Senin, 29 Juni 2015

Pengertian Konsep Pendapatan Nasional

Salah satu konsep yang biasa digunakan dalam ilmu ekonomi yang merupakan alat pengukur kinerja perekonomian suatu negara secara keseluruhan adalah produk domestik bruto. Menurut Sukirno (2000:28) pendapatan nasional atau PDB adalah nilai barang akhir yang dihasilkan atau diproduksi suatu negara dalam satu tahun tertentu. Nilai pendapatan nasional suatu negara merupakan indikator ekonomi yang paling penting.
Terdapat beberapa konsep mengenai pendapatan nasional
1. Produk Domestik Bruto atau Gross Domestic Product
Merupakan nilai barang-barang dan jasa yang diproduksi dalam negara dalam satu tahun dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh negara tersebut dan penduduk atau perusahaan negara lain
2. Produk Nasional Bruto atau Gross National Product
Merupakan nilai barang dan jasa yang diproduksi oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh warga negara dari suatu negara.
3. Pendapatan Nasional atau National Income
Merupakan jumlah dari pendapatan faktor-faktor produksi yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa dalam satu tahun tertentu.
4. Pendapatan Nasional Neto dan Pendapatan Nasional Bruto
Pendapatan nasional yang masih meliputi depresiasi dinamakan produk nasional bruto, sedangkan pendapatan nasional yang dikurangi depresiasi dinamakan pendapatan nasional neto.

Menurut Mankiw (1999:21), dalam menunjukkan data pendapatan nasional yang dihitung dengan cara produksi neto atau nilai tambah, dikemukakan dua jenis data :
1. PDB Rill/konstan adalah PDB yang menunjukkan apa yang akan terjadi terhadap pengeluaran pada output jika jumlah berubah tetapi harga tidak mengalamai perubahan.
2. PDB pada harga berlaku/nominal, nilai barang dan jasa yang diukur dengan harga yang berlaku pada periode tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa PDB nominal menggunakan harga-harga yang tengah berlaku sebagai landasan perhitungan nilai produksi barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Sedangkan PDB rill menggunakan harga konstan pada tahun dasar untuk menghitung nilai total produksi barang dan jasa dari perekonomian. PDB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi sedangkan PDB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.
Dalam konsep pendapatan nasional, salah satunya adalah GDP (Gross Domestic Product) atau Produk Domestik Bruto (PDB). Menurut pendekatan produksi, Produk Domestik Bruto (PDB) adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu setahun. Kesempatan kerja dalam perekonomian akan menentukan tingkat kegiatan ekonomi dan tingkat produksi atau pendapatan nasional yang dihasilkan.
Tujuan PDB adalah meringkas aktivitas ekonomi dalam nilai uang tunggal dalam periode waktu tertentu. Ada beberapa jenis PDB, yaitu:
PDB nominal : Mengukur nilai dollar berlaku dari output perekonomian
PDB riil : Mengukur output yang dinilai pada harga konstan
PDB deflator : Mengukur harga output relatif terhadap harganya pada tahun dasar, yaitu rasio antara GDP nominal dengan GDP riil.

Secara teoritis, permintaan uang merupakan fungsi positif dari pendapatan nasional, demikian juga dengan hubungan antara uang kuasi dengan pendapatan nasional adalah positif, Menurut penelitian Boorman (dalam Azis, 2002:22), jika terjadi peningkatan pendapatan nasional maka jumlah uang kuasi akan meningkat, apabila faktor lain tetap (ceteris paribus) dan sebaliknya terjadinya penurunan pendapatan nasional akan mengurangi jumlah uang kuasi yang beredar. (www.Google.co.id).
Pendapatan nasional merupakan faktor penentu dalam menentukan tinggi rendahnya jumlah uang kuasi (berupa deposito, tabungan) yang dihimpun dalam lembaga perbankan. Pendapatan juga merupakan faktor penentu dalam pertumbuhan tabungan deposito dimana semakin meningkatnya pendapatan maka semakin meningkat pula tabungan deposito pada masyarakat dengan asumsi jumlah konsumsi tetap (Cateris Paribus). Dengan demikian jumlah uang kuasi juga akan mengalami peningkatan dimana pendapatan nasional merupakan ukuran dari tingkat perekonomian suatu negara.
Meningkatnya pendapatan nasional akan meningkatkan jumlah permintaan uang atau jumlah uang beredar akan mengalami peningkatan. Permintaan uang ini terbagi atas transaksi yang dipengaruhi oleh besar kecilnya pendapatan, semakin tinggi jumlah pendapatan akan menyebabkan banyaknya permintan uang untuk tujuan transaksi.
Sedangkan untuk motif berjaga-jaga atau transaksi yang tidak terduga, juga dipengaruhi jumlah pendapatan, semakin besar pendapatan maka akan semakin besar permintaaan uang untuk tujuan berjaga-jaga. Berdasarkan motif spekulasi yang ditentukan oleh tingkat bunga Bank, saldo bunga yang rendah akan menyebabkan kecilnya kecilnya jumlah saldo untuk spekulasi, dan suku bunga yang tinggi akan menghasilkan permintaan uang untuk berspekulasi menjadi lebih besar. Hal ini akan mendorong masyarakat untuk melakukan penyimpanan uang di Bank dengan harapan akan menambah jumlah uang mereka dari pada berspekulasi pada sektor perekonomian yang dianggap lebih produktif.
Makin besar jumlah pendapatan yang diterima oleh suatu rumah tangga makin besar jumlah konsumsi dan tabungan yang akan direalisasikan. Apabila jumlah pendapatan rumah tangga tidak mengalami perubahan, maka apapun yang terjadi pada tingkat bunga tidak akan mempunyai pengaruh yang berarti terhadap jumlah tabungan yang direalisasikan. Menurut pandangan keynes (dalam Sukirno, 1994:78)
Pendapatan nasional juga menggambarkan tingkat produksi suatu negara yang dicapai dalam suatu tahun tertentu atau perubahannya dari tahun ke tahun. Secara umum pendapatan nasional dapat didefinisikan sebagai suatu konsep arus yang dalam prakteknya diukur dengan jalan mencatat dan menjumlahkan transaksi-transaksi pendapatan individu yang terjadi dalam periode waktu tertentu.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu negara dalam suatu periode adalah data produk domestik bruto (PDB), baik atas harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. PDB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu.

Menurut Sukirno (2000:31), pendapatan nasional dapat dihitung dengan tiga macam pendekatan, yaitu :
a. Pendekatan Pengeluaran / Perbelanjaan
Cara pengeluaran / perbelanjaan dilakukan dengan cara menghitung dan menaksir nilai aliran perbelanjaan yang dilakukan oleh rumah tangga, penanam modal, pemerintah dan sektor luar negeri. Aliran-aliran perbelanjaan ini merupakan nilai perbelanjaan yang dilakukan ke atas barang-barang akhir dan jasa akhir yang diproduksikan oleh sektor perusahaan. Barang akhir dan jasa yang dibeli rumah tangga meliputi barang yang digunakan untuk kebutuhan mereka. Jenis-jenis barang dan jasa tersebut meliputi bahan makanan dan minuman, berbagai jenis pakaian, barang-barang kebutuhan rumah tangga yang lain (seperti : radio, televisi, dan meja-kursi), dan jasa-jasa yang dibutuhkan rumah tangga, seperti : pengangkutan, pengobatan dan pendidikan.
b. Pendekatan Pendapatan
Cara pendekatan pendapatan menerangkan bahwa pendapatan nasional dapat dihitung dengan cara menjumlahkan balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang turut serta dalam proses produksi di wilayah suatu negara. Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan perusahaan. Semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Dalam definisi ini pendapatan nasional mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tidak langsung dikurangi subsidi).
c. Pendekatan Produksi
Pendekatan produksi ini dilakukan dengan menghitung dan menaksir nilai tambah, yaitu pertambahan nilai uang dari sesuatu barang yang diwujudkan oleh setiap perusahaan dalam perekonomian. Oleh karena itu, cara ini memperhatikan pertambahan nilai dalam proses produksi. Unit-unit produksi tersebut dikelompokkan menjadi sembilan lapangan usaha (sektor), yaitu : 1) Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, 2) Pertambangan dan penggalian, 3) industri pengolahan, 4) listrik, gas, dan air bersih, 5) konstruksi, 6) perdagangan, hotel, dan restoran, 7) pengangkutan dan komunikasi, 8) keuangan, real estat dan jasa perusahaan, 9) jasa-jasa termasuk jasa pemerintah.

Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top