Rabu, 03 Juni 2015

Pengukuran Akuntansi Biaya Awal (Initial Cost) Operasi Pembiayaan Murabahah

Initial cost adalah biaya-biaya yang dibayar oleh bank Islam kepada supplier. Biaya adalah unit uang yang dikeluarkan untuk mendapatkan produk atau jasa. Dalam Islam, biaya seharusnya dibebankan secara adil tanpa penambahan maupun pengurangan. Biaya tidak seharusnya mencakup pemborosan waktu dan sumber alam. Allah menganjurkan kepada kita untuk mengurangi pemborosan baik dalam waktu maupun sumber-sumber alam (Q.S. Al Isra’ : 27). Selanjutnya, biaya harus menjadi dasar untuk harga yang wajar dan adil, yang tidak merugikan penjual maupun pembeli (Al Jadawi, 1985, 24). Antara penjual dan pembeli seharusnya mengungkapkan kebenaran karena menurut ketentuan syariah Islam setiap muslim harus jujur, adil, tidak menipu dan ekonomis (Q.S. Al A’Raf : 85).
 
Biaya merupakan dasar untuk penentuan harga dan pengukuran laba. Adalah logis untuk mengidentifikasi dan mengukur biaya yang timbul dari produk yang akan menghasilkan. Pencocokan yang benar antara beban dan pendapatan masih menjadi masalah paling penting yang dihadapi oleh akuntan dalam akuntansi konvensional. Harga dalam pembiayaan murabahah tergantung pada biaya operasi murabahah dan keuntungan yang dikehendaki, dalam hal ini adalah persentase harga biaya. Biaya murabahah merupakan dasar dari harga dan keuntungan murabahah, karenanya para ahli syariah cenderung untuk memperlakukannya dengan cara penjualan di luar kontrak murabahah. Hal tersebut menghindarkan terjadinya kesalahan atau memperkirakannya selama penetapan biaya operasi pada pembiayaan murabahah. Tetapi secara nyata, pembiayaan murabahah menyajikan 90% pendapatan investasi. Dalam bank-bank Islam (Al Nagi, 1985, 215), dimana 98% dana depositor dalam beberapa bank Islam ditunjukkan hanya untuk pembiayaan murabahah, karena merupakan investasi jangka pendek dengan resiko yang cukup kecil.
Biaya awal produk (aset) murabahah adalah biaya yang dibayar oleh bank Islam kepada supplier. Pada kasus murabahah kepada pemesan pembelian, produk yang dikehendaki dalam murabahah harus sama dengan di pasar, sama jenis dan penghitungannya menggunakan ukuran yang tepat (Shahata, 1990, 95). Para ahli dan ulama syariah setuju jika biaya historis (historical cost) adalah dasar untuk menentukan biaya awal produk (aset) murabahah. Mereka menyatakan bahwa pengukuran akuntansi harus menggunakan pengukuran yang tepat dan akurat tanpa estimasi dan perkiraan. FAO-IBFI (1998, 132) menjelaskan bahwa biaya historis (historical cost) seharusnya digunakan sebagai dasar pengukuran dan pencatatan biaya awal saat akuisisi atau perolehan. Oleh karena itu produk (aset) yang diperoleh bank Islam dengan tujuan untuk dijual dengan murabahah seharusnya diukur pada saat perolehan dengan dasar biaya historis.
 
Ada beberapa faktor yang harus dicatat berkenaan dengan biaya awal operasi pembiayaan murabahah :
1. Perubahan harga.
Yaitu perubahan harga produk (aset) murabahah akibat penurunan atau peningkatan harga produk itu dalam pasar yang menyangkut waktu transaksi murabahah. Sebagai contoh : bank membeli barang seharga Rp 100.000, dan sebelum menandatangani kontrak penjualan murabahah, harga di pasar meningkat menjadi Rp 110.000. Menurut Islam penambahan harus dihilangkan dan beban atau harga tetap Rp 100.000.
2. Perubahan atas nilai produk.
Yaitu perubahan harga produk (aset) murabahah yang disebabkan karena peningkatan atau penurunan nilai produk itu sendiri. Sebagai contoh : penurunan nilai produk akibat kerusakan sehingga mengakibatkan penurunan harga ataupun peningkatan nilai produk akibat jumlah permintaan lebih besar dari jumlah penawaran sehingga terjadi peningkatan harga.
3. Perubahan atas nilai tukar.
Yaitu perubahan harga produk murabahah yang disebabkan perubahan nilai tukar dalam transaksi murabahah. Sebagai contoh : bank membeli dalam rupiah misalnya Rp 105.000 tetapi pembayaran dilakukan dengan dollar pada nilai tukar 3 untuk setiap dollarnya. Jadi, jumlah aktual yang dibayar menjadi Rp 35.000. Pada saat penjualan kembali, nilai tukar tumbuh menjadi 3,5 setiap dollar, membuat nilai menjadi Rp 30.000. Para ahli syariah sepakat jumlah yang harus dibayar adalah Rp 35.000.
4. Diskon (Muqashah)
Dalam praktek, bank Islam tidak mempertimbangkan saat menjual kembali. Pertimbangannya hanya diskon komersial, padahal keduanya memerlukan pertimbangan. Para ahli syariah berpendapat bahwa penjual (bank) memiliki pemilihan untuk mengurangi harga penjualan kembali. Mereka juga menyatakan bahwa waktu diskon merupakan faktor penentu, maksudnya jika diskon dibuat sebelum mencapai masa kontrak maka harus ada pengurangan harga saat penjualan. Jika sebaliknya, maka tidak ada pengurangan tetapi dikenakan pelonggaran. Dengan demikian setiap perubahan untuk biaya awal yang berhubungan dengan nilai fisik produk harus dipertimbangkan. Lebih lanjut, diskon yang berhubungan dengan produk (aset) murabahah dan diakui sebelum mencakup kontrak murabahah harus dikurangi dari biaya murabahah.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top