Rabu, 03 Juni 2015

Dasar Penentuan Rasio Laba Operasi Pembiayaan Murabahah

Menurut syariah Islamiah tidak ada batasan tertentu untuk rasio laba. Rasio laba harus ditentukan menurut kenyataan pasar dan pengendalian internal yang menjadi bagian dari penjual itu sendiri. Allah berfirman (Qur’an, An-Nissa, 29), Islam melarang pengambilan laba yang terlalu besar. Madhab Al-Maliki mengatakan bahwa ada tindakan mengambil laba terlalu besar jika rasionya sama atau melebihi 1/3 (Al A’lami, tanpa tanggal, 393). Dan madhab Hanafi menyatakan bahwa pengambilan laba yang berlebihan akan terjadi jika rasio tersebut melebihi perhitungan yang bisa diterima yang dibentuk oleh penghitung lainnya (Ibnu Abdeen, 1966, 143).
 
Para ahli dan ulama syariah lebih suka bahwa rasio tersebut bisa diubah. Dalam kasus kredit penjualan sebagian besar ahli setuju bahwa rasio penjualan kredit bisa lebih tinggi dari rasio penjualan kas (Al Kardawi, 1987, 71-73; Al Sharbini, tanpa tanggal, 79, dan Abu Al Basal, 1994, 11). Sedikit ahli yang tidak setuju dengan hal ini, dan mereka melihat kenaikan ini sebagai riba (Al Ustad, 1975, 77). Saat ini, sebagian besar bank Islam menentukan rasio laba menurut kenyataan pasar dan tetap untuk sebagian besar pembiayaan. Beberapa mendebat bahwa rasio laba tersebut sama dengan rasio laba untuk institusi konvensional, sehingga fakta ini nampaknya merupakan pertanyaan yang berat (Abu Al-Basal, 1994, 11). Oleh karena itu, bank Islam harus memilih rasio laba yang tepat untuk diterapkan, dan rasio tersebut harus bisa diubah menurut kondisi pembiayaan murabahah. Lebih lagi rasio laba dalam bank Islam harus berbeda dari rasio yang diterapkan oleh institusi konvensional untuk menghindari pertanyaan yang berat tersebut.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top