Rabu, 03 Juni 2015

Konsep Dasar Akuntansi Syariah

Tujuan dari laporan keuangan menurut AAO-IFI (The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions) dalam SFA No. 1 Chapter  6  adalah bahwa laporan harus mengandung informasi tentang kepatuhan bank terhadap syariah, dan oleh karenanya harus ada informasi tentang pos-pos non halal;  informasi sumber daya kewajiban, termasuk akibat suatu transaksi  atau kejadian ekonomi terhadap sumber entitas, maupun kewajibannya;  informasi yang dapat membantu pihak-pihak terentu dalam menghitung zakatnya;  informasi yang dapat membantu pihak terkait dalam memprediksi aliran kas bank dan seterusnya (para 36-41).
Sedangkan kerangka dasar akuntansi keuangan versi AAO-FI seperti dituangkan dalam SFA No. 2 meliputi 9 Bab. Tidak seperti halnya akuntansi keuangan konvensional, akuntansi bank syariah menuntut lebih banyak laporan yang  meliputi : statement of finacial position, statement of income, statement of cashflows, statement of retained earning, statement of changes in restricted investment, statement of sources and uses of funds in Zakah and charity fund and statement of sources uses of funds in qard fund. Empat laporan pertama adalah unsur-unsur laporan keuangan yang sudah dikenal selama ini secara konvensional, sedangkan tiga yang terakhir bersifat khas.
Bila dibandingkan dengan asumsi dasar yang ada dalam SAK dengan menganut IASC (International Accounting Standards Committee), maka terdapat sedikit perbedaan. Kalau kerangka dasar akuntansi konvensional secara eksplisit memakai dua asumsi dasar, yakni dasar akrual (accrual basis) dan kelangsungan usaha (going concern), maka asumsi dasar yang dipakai dalam kerangka dasar versi AAO-IFI terdiri dari empat hal yaitu : the accounting unit concept, the going concern concept, the periodicity concept and the stability of the purchasing power of the monetery unit. Komparasi kedua konsep diatas, secara tegas menunjukkan ada satu konsep dasar yang sama-sama diakui oleh oleh kedua model akuntansi yakni konsep going concern.
Aspek pengakuan memegang peranan penting sebagai kerangka dasar, karena pengakuan merujuk kepada  prinsip yang mengatur kapan dicatatnya transaksi pendapatan (revenue), beban (expense), laba (gain) dan rugi (loss). Pada dasarnya AAO-IFI memakai konsep akrual sebagai dasar pengakuan untuk semua bentuk transaksi. Ini sejalan dengan kerangka dasar versi IASC yang juga dianut oleh akuntansi konvensional di Indonesia. Namun demikian, kalau kita mengacu kepada praktik beberapa bank syariah, ada sejumlah penyimpangan. Misalnya dasar akrual hanya dipakai untuk pengakuan beban atau expenses, tetapi dasar kas (cash basis) dipakai dalam pengakuan revenue dan/ atau income. Argumentasi yang dijadikan landasan atas sikap ini adalah unsur ketidakpastian dan konservatisme (Adnan, 1999, 7).
Untuk aspek pengukuran hampir tidak berbeda bila dibandingkan dengan akuntansi konvensional, karena semua atribut yang akan dijadikan acuan harus mempertimbangkan unsur : reliability, understandability dan comparability.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top