Sabtu, 16 Mei 2015

Urgensi Pendidikan Karakter

Nilai penting karakter bagi kehidupan manusia dewasa ini sebagaimana diungkapkan oleh Bekti B. Zaenudin Mengutip Pendapat Antonin Scalia (2012 : 93) :
Bear in mind that brains and learning, like muscle and physical skill, are article of commerece. They are bought and sold, You can hire them by the year or by the hour, The only thing in the world not for sale is character. And if that does not govern and direct your brains and learning, they will do you and the world more harm than good.

Karakter harus menjadi fondasi bagi kecerdasan dan pengetahuan. Hal yang sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di era teknologi ini, knowledge is power. Masalahnya, bila orang-orang yang dikenal cerdas dan berpengetahuan tidak menunjukkan karakter terpuji, maka tidak diragukan lagi bahwa dunia akan rusak dan semakin buruk, Dengan kata lain ungkapan knowledge is power akan menjadi lebih sempurna jika ditambahkan knowledge is power, but character is more,
Bekti B. Zaenudin & Ade Zaenul M. mengutip pendapat Lickona (1991) mengemukakan beberapa alasan tentang perlunya pendidikan karakter bagi peserta didik, yaitu: (a) karakter merupakan hal yang sangat esesnsial dalam berbangsa dan bernegara; (b) karakter berperan sebagai kendali dan kekuatan sehingga bangsa ini tidak mudah terombang ambing; dan (c) karakter tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dibangun dan dibentuk untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Koesoema (2007: 215) menyatakan bahwa pendidikan karakter mendesak untuk diterapkan mengingat berbagai macam perilaku non-edukatif kini telah merambah dalam dunia pendidikan, seperti fenomeria kekerasan, pelecehan seksual, bisnis mania lewat pendidikan, korupsi dan kesewenang-wenangan yang terjadi di kalangan sekolah. Dengan pendidikan karakter diharapkan menjadi salah satu upaya pembudayaan dan pemanusiaan.
Pertimbangan lainnya tentang pentingnya pendidikan karakter didasarkan pada hal-hal sebagai berikut yaitu:
1. adanya kebutuhan nyata dan mendesak;
2. proses transmisi nilai sebagai proses peradaban;
3. peranan satuan pendidikan sebagai pendidik moral yang vital pada saat melemahnya pendidikan nilai dalam masyarakat;
4. tetap adanya kode etik dalam masyarakat yang sarat konflik nilai;
5. kebutuhan demokrasi akan pendidikan moral;
6. kenyataan yang sesungguhnya bahwa tidak ada pendidikan yang bebas nilai;
7. persoalan moral sebagai salah satu persoalan dalam kehidupan
8. dan adanya landasan yang kuat dan dukungan luas terhadap pendidikan moral di satuan.

Semua argument tersebut tampaknya masih relevan untuk menjadi cerminan kebutuhan akan pendidikan karakter di Indonesia apda saat ini. Lebih jauh dari itu Indonesia dengan masyarakat yang ber-Bhineka Tunggal Ika dan dengan falsafah negaranya Pancasila yang sarat dengan nilai/kebajikan, merupakan alasan filosofik-ideologis, dan sosial-kultural tentang pentingnya pendidikan karakter untuk di bangun dan dilaksanakan secara nasional, dan dibina-kembangkan secara berkelanjutan.
Dengan demikian pengembangan karakter peserta didik merupakan sesuatu yang sangat penting dilakukan dalam upaya menghasilkan lulusan pendidikan sebagaimana yang diharapkan dalam tujuan pendidikan nasional tersebut. Juga, karakter sangat menetukan terhadap kualitas hidup suatu masyarakat dan bangsa, Rena (2006) menyebutkan bahwa pendidikan moral dan karakter selain sebagai heart of education juga merupakan education of heart.
Ada beberapa substansi karakter yang mesti dikembangkan dalam rangka tersebut. Ratna Megawangi (2004: 95) menyebutkan ada sembilan karakter yang perlu ditanamkan kepada peserta didik, yaitu : (a) Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya (love Allah, trust, reverevce, loyalty); (b) Kemandiriandan tanggung jawab (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness); (c) Kejujuran/Amanah, Bijaksana (trustworthiness, reliability, honesty) (d) Hormat dan santun (respect, courtesy, obedience); (e) Dermawan, suka menolong dan gotong royong (love, compassion, caring, empathy, generousty, moderation, cooperation); (f) Percaya diri, kreatif dan pekerja keras (confidence, assertiveness. Creativity, resourcefulness, courage, determination and enthusiasm); (g) Kepemimpinan dan keadilan (justice, fairness, mercy, leadership); (h) Baik dan rendah hati (kindness, friendness, humility, modesty); dan (i) Toleransi dan kedamaian dan kesatuan (tolerance flexibility, feacefulness, unity. Dale F. Hay, jeniffer Castle dan Jessica Jewett (1994) sebagaimana dikutip oleh Seodarsono (2010: 66-67) menyebutkan ada delapan karakter yang mesti ditumbuhkembangkan dalam kehidupan seseorang, yaitu (a) social sencitivy, (b) nurturance and care, (c) sharing, cooperation, and fairness, (d) helping others, (e) honestly, (f) moral choice, (g) self control and self monitoring, dan (h) social problem solving and conflic resolution, Sementara itu dalam Deklarasi Aspen menyepakati enam etika utama (core ethical values untuk diajarkan dalam sistem pendidikan di Amerika yaitu:
1. trustworthy, honesty and integrity,
2. treats people with respect,
3. responsible,
4. fair,
5. caring, dan
6. good citizen
Dalam konteks Indonesia sebagaimana dirumuskan dalam Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa (2010) ada beberapa karakter individu yang mesti dikembangkan yang secara garis besarnya bersumber dan hasil olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah rasa dan karsa. Masing-masing sebagai berikut:
1. Karakter yang bersumber dari olah hati adalah berirnan dan bertakwa, jujur, amanah, adil, tertib, taat aturan bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban dan berjiwa patriotik.
2. Karakter yang bersumber dan oleh pikir, antara lain cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, produktif, berorientasi iptek, dan reflektif.
3. Karakter yang bersumber dan olah raga, antara lain bersih dan sehat, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria dan gigih.
4. Karakter yang bersumber dan olah rasa dan karsa antara lain kemanusiaan, saling menghargai, gotong royong, kebersamaan, ramah, hormat, toleran, nasionalis, peduli, kosmopolit (mendunia), mengutamakan kepentingan umum, cinta tanah air, bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja.
Untuk bisa membangun karakter tersebut tentunya diperlukan suatu upaya yang komprehensif dan sistematis. Secara garis besar upaya pendidikan karakter mesti dilakukan dalam dua konteks, yaitu konteks makro dan konteks mikro. Konteks makro pendidikan karakter bersifat nasional yang mencakup keseluruhun konteks perencanaan dan implementasi pengembangan karakter yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan nasional. pengembangan karakter berlangsung dalam lingkup satuan pendidikan secara holistik. Satuan pendidikan sebagai leading sector, berupaya memanfaatkan dan rnemberdayakan lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus menerus pendidikan karakter di satuan pendidikan.
Secara mikro pengembangan karakter dapat dibagi dalam empat pilar, yakni kegiatan pembelajaran di kelas, kegiatan keseharian dalarn bentuk keseharian budaya sekolah (school culture); kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstra kurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah, dan dalam masyarakat. Untuk pembelajaran di kelas pengembangan nilai/karakter dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Khusus mata pelajaran pendidikan agama karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap, maka pengembangan nilai/ karakter harus menjadi focus utama yang dapat dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga dampak pengiring.
Pada saat ini, pendidikan karakter sedang buming-bumingnya diterapkan pada pendidikan anak usia dini, mulai dari Taman Kanak-Kanak, Raudatul Athfal, Kelompok Bermain, TPA, dan lembaga pendidikan yang lainnya. Pendidikan karakter merupakan pondasi peningkatan mutu PAUD.
Ada beberapa Tingkat Pencapaian Perkembangan (TPP) pendidikan karakter yang disampaikan kepada anak usia dini, diantaranya yaitu :
1. Religius,
2. Jujur,
3. Toleransi,
4. Disiplin,
5. Kerja keras,
6. Kreatif,
7. Mandiri,
8. Demokratis,
9. Rasa ingin Tahu,
10. Semangat kebangsaan,
11. Cinta Tanah Air,
12. Menghargai prestasi,
13. Bersahabat / komunikatif,
14. Cinta damai,
15. Gemar membaca,
16. Peduli lingkungan,
17. Peduli sosial, dan
18. Tanggung jawab (Reni Ruhaeni, 2011)

Asep Barhia (2012:39-40) prilaku berkarakter baik yaitu :
1. Keimanan dan ketakwaan,
2. Kejujuran,
3. Disiplin,
4. Percaya diri,
5. Tanggung jawab,
6. Keadilan,
7. Sopan santun,
8. Pemaaf,
9. Sabar,
10. Peduli,
11. Kreativitas, dan
12. Toleransi.
Menurut Ratna Megawangi (2004:95), nilai karakter yang disampaikan pada anak usia dini yaitu :
1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya,
2. Kemandirian dan tanggung jawab,
3. Kejujuran/amanah,
4. Hormat dan santun,
5. Dermawan,
6. Percaya diri,
7. Kreatif dan pekerja keras,
8. Kepemimpinan dan keadilan,
9. Baik dan rendah hati serta toleransi.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top