja sebuah organisasi banyak pendapat para pakar dengan menggunakan indikator dan konsep , seperti efektivitas, efisiensi dan juga produktivitas  untuk menentukan sejauh mana kemampuan sebuah organisasi dalam mencapai tujuan. Namun konsep dan indikator yang dikemukakan selalu saja hanya tepat digunakan bagi organisasi swasta yang berorientasi keuntungan belaka, hal ini tentunya berbeda dengan organisasi publik yang berorientasi pada pelayanan kepada masyarakat banyak tanpa mengejar keuntungan materi. Namun orientasi untuk pelayanan publik bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat untuk menuju suatu pemerintahan yang good governance.
Levine dkk (1990) mengusulkan tiga konsep yang bisa dipergunakan untuk mengukur kinerja birokrasi publik, yaitu: responsiveness, responsibility dan accountability (Dwiyanto, 1995).  Georgepoulus dan Tannenbaum dalam Emitai Etzioni (82) Menggunakan ukuran keberhasilan sebuah organisasi dengan :
-  Produktivitas  organisasi
- Bentuk organisasi yang luwes sehingga berhasil menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di dalam organisasi yang bersangkutan.
- Tidak adanya ketegangan, tekanan maupun konflik di antara bagian-bagian dalam oganisasi tersebut.
Stodgil dan James  D.Thomson (1967:33) berpendapat bahwa keberhasilan organisasi melalui :
-  productivity/performances
-  Integration and
-  Morale
-  Adaptiveness
-  Institutionalization.
Bila dilihat ukuran-ukuran yang diberikan para pakar di atas dapat dimaklumi adanya  sisi yang  yang hampir sama antara satu sarjana dengan yang lain.  Ukuran kriteria tersebut memang telah dibuktikan berhubungan positif dengan efektivitas organisasi, namun demikian dalam pengukuran kinerja organisasi dari sudut pencapaian tujuan sebagai misi akhir dari tujuan banyak dari kriteria evaluasi tersebut relatif tidak stabil setelah jangka waktu selanjutnya, yang mana kriteria yang telah dipakai  untuk pengukuran kinerja waktu sekarang belum tentu tepat  dan cocok lagi untuk waktu yang akan datang, mungkin saja dapat diragukan  hasilnya pada waktu berikutnya.
Untuk itu dalam menentukan kriteria yang akan dipakai dalam penelitian ini, penulis tidak langsung menggunakan pendapat salah satu pakar di atas, namun  berusaha menyesuaikan dengan keadaan pada Bagian Organisasi Sekretariat Kota Pekanbaru sebagai salah satu organisasi yang ada pada Lembaga Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru.
Menurut Keban (1995), pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengukur kinerja Pemda, yaitu pendekatan manajerial dan pendekatan kebijakan, dengan asumsi bahwa efektivitas dari tujuan pemda sangat tergantung dari  dua kegiatan pokok tersebut “Public Management and Policy”. Pendekatan manajemen mempersoalkan hingga seberapa jauh fungsi-fungsi manajerial  pemda telah dijalankan seefisien dan seefektif mungkin. Sasarannya adalah semua yang bertugas mengimplementasikan  kebijakan publik. Selanjutnya Keban (1995) menggabungkan kedua pendekatan tersebut yang disebutnya dengan pendekatan moral/ethika, yang mana beliau melihat hingga seberapa jauh pemerintah daerah menaruh perhatian terhadap aspek moralitas , yakni apakah pemda memperlakukan pegawainya dan masyarakat umum atau golongan tertentu secara adil ? atau apakah pemda memperhatikan internal dan eksternal ethik?. Apakah pemda cukup responsif atau tanggap terhadap perubahan yang datang  dari masyarakat. Adapun sasaran dari pendekatan ini adalah gabungan dari dua pendekatan di atas.
Selanjutnya fungsi manajerial dapat ditinjau dari manajerial yang bertugas, berupa adanya peningkatan dalam pemakaian manajerial skill, pemakaian sistem, dan prosedur kerja yang lebih baik, peningkatan motivasi  serta kepuasan kerja di antara pegawai atau aparat pemda. Apakah peningkatan ini telah memberikan sumbangan terhadap tercapainya tujuan secara efisien dan efektif. Selain itu kinerja pemerintah dapat dinilai sampai sejauh mana masing-masing instansi telah melaksanakan fungsi, tugas  dan tanggung jawab tersebut yang merupakan manifestasi  dari kegiatan manajemen dan policy.
Dalam penelitian ini nanti  yang dimaksudkan dengan performance (kinerja)  adalah  “ Ada Tidaknya  Bagian Organisasi melakukan  tugas dan fungsinya  secara aktual sehari-hari “.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top