Jumat, 10 Juli 2015

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Penyakit Malaria

Secara Epidemiologi (teori John Gordon), penyakit timbul akibat adanya tiga faktor penting, yaitu faktor Host (penjamu), faktor Agent (penyebab), dan faktor Environment (lingkungan). Ketiga faktor tersebut berinteraksi secara dinamis dan saling mempengaruhi satu sama lain (Page at all,1998).
Sedangkan menurut teori Hendrik L. Blum (1974), ada empat faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia (paradigma sehat), yaitufaktor lingkungan, faktor perilaku, faktor pelayanan kesehatan, dan faktor genetik atau keturunan (Muninjaya, 1999).
A. Faktor Lingkungan
1. Lingkungan Fisik
1) Lingkungan fisik yang berhubungan dengan perkembangbiakan nyamuk, yaitu: a) Suhu udara. Suhu udara sangat mempengaruhi panjang pendeknya siklus sporogoni atau masa inkubasi ekstrinsik. Suhu yang hangat membuat nyamuk mudah untuk berkembang biak dan agresif mengisap darah. b) Kelembaban udara (relative humidity). Kelembaban udara yang rendah akan memperpendek usia nyamuk . Kelembaban mempengaruhi perilaku nyamuk, misalnya kecepatan berkembang biak,, kebiasaan menggigit, istirahat, dan lain-lain dari nyamuk. c) Hujan, berhubungan dengan perkembangan larva nyamuk menjadi bentuk dewasa. Besar kecilnya pengaruh tergantung pada jenis hujan, deras hujan, jumlah hari hujan, jenis vektor dan jenis tempat perindukan (breeding places) d) Angin, kecepatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam merupakan saat terbang nyamuk kedalam atau keluar rumah dan salah asat faktor yang ikut menentukan jumlah kontak antara manusia dan nyamuk adalah jarak terbang nyamuk (flight range). Sutrisno, 2002 mengatakan dalam media cetak, nyamuk malaria itu bisa terbang sejauh satu km dan lebih jauh lagi kalau terbawa angin. e) Cahaya matahari, pengaruh sinar matahari terhadap timbulnya larva nyamuk berbeda-beda. An. hyrcanus spp lebih menyukai tempat terbuka. An. barbirotris dapat hidup baik ditempat yang teduh maupun di tempat yang terang (Depkes RI,2003).
2) Lingkungan fisik yang berhubungan dengan tempat tinggal manusia
Tempat tinggal manusia yang tidak memenuhi syarat, dapat menyebabkan seseorang kontak dengan nyamuk,diantaranya: a) Kontruksi dinding rumah. Dinding rumah yang terbuat dari kayu atau papan sangat memungkinkan lebih banyak lubang untuk masuknya nyamuk ke dalam rumah (Santoso, 1992). Dinding dari kayu tersebut juga tempat yang paling disenangi oleh nyamuk Anopheles (Day, 1998). Dinding rumah berkaitan juga dengan kegiatan penyemprotan (Indoor Residual Sprying) atau obat anti nyamuk cair, dimana insektisida yang disemprotkan ke dinding rumah akan menyerap sehingga saat hinggap akan mati akibat kontak dengan insektisida tersebut dan dinding yang tidak permanen atau ada celah untuk nyamuk masuk dan kontak dengan manusia (Setyaningrum, 1997). Suwadera (2003) menyebutkan bahwa ada hubungan antara kontruksi dinding rumah dengan kejadian malaria (OR: 2,74). b) Ventilasi rumah. Keadaan ventilasi rumah yang tidak ditutupi kawat kasa akan menyebabkan nyamuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan Suwanda (2003) dalam penelitiannya mengatakan adanya hubungan antara penggunaan kawat kasa dengan kejadian malaria (OR:3,41). c) Kondisi/bahan atap rumah, empat tinggal manusia atau kandang ternak terlebih yang beratap dan yang terbuat dari kayu merupakan tempat yang paling disenangi oleh nyamuk Anopheles (Day. Jurnal Depkes, 2003).
Frits (2003) dalam penelitiannya menyatakan, kondisi fisik rumah yang kurang baik (nilai skor < median) yang diukur dari keadaan dinding, ventilasi, jendela, atap rumah, dan lain-lain, mempunyai risiko sebesar 4,44 kali dibanding kondisi fisik rumah yang dianggap baik (nilai skor ≥ median). Namun Masra (2002) dalam penelitiannya mengatakan, type rumah yang tidak baik mempunyai risiko hanya sebesar 1,57 kali dibanding type rumah yang dianggap baik
3) Lingkungan fisik yang berhubungan denga tempat perindukan nyamuk
Tempat perindukan nyamuk penular penyakit malaria (Anopheles) adalah di genangan-genangan air, baik air tawar atau air payau tergantung dari jenis nyamuknya (Depkes RI, 1999). Pada daerah pantai kebanyakan tempat perindukan nyamuk terjadi pada tambak yang tidak dikelola dengan baik, adanya penebangan hutan bakau secara liar merupakan habitat yang potensial bagi perkembangbiakan nyamuk An. Sundaicus dan banyaknya aliran sungai yang tertutup pasir (laguna) yang merupakan tempat perindukn nyamuk An. Sundaicu. (Pusdatin. Jurnal, 2003)

2. Lingkungan Kimiawi
Lingkungan kimiawi pengaruhnya adalah kadar garam pada suatu tempat perindukan naymuk, seperti diketahui nyamuk An.. sundaicus tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya berkisar antara 12-18% dan dapat berkembang biak pada kadar garam 40% ke atas, meskipun di beberapa tempat di Sumatera Utara An. sundaicus sudah ditemukan pula dalam air tawar, An. letifer dapat hidup ditempat yang asam/ pH rendah ( Depkes RI,2003). Ketika kemarau datang luas laguna menjadi mengecil dan sebagian menjadi rawa-rawa yang ditumbuhi ilalang, lumut-lumut seperti kapas berwarna hijau bermunculan. Pada saat seperti inilah kadar garam air payau ini meninggi dan menjadi habitat yang subur bagi jentik-jentik nyamuk (Pikiran Rakyat, 2002).

3. Lingkungan Biologi
Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva karena dapat menghalangi sinar matahari yang masuk atau melindungi serangan dari makhluk hidup yang lain. Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah (panchax spp), gambusia, nila, mujair dan lain-lain akan mempengaruhi populasi nyamuk di suatu wilayah. Selain itu juga adanya ternak besar seperti sapi dan kerbau dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia, apabila kandang hewan tersebut diletakkan di luar rumah ( Depkes RI.2003).
Beragai spesies ikan lokal (indigenous) Indonesia, seperti wader pari, ikan gendol, dan berbagai spesies ikan nila, cukup prosfektif untuk digunakan dalam program pengendalian vector malaria. Bisa juga dengan menempatkan hewan-hewan ternak, seperti sapi dan kerbau dalam kandang di luar rumah dekat dengan tempat perindukan nyamuk vector dan pada garis arah terbang nyamuk ke pemukiman penduduk, kata Prof. Sugeng (Indomedia, 2004).

4. Lingkungan Sosial Budaya
Soaisal budaya (culture) setempat biasanya sangat berpengaruh terhadap terbentuknya perilaku seseorang. Faktor sosio-budaya ini merupakan faktor eksternal untuk membentuk perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2005). Dengan demikian lingkungan sosial budaya tentunya juga erat kaitannya dengan kejadian suatu penyakit termasuk malaria. Beberapa faktor yang terkait dengan lingkungan sosial budaya adalah sebagai berikut:
1) Pendidikan dan pengetahuan
Tingkat pendidikan seseorang tidak berpengaruh secara langsung dengan kejadian malaria, namun pendidikan seseorang dapat mempengaruhi jenis pekerjaan dan tingkat pengetahuan orang tersebut. Secara umum seseorang yang berpendidikan tinggi akan mempunyai pekerjaan yang lebih layak dibanding seseorang yang berpendidikan rendah dan akan mempunyai pengetahuan yang cukup terhadap masalah-masalah yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dengan pengetahuan yang cukup yang didukung oleh pendidikan memadai akan berdampak kepada perilaku seseorang tersebut dalam mengambil berbagai tindakan. Menurut Notoatmodjo (2000), pengetahuan tentang penyakit (termasuk malaria) merupakan salah satu tahap sebelum seseorang mengadopsi (berperilaku baru) ia harus tahu terlebih dahulu apa arti dan manfaatnya perilaku tersebut bagi dirinya atau keluarganya.
Banyak anggota masyarakat di beberapa daerah endemis malaria yang mengangap masalah penyakit malaria sebagai masalah biasa yang tidak perlu dikawatirkan dampaknya. Anggapantersebut membuat mereka lengah dan kurang berkontribusi dalam upaya pencegahan dan pemberantasan malaria. Di Indonesia, mendiagnosis, mengobati, dan merawat sendiri bila sakit malaria merupakan hal yang biasa. Masyarakat telah terbiasa mengkonsumsi obat-obatan yang dapat dibeli di warung-warng tanpa resep dokter (Pusdatin, 2003).
Tingkat pengetahuan penduduk tentang penyakit malaria, diukur dari beberapa pertanyaan, diantaranya mengenal gejala klinis malaria, mengetahui cara penularan, mengenal ciri nyamuk penular, mengetahui tempat perindukan nyamuk, mengetahui cara mencegah penularan, dan mengetahui tempat berobat bila sakit (Depkes RI, 2003).
2) Pekerjaan
Seseorang apabila dikaitkan dengan jenis pekerjaannya, akan mempunyai hubungan dengan kejadian malaria. Ada jenis pekerjaan tertentu yang merupakan faktor risiko untuk terkena malaria misalnya pekerjaan berkebun sampai menginap berminggu-minggu atau pekerjaan menyadap karet di hutan, sebagai nelayan dimana harus menyiapkan perahu dipagi buta untuk mencari ikan di laut dan lain sebagainya. Pekerjaan tersebut akan memberi peluang kontak dengan nyamuk (Achmadi, 2005).
3) Kebiasaan penduduk dan adat-istiadat setempat
Kebiasaan-kebiasaan penduduk maupun adat-istiadat setempat tergantung dengan lingkungan tempat tinggalnya, banyak aktivitas penduduk yang membuat seseorang dapat dengan mudah kontak dengan nyamuk. Kebiasaan masyarakat dalam berpakaian, tidur menggunakan obat anti nyamuk atau menggunakan kelambu, keluar rumah malam hari atau melakukan aktivitas di tempat-tempat yang teduh dan gelap, misalnya kebiasaan buang hajat, sangat berpengaruh terhadap terjadinya penularan penyakit malaria (Depkes Pusdatin, 2003).
Seperti yang dilaporkan oleh Susanna (2005) dalam disertasinya, kebiasaan keluar rumah pada malam hari yang dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai Nongsa kota Batam seperti ngobrol di pinggir pantai, nonton televisi di warung-warung sampai larut malam atau berjalan-jalan malam hari dengan tubuh tidak tertutup secara keseluruhan, akan mendukung terjadinya penularan malaria.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Masra (2002) menyebutkan penduduk yang mempunyai kebiasaan atau melakukan aktivitas di luar rumah malam hari, mempunyai risiko untuk terkena penyakit malaria sebesar 2,56 kali dibanding dengan penduduk yang tidak melakukan aktivitas di luar rumah malam hari. Sedangkan yang dilaporkan Sulistyi (2001) dalam penlitiannya, kebiasaan penduduk ke luar rumah malam hari yang tidak terlindung secara utuh mempunyai risiko sebesar hampir 2 kali (OR:1,927) dibanding dengan penduduk yang tidak mempunyai kebiasaan keluar rumah malam hari terhadap kejadian malaria.
Tindakan pencegahan perorangan yang utama adalah bagaimana seseorang tersebut dapat menghindari diri dari gigitan nyamuk (Kandun, 2000)

B. Faktor Host (Manusia dan Nyamuk)
1. Manusia (host intermediate)
Pada dasarnya setiap orang dapat terinfeksi penyakit malaria. Bagi pejamu ada beberapa faktor intrinsik yang dapat mempengaruhi kerentanannya terhadap agent penyakit malaria (Plasmodium) yaitu :
1) Umur
Secara umum penyakit malaria tidak mengenal tingkatan umur. Hanya saja anak-anak lebih rentan terhadap infeksi malaria (Depkes RI, 2003). Menurut Gunawan (2000), perbedaan prevalensi malaria menurut umur dan jenis kelamin berkaitan dengan derajat kekebalan karena variasi keterpaparan kepada gigitan nyamuk. Orang dewasa dengan berbagai aktivitasnya di luar rumah terutama di tempat-tempat perindukan nyamuk pada waktu gelap atau malam hari, akan sangat memungkinkan untuk kontak dengan nyamuk.
2) Jenis kelamin
Infeksi malaria tidak membedakan jenis kelamin akan tetapi apabila menginfeksi ibu yang sedang hamil akan menyebabkan anemia yang lebih berat dan berdampak terhadap janin yang dikandungnya (Harijanto, 2000).
3) Ras
Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap malaria, misalnya penderita sickle cell anemia dan ovalositosis (Depkes RI, 2003).
4) Status Gizi
Status gizi erat kaitannya dengan sistim kekebalan tubuh. Apabila status gizi seseorang baik akan mempunyai peranan dalam upaya melawan semua agent yang masuk ke dalam tubuh. Malaria berat sangat jarang ditemukan pada anak-anak dengan marasmus atau kwasiokor. Defisiensi dan riboflavin seperti yang terdapat dalam air susu ibu, melindungi anak dari malaria berat (Harijanto, 2000).

2. Nyamuk Anopheles (host definitive)
Diketahui lebih dari 422 spesies Anopheles di dunia. Di Indonesia hanya ada 80 spesies dan 22 spesies diantaranya ditetapkan menjadi vektor malaria. Nyamuk tersebut hidup di daerah tertentu dengan kondisi habitat lingkungan yang spesifik seperti daerah pantai, rawa-rawa, persawahan, hutan dan pegunungan (Bruce Chwatt, 1992 dalam Jurnal Pusdatin, 2003).
Pemahaman terhadap bionomik nyamuk penular malaria sangat penting sebagai landasan untuk memahami pemutusan rantai penularan malaria. Bionomik nyamuk meliputi perilaku bertelur, larva, pupa dan dewasa, misalnya perilaku menggigit, tempat dan waktu kapan bertelur, perilaku perkawinan (Achmadi, 2005).
Peran nyamuk sebagai penular malaria tergantung kepada beberapa faktor, antara lain (Susanna 2005 dan Depkes RI, 2003):
1) Umur nyamuk
Diperlukan waktu untuk perkembangbiakan gametosit dalam tubuh nyamuk untuk menjadi sporozoit. Apabila umur nyamuk lebih pendek dari proses sporogani (5 hingga 10 hari) maka dapat dipastikan nyamuk tersebut tidak dapat menjadi vektor.
2) Peluang kontak dengan manusia
Tidak selamanya nyamuk memiliki kesempatan ketemu dengan manusia. Namun harus diwaspadai pada nyamuk yang memiliki sifat zoofilik, meskipun lebih suka menggigit binatang, namun bila tak dijumpai ternak juga akan menggigit manusia. Peluang kontak dengan manusia merupakan kesempatan untuk menularkan atau menyuntikan sporozoit ke dalam darah manusia.
3) Frekuensi menggigit
Semakin sering seekor nyamuk menggigit semakin besar kemungkinan dia berperan sebagai vektor penular penyakit malaria.
4) Kerentanan nyamuk terhadap parasit itu sendiri
Nyamuk yang terlalu banyak parasit dalam perutnya bisa pecah atau meletus dan mati karenanya.
5) Ketersediaan manusia di sekitar nyamuk.
Nyamuk yang memiliki bionomik atau kebiasaan menggigit di luar rumah pada malam hari maka akan mencoba mencari manusia dan masuk ke dalam rumah. Setelah menggigit beristirahat di dalam maupun di luar rumah.
6) Kepadatan nyamuk
Umur nyamuk dipengaruhi oleh suhu, dimana suhu kondusif berkisar antara 25-300c dan kelembababan 60-80%. Kalau populasi nyamuk cukup banyak sedangkan populasi binatang atau manusia di sekitar ada maka kepadatan nyamuk akan merugikan populasi nyamuk itu sendiri. Sedangkan bila pada satu wilayah cukup padat maka akan meningkatkan kapasitas vektoral yakni kemungkinan tertular akan lebih besar.
7) Kebiasaan menggigit
Nyamuk Anopheles betina menggigit antara waktu senja dan subuh, dengan jumlah yang berbeda-beda menurut spesiesnya. Sedangkan kebiasaan makan dan istirahat nyamuk Anopheles dapat dikelompokkan sebagai:
a. Endofili : suka tinggal dalam rumah/bangunan
b. Eksofili : suka tinggal di luar rumah
c. Endofagi : suka menggigit dalam rumah/bangunan
d. Eksfagi : suka menggigit di luar rumah
e. Antroprofili : suka menggigit manusia
f. Zoofili : suka menggigit binatang
2.6.2.3 Faktor Agent
Agent sebagai penyebab penyakit malaria yang tertera dalam ICD-10 adalah protozoa obligat intraseluler dari genus Plasmodium. Pada manusia disebabkan oleh P. falciparum, P. vivax, P. ovale, dan P. malariae yang penularannya dilakukan oleh nyamuk betina dari tribus Anopheles (Kandun, 2000 dan Depkes RI, 2003).
P. falcifarum menyebabkan malaria tropika yang sering menyebabkan malaria yang berat hingga menyebabkan kematian. P. vivax menyebabkan malaria tertiana, P. malariae menyebabkan malaria quartana dan P. ovale jarang dijumpai, terbanyak ditemukan di Afrika dan Fasifik Barat (Depkes RI, 2003).
Masing-masing spesies mempunyai sifat yang berbeda-beda. Hal ini mempengaruhi terjadinya manifestasi klinis dan penularan. Seorang penderita dapat dihinggapi oleh lebih dari satu jenis Plasmodium yang disebut infeksi campuran (mixed infection), yang paling sering adalah campuran antara P. falcifarum dengn P. vivax.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top