Selasa, 16 Juni 2015

Pertumbuhan Tanggung Jawab pada Anak

Pertumbuhan tanggung jawab pada anak usia “Balita” (usia dibawah lima tahun), tidak dapat dipisahkan dari pembentukan kepribadian dan perkembangan anak pada umumnya. Pertumbuhan dan perkembangan anak itu melalui berbagai tahap, dan masing-masing tahap mempunyai ciri-ciri sendiri. Pertumbuhan itu harus berjalan sesuai irama dan cirinya masing-masing.
Menurut Zakiah Daradjat. (2002:3) tahap-tahap pertumbuhan anak secara sederhana dapat dibagi kepada :
  1. Masa Bayi (sampai umur 2 tahun)
  2. Masa Kanak-kanak Pertama (dari umur 2 - 5 tahun)
  3. Masa Kanak-kanak Terakhir (dari umur 6 - 12 tahun)
1. Masa Bayi (sampai umur 2 tahun)
Peran ibu dalam membentuk kepribadian anak dan menum¬buhkan tanggung jawab pada anak di masa bayi ini sangat penting, karena ibulah orang yang paling dekat dan paling banyak mem¬antu si anak dalam memenuhi keperluan hidupnya Zakiah Daradjat, (2002 : 3).
Sebenarnya pembentukan kepribadian dan penumbuh tanggung jawab dimulai sejak dari janin dalam kandungan, karena emosi dan sikap ibu terhadap janin yang dikandungan mempengaruhi pertumbuhan janin yang dikandungnya. Apabila si ibu dengan senang hati dan ikhlas menyambut janin yang dikandungnya itu, terutama apabila ia sadar bahwa anak adalah amanat Allah swt. di tangan orang tuanya, maka si janin akan lahir membawa bibit tentram dan iman dalam dirinya serta unsur positif dalam kepribadiannya dan akan mendapat ketenangan.
Begitu si anak lahir, mulailah ia menghadapi kenyataannya tidak pernah dialaminya dulu. Pengaruh suasana di alam nyata mulai dirasakannya, seperti udara dingin, panas dan sedang cahaya, suara dan berbagai keadaan yang seluruhnya itu masing baginya. la perlu menyesuaikan diri, agar dapat hidup dan bertumbuh dengan wajar. Namun ia belum berdaya, dan tidak mampu menolong dirinya sendiri. Maka kasih sayang ibulah yang dapat melindunginya dari pengaruh yang membahayakan kesehatannya dan ibu pulalah yang membantunya dalam memenuhi segala keperluan hidupnya, seperti makan, minum, serta perlindungan lain yang dibutuhkan baik yang mendesak atau pun tidak terhadap kebutuhan anak.
Ibu sebagai pengasuh, pendidik, pembina kepribadian dan penumbuh minat agama pada anak, mempunyai peran yang sangat menentukan bagi kehidupan
kejiwaan di kemudian hari, Pembentukan kepribadian anak terjadi melalui seluruh penngalaman hidupnya, dengan bantuan panca indera sebagai alat pelapor yang amat peka dan jujur. Apabila laporan yang disampaikan itu baik dan menyenangkan, maka terkumpul pengalaman yang menentramkan batin. Dan apabila lapor itu banyak yang tidak menyenangkan, maka terkumpullah unsur-unsur yang menegangkan dalam diri si anak. Semua pengalaman tersebut akan bersatu menjadi unsur-unsur penentu dah pembentukan kepribadiannya.

Kasih sayang ibu dan kelembutannya dalam mendekap si anak waktu menyusukannya, mempunyai pengaruh yang amat penting dalam pemenuhan pokok si anak, yaitu makanan dan kehangatan. Dengan itu, berarti ibu ketika itu telah memenuhi kebutuhan jasmani dan sekaligus kebutuhan kejiwaan si anak.
Hubungan ibu dan bapaknya yang terlihat dan t.erdengar oleh si anak juga mempengaruhi pertumbuhan kepribadian si anak. Orang tua yang hidup rukun, saling menyayangi dan menghargai serta menyayangi anaknya, merupakan bibit-bibit positif yang menunjang pertumbuhan agama pada si anak.
Pengertian orang tua terhadap kebutuhan anak untuk bermain, bergerak, berlari-lari dan sebagainya, serta keinginan¬nya untuk mengetahui segala sesuatu yang terdapat dalam ling¬kungannya, akan memberi kesempatan kepada si anak untuk memenuhi berbagai kebutuhan jiwanya. Misalnya, si anak tertarik melihat benda-benda yang bergerak, permainan yang digerak-gerakkan, sambil berbunyi-bunyi, atau hewan piaraan yang berjalan, berlari, meloncat, terbang dan sebagainya mem¬punyai daya tarik tersendiri baginya. Sehingga ia terdorong untuk meniru gerakan ikan yang berenang di dalam air, burung yang terbang di udara, atau kodok meloncat, kuda yang berlari, dan sebagainya.
Pada umur-umur itu anak merasa senang menyaksikan makhluk hidup dalam lingkungannya. Karena itu mereka perlu dibekali dengan berbagai benda permainan yang sesuai dengan perkembangan dirinya.
Permainan bebas dan wajar haruslah menjadi alat untuk mengungkapkan perasaan dan tanggapan terhadap segala perangsang yang datang dari alam luar, baik melalui ucapan¬-ucapan, maupun kegiatan, yang merupakan alat pengungkap diri yang tersimpan di dalam. Maka si anak yang selalu diawasi permainannya dan banyak dilarang bermain tanah, air, dan bergabung dengan alam lingkungannya, ia akan besar dalam ketergantungan kepada orang lain, tanpa kemauan, seolah-olah ia adalah boneka atau sesuatu yang selalu bersandar kepada yang lain.
Pada tahap pertama ini, orang tua bertanggung jawab atas pertumbuhan jiwa dan prilaku sosial si anak, dan orang tua pula yang bertanggung jawab untuk membekali si anak dengan pe¬ngalaaman dan latihan dalam menumbuhkan minat keagamaan.

2. Masa Kanak-kanak Pertama (umur 2-5 tahun)
Pada umur ini anak-anak cenderung bergerak, bermain dan melakukan percobaan-percobaan terhadap segala sesuatu disekitarnya. Hal itu terjadi karena bagi si anak semuanya itu baru. Ia ingin mengetahuinya dengan pengalamannya pribadi. Melalui permainan, ia mendapat pengalaman, kepandaian, ketrampilan dan kepercayaan kepada dirinya, dan rasa aman terhadap ling¬kungannya.
Hubungan dan kegiatan anak tidak terbatas kepada permainan dan benda-benda mati saja, akan tetapi sampai ke¬pada teman-teman sebaya, orang-orang dewasa selain ibu-bapaknya.
Anak-anak pada umur ini sangat suka meniru, dan bermain peran atau khayali, misalnya menggendong boneka, menunggangi tongkat (seolah-olah menunggang kuda). Ikut shalat dan berdo'a kepada ibu bapaknya, sesuai dengan kemam¬puan. Adalah sangat menggembirakan bagi anak jika ia diajak ke masjid

atau menghadiri upacara keagamaan dimana ia dibolehkan ikut melaksanakan tugas keagamaan sesuai dengan kemampuan dan perkembangan jiwanya.
Anak-anak juga sedang mengalami pertumbuhan emosi yang tajam, sangat banyak yang menjadi sumber ketakutannya, ia banyak bertanya, ia ingin tahu hal-hal yang samar dan tidak terjangkau oleh panca inderanya, misalnya ia menanyakan tentang Tuhan atau objek-objek keagamaan lainnya. Pertanyaan¬-pertanyaan tersebut kadang-kadang dilatarbelakangi oleh rasa cemas dan takut. Maka jawaban jawaban yang diberikan kepada si anak tentang Tuhan, hendaknya sederhana dan menimbul¬kan rasa aman baginya.
Anak mengambil pelajaran melalui lingkungannya, yang dilihat, didengar, dan dirasakannya, lalu diserap dan ditirunya tanpa sengaja, sehingga menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Memang kadang-kadang anak meniru dengan sengaja dan sadar, akan tetapi pada umumnya tidak disadarinya. Maka si anak menyerap perilaku, cara berpikir, bersikap, dan merasa, melalui peniruan secara sadar terhadap orang di sekitarnya, terutama orang yang disayangi dan dikaguminya.
Perlu diketahui bahwa anak tidak hanya meniru orang-or¬ang yang
sungguh-sungguh ada dalam kenyataan saja, akan tetapi ia juga mencontoh anak-anak atau pahlawan-pahlawan cilik yang terdapat dalam cerita kanak-kanak. Dalam meniru itu, si anak tidak memilih yang baik saja, akan tetapi ia meniru yang menyenangkannya apakah itu baik atau buruk. Kebiasaan ini akan terbawa sampai besar. la juga akan cenderung kepada meniru pahlawan-pahlawan yang tampil dalam cerita yang dibacanya, atau film yang dilihatnya, maka ia tetap
terpengaruh oleh orang-orang yang terdapat dalam cerita khayal, lalu ia meniru perilaku, dan perasaan mereka. Maka kewajiban orang tua untuk memperhatikan dan memilihkan bagi anaknya ling¬kungan pergaulan dan bacaan atau film yang dilihatnya.
Anak-anak suka mendengar cerita dan melihat gambar, oleh karena itu orang tua dan guru harus memilih bahan cerita yang akan disampaikan kepada anak dan gambar yang harus dipasang di dinding kamar, di ruangan atau tempat yang mudah terlihat oleh anak, (Katri Hari Sukarsih, 2002 : 97 ). Pilihkanlah cerita-cerita dan gambar-gambar yang bernafaskan agama yang sesuai dengan alam pikiran dan per¬kembangan jiwa anak. Karena semuanya itu akan membantu bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak dan perkem¬bangan minatnya pada agama.

3. Taman Kanak-kanak
Setelah kita mengetahui betapa pentingnya umur balita bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian dan minat keagamaan pada anak, maka dapat kita bayangkan bagaimana nasib anak yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang tidak dimengerti pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak. Atau orang
tua yang sibuk dan menyerahkan pendidikan anak ke¬pada pembantu di rumah yang hanya mampu menjaga, memberi ia makan dan mengganti pakaian saja. Atau dipelihara dan dibesarkan oleh orang tua yang tidak melaksanakan agama dalam hidupnya dan lebih buruk lagi jika mereka bersifat negatif terhadap
agama.
Terbayang dalam ingatan kita macam dan ragam orang tua yang setiap waktu perlu memberikan perhatian, contoh, pendi¬dikan dan latihan bagi anak-anaknya yang sedang mengalami pertumbuhan dalam segala sisi atau dimensi hidupnya : meliputi pertumbuhan tubuh (jasmani), akal (kecerdasan), akidah (agama), akhlak, kejiwaan, keindahan dan kemasyarakatan.
Semua dimensi tersebut mulai bertumbuh pada anak balita secara terpadu dan tidak terpisah antara yang satu dengan yang lainnya. Masing-masing bertumbuh dengan kecepatan tertentu, tergantung dari bekal atau pupuk yang disebarkannya. Misalnya, tubuh perlu makanan dan pemeliharaan kesehatan lahiriah. Akal (kecerdasan) memerlukan alat dan cara pengembangan daya pikir, ketajaman panca indera dan lingkungan yang kaya dengan benda, alat dan suasana yang merangsang perhatian anak. Akidah (agama) memerlukan pengalaman, contoh / tauladan dan pengertian tentang prinsip akhlak. Kejiwaan memerlukan suasana yang menyenangkan, kesempatan untuk pengembang¬an perasaan dan kesempatan untuk mengungkapkan semua macam emosi yang dialaminya, serta terpenuhinya kebutuhan kejiwaan yang penting. Rasa keindahan memerlukan irama merdu, pemandangan yang indah, kata-kata menggetarkan hati dan sebagainya. Dimensi kemasyarakatan memerlukan tata nilai, sopan santun dan prinsip-prinsip perilaku yang membawa ke¬pada hubungan baik dengan orang lain.
Hidup bermasyarakat berarti sudah jelas membutuhkan bantuan satu dengan yang lainnya, tidak ada orang yang mampu mempertahankan hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain, meskipun sudah siap dengan segala kebutuhannya.
Apabila manusia sudah bisa memaknai hidupnya dengan benar, maka yang namanya tata nilai, sopan santun dan prinsip-prinsip perilaku yang membawa kepada hubungan baik bisa terwujud.
Begitu berat tugas orang tua, dan begitu banyak bekal pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasainya, disamping dirinya harus dapat menjadi contoh dan tauladan yang mencerminkan keterpaduan semua dimensi yang seimbang dar serasi, sehingga dapat secara langsung diserap oleh anaknya.
Tentu banyak orang tua yang tidak mampu menyiapkan diri untuk menjadi orang tua yang ideal itu. Di sinilah letak penting Taman Kanak-kanak, yang akan membantu pertumbuh dan anak dengan segala persyaratan dan kemudahan yang diperlukan bagi pengembangan anak dalam segala dimensinya, termasuk di dalamnya minat beragama. Taman Kanak-kanak bertugas menyempurnakan bekal yang kurang dari rumah, dan memperbaiki yang salah, serta mengembangkan yang telah baik.
Di Taman Kanak-kanak, anak-anak dididik untuk bertumbuh sehat jasmani dan rohani, beriman, berakhlak, kuat kepribadian, sehat mental, halus perasaan, cinta keindahan, lemal lembut dalaan pergaulan dan pandai menghargai orang lain dar sebagainya, (Zakiah Daradjat : 10).
Maka pendidik atau guru Taman Kanak-kanak, harus dapat menjadi contoh bagi anak didik dan mampu membantu pertumbuhan dan perkembangannya dalam semua dimensinya. Untuk itu, tentu saja sarana dan prasarana yang memadai serta menunjang, sangat diperlukan, supaya seluruh potensi yang anak miliki bisa tergali dengan maksimal.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top