Senin, 29 Juni 2015

Teori Perlipatgandaan Uang (Money Multiplier)

Inti dari proses ini adalah bahwa uang giral (Bank berupa Demand Deposit maupun Time dan saving Deposits). Tidak harus dijamin secara penuh dalam bentuk uang tunai pada bank. Untuk uang giral hanya perlu menyimpan uang tunai tergantung cash ratio yang berlaku. (Boediono, 1992:125).
Hasil dari proses perlipatgandaan dapat dijabarkan sebagai berikut :
     B =  C  +   R  ................................................................................(6)
Atas dasar cadangan bank (R) yang ada pada bank tersebut, bank menciptakan uang giral berupa saldo-saldo rekening koran (giro) yang dimiliki oleh masyarakat umum yang disimpan pada bank. Seluruh saldo kita sebut DD.
Jumlah uang beredar dalam arti sempit (M1) adalah seluruh uang kartal (uang Inti yang dipegang masyarakat) plus seluruh saldo rekening koran (giro) pada bank (uang giral).
    M1 =  C  +  DD ............................................................................(7)
Apabila persamaan (7) dibagi dengan persamaan (6), dan dapat didefenisikan C = C/M1 dan r = R/DD, dan selanjutnya dilakukan perpindahan B kesebelah kanan persamaan maka akan diperoleh :
    M1 =   ......................................................................(8)
Persamaan (8) menunjukkan bagaimana uang inti dilipatkan menjadi uang beredar (M1). Sedangkan   adalah koefisien pelipat uang atau Money Multiplier. Nilai koefisien ini biasanya lebih besar dari 1, karena bank (c) maupun (r) adalah lebih kecil dari 1.
Nilai koefisien pelipat uang tergantung pada nilai dari (c) dan (r), semakin kecil nilai dari kedua ratio tersebut semakin besar nilai koefisien pelipat uang nilai (c) yang rendah berarti masyarakat lebih suka menyimpan uang tunainya di bank. Ini berarti bank mempunyai lebih banyak uang inti untuk dilipatkan. Selanjutnya nilai (r) yang rendah berarti lebih banyak uang giral yang bisa diciptakan dari setiap rupiah uang inti yang dipegang bank.
Rumus pelipat uang bisa pula diperoleh untuk uang beredar dalam arti luas (M2). Dapat diingat bahwa M2 = M1 + Deposito Berjangka dan saldo tabungan pada bank (TD). Hubungan antara M2 dengan uang inti B.
M2 =   ..................................................................(9)
Dimana :
t   =  TD/M1
  r1   =  Rasio antara cadangan bank untuk “menjamin” DD dengan DD 
            ( = R1 / DD)
r2  =  Rasio antara cadangan bank untuk “menjamin” TD dengan TD
      (= R2 / TD)
c  =  C/M1
Perbedaan dari koefisien pelipat ini dengan pelipat koefisien untuk pelipat M1 adalah adanya variabel baru, yaitu (t) dan (r2). Variabel (t) ditentukan oleh perhitungan ekonomi masyarakat dalam menimbang antara untung ruginya memegang C, DD atau TD.
Tingkat bunga yang ditawarkan untuk deposito berjangka dan tabungan jelas akan mempengaruhi (t). Disamping itu, menyimpan dalam TD juga mengandung resiko (yang lebih besar dibanding memegang C dan DD) karena penurunan nilai mata uang, yaitu kerugian kapital karena menurunnya daya beli uang yang disimpan karena “dimakan” inflasi.
Laju inflasi merupakan biaya, atau tepatnya oppurtunity cost, dari pemegangan kekayaan dalam bentuk aktiva moneter, seperti C, DD dan terutama TD. Oleh sebab itu laju inflasi mempengaruhi (t) laju inflasi tinggi cenderung membuat (t) rendah. Variabel r2 dipengaruhi oleh faktor-faktor yang hampir sama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi r1.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top