Selasa, 16 Juni 2015

Pengertian dan Keberhasilan Konsep Kreativitas

Supriadi (2001: 7) menyimpulkan bahwa pada intinya kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Keberhasilan kreativitas menurut Amabile (Munandar, 2004: 77) adalah persimpangan (intersection) antara keterampilan anak dalam bidang tertentu (domain skills), keterampilan berpikir dan bekerja kreatif, dan motivasi intrinsik. Persimpangan kreativitas tersebut yang disebut dengan teori persimpangan kreativitas (creativity intersection). Ciri-ciri kreativitas dapat ditinjau dari dua aspek yaitu:
1. Aspek Kognitif.
Ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir kreatif//divergen (ciri-ciri aptitude) yaitu:
a. Keterampilan berpikir lancar (fluency);.
b. Keterampilan berpikir luwes/fleksibel (flexibility);
c. Keterampilan berpikir orisinal (originality);
d. Keterampilan memperinci (elaboration); dan
e. Keterampilan menilai (evaluation). Makin kreatif seseorang, ciri-ciri tersebut makin dimiliki. (Williams dalam Munandar, 1999: 88)
 
2. Aspek Afektif.
Ciri-ciri kreativitas yang lebih berkaitan dengan sikap dan perasaan seseorang (ciri-ciri non-aptitude) yaitu:
a. Rasa ingin tahu;
b. Bersifat imajinatif/fantasi;
c. Merasa tertantang oleh kemajemukan;
d. sifat berani mengambil resiko;
e. sifat menghargai;
f. percaya diri;
g. keterbukaan terhadap pengalaman baru; dan
h. menonjol dalam salah satu bidang seni (Williams & Munandar, 1999).
 
Torrance dalam Supriadi (Adhipura, 2001: 47) mengemukakan tentang lima bentuk interaksi guru dan siswa di kelas yang dianggap mampu mengembangkan kecakapan kreatif siswa, yaitu:
1. menghormati pertanyaan yang tidak biasa
2. menghormati gagasan yang tidak biasa serta imajinatif dari siswa
3. memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar atas prakarsa sendiri
4. memberi penghargaan kepada siswa; dan
5. meluangkan waktu bagi siswa untuk belajar dan bersibuk diri tanpa suasana penilaian.
Hurlock pun (1999: 11) mengemukakan beberapa faktor pendorong yang dapat meningkatkan kreativitas, yaitu:
1. waktu,
2. kesempatan
3. menyendiri,
4. dorongan,
5. sarana,
6. lingkungan yang merangsang,
7. hubungan anak-orangtua yang tidak posesif,
8. cara mendidik anak,
9. kesempatan untuk memperoleh pengetahuan.
 
Amabile (Munandar, 2004: 223) mengemukakan empat cara yang dapat mematikan kreativitas yaitu evaluasi, hadiah, persaingan/kompetisi antara anak, dan lingkungan yang membatasi. Sementara menurut Torrance dalam Arieti yaitu:
1. usaha terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi;
2. pembatasan terhadap rasa ingin tahu anak;
3. terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan seksual;
4. terlalu banyak melarang;
5. takut dan malu;
6. penekanan yang salah kaprah terhadap keterampilan verbal tertentu; dan
7. memberikan kritik yang bersifat destruktif (Adhipura, 2001: 46).
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top