Selasa, 16 Juni 2015

Pengertian Tanggung Jawab (Konsep Pendidikan Anak)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003 : 1139) tanggung jawab mempunyai pengertian adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb).
 
Rumah-tangga atau keluarga adalah tempat yang pertama dan utama bagi anak untuk memperoleh pembinaan mental dan pembentukan kepribadian, yang kemudian ditambah dan disempurnakan oleh sekolah. Demikian pula halnya pendidikan agama, harus dilakukan oleh orang membiasakannya pada tingkah-laku dan akhlak yang diajarkan oleh agama. Ada masa ini anak belum mengerti tentang akhlak-akhlak yang baik, seperti kejujuran dan keadilan (terlalu abstrak), Untuk merealisasikannya, orang yang relevan dengan hal tersebut, agar anak dapat meniru dengan baik. Untuk itu, orangtua harus memberikan perlakuan yang adil serta dibiasakan pula untuk berbuat adil sehingga rasa keadilan dapat tertanam dalam jiwanya, juga dengan nilai-nilai agama dan kaidah-kaidah negara lainnya yang menjadi dasar untuk pembinaan mental dan kepribadian anak itu sendiri.
 
Dalam memberikan pendidikan dan pengajaran agama harus disesuaikan dengan perkembangan psikologis anak didik. Seorang guru agama, selain mempunyai pengetahuan agama, dituntut pula dapat menguasai masalah didaktis metodis dan psikologis, sertajiwanya benar-benarjiwa agama. Oleh karena itu, seorang guru agama harus diberi dasar-dasar pengetahuan yang kuat sehingga dapat membedakan tingkat-tingkat perkembangan anak didik. Hal ini sangat penting, karena dengan mengetahui tingkat-tingkat perkembangan anak didik, seorang guru agama dengan mudah menentukan/memilih cara memberikan pengajaran agama yang baik dengan tingkatan-tingkatan sekolah.
 
Dengan memperhatikan tingkat-tingkat perkembangan dan tingkat-tingkat sekolah, maka penanaman tanggung jawab anak dapat diberikan dengan cara sebagai berikut.
a. Taman Kanak-Kanak
Anak-anak seusia Taman Kanak-kanak mempunyai ciri-ciri perkembangan pikiran sangat terbatas; perbendaharaan kata sangat kurang; hubungan sosialnya hanya dalam lingkungan keluarga; dan peka terhadap tindakan-tindakan orang di sekelilingnya. Dengan melihat ciri-ciri tersebut, tanggung jawab diberikan dengan cara menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan yang sederhana, misalnya: membaca doa (Bismillah), sewaktu memulai sesuatu pekerjaan, seperti makan, minum, dan lain-lain.
 
b. Sekolah Dasar.
Menurut Zakiah D. (2002 : 17), ciri-ciri pada anak usia 7 tahun : Suka berkhayal; senang mendengarkan cerita; dan perbendaharaan katanya cukup banyak. Tanggung jawab, di samping menanamkan kebiasaan yang baik, dapat pula dilaksanakan dengan cara : memberikan cerita yang baik dan berhubungan dengan sikap prilaku; Dididik dan diajarkan untuk melakukan ibadah yang ringan misalnya; sembahyang dan berdoa; dan dapat memberikan pengetahuan agama secara sederhana.
 
c. Sekolah Menengah.
Anak-anak usia sekolah menengah memiliki ciri-ciri: Pertumbuhan fisik yang cepat, menyusul pertumbuhan pikiran, dan perasaan; Mengalami perasaan-perasaan sesuai dengan pertumbuhan biologis dalam masa puber yang dapat mempengaruhi jiwanya; dan Matangnya kecerdasan dan berkembangnya kecenderungan ilmiah. Untuk itu, pendidikan agama yang diberikan harus menyinggung hal-hal tersebut dan menerangkan tentang hukum, serta batas-batas yang diberikan oleh agama. Di samping itu, pengajaran agama dapat membukakan pikiran dan mempelajari cara hukum agama.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top