Selasa, 19 Mei 2015

Tipe-Tipe Pola Asuh dalam Pembinaan Keagamaan Anak

Menurut Pembina Yayasan Pendidikan Islam Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof Dr Jawad Dahlan, jika berbicara tentang pendidikan anak, maka kita sedang berbicara tentang kita sebagai orang tua, nenek, kakek, dan seluruh keluarga besar yang ada. ''Pola asuh tiap keluarga terhadap anak berbeda untuk tiap keluarga, dan hal ini tidak dapat disamakan untuk tiap keluarga,'' katanya.
Setidaknya, kata Jawad , ada delapan tipe asuh yang dipergunakan orang tua. Tipe ini biasanya disebut dengan tipe rumah. Pertama tipe arena tinju, yang berarti di dalam rumah tersebut sering terjadi perkelahian orang tua yang tidak pernah selesai. Kedua, tipe kuburan, di dalam rumah dengan tipe ini tidak diperbolehkan adanya suara atau aktivitas. Ketiga, disebut dengan tipe pasar, dalam tipe ini suasana rumah sangat ramai karena transaksi. Segala sesuatu diperhitungkan dan diperjualbelikan. Misal upah akan diberikan kepada anak jika anak bersedia mandi atau belajar.
Tipe selanjutnya, tipe restoran di mana yang dipikirkan hanya aktivitas makan. Sedangkan tipe hotel, berisi penghuni rumah hanya ada pada saat malam hari dan ketika waktu Subuh tiba, seluruh isi keluarga kembali bubar. ''Selanjutnya tipe sekolah dan tipe masjid,'' katanya menjelaskan. Untuk tipe sekolah, rumah hanya menjadi tempat pembinaan pribadi, dan tipe masjid di seluruh sudut rumah terlihat aktivitas ibadah.
Tipe-tipe rumah ini, lanjut Jawad, menunjukan pola asuh yang diajarkan di dalam rumah tersebut. Apa saja yang menjadi pola asuh anak itu? Menurut Jawad, kesan, perbuatan, perkataan, sikap bahkan mimik muka sudah merupakan pola asuh bagi anak. Respons yang diberikan orang tua ketika anaknya memanggil, kata Jawad, juga merupakan salah satu pola asuh bagi anak. Akibatnya, apabila respons yang diberikan orang tua kurang tepat, maka akan berakibat kurang baik terhadap perkembangan anak. Akibatnya pola asuh bisa berakibat efektif dan baik, demikian pula sebaliknya. Yang seharusnya dilakukan orang tua, lanjut ketua Aptisi wilayah IV ini, jangan menggunakan satu tipe. Mengapa? Sebab, dengan menggunakan satu tipe akan sulit memutuskan suatu masalah ketika dirinya terbentur pada suatu masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh suatu tipe.
Menurut Jawad, orang tua harus menggunakan beberapa tipe. Namun, tidak lantas mencaplok beberapa tipe itu dari sisi luarnya saja. Orang tua harus memperdalam tipe yang dipakai sampai ke akar-akarnya. Jawad mencontohkan, ketika seorang ibu menentukan pola atau tipe masjid dan tipe sekolah, maka si ibu harus mengetahui seluk beluk tipe yang dipilihnya. Karena tidak selamanya tipe masjid hanya dapat digambarkan dengan aktivitas keagamaan saja. Dalam Islam, lanjut dia, tidak hanya mempelajari bagaimana tata cara ibadah. Namun juga si anak mempelajari bagaimana menjadi seseorang umat yang mampu mempelajari segala jenis ilmu.
Begitupun dengan pendidikan. Jawad menjelaskan, selain untuk memintarkan anak, tipe pendidikan ini juga dapat memupuk moral. Untuk masalah baik dan buruknya itu tergantung dari perilaku orang tua itu sendiri. Bahkan dengan hadirnya sekolah full day, akan dapat membantu pendidikan anak ketika orang tuanya sibuk. Yang terpenting adalah cara menciptakan komunikasi antara orang tua dan anaknya. Anak yang seminggu sekali bertemu dengan orang tuanya dengan waktu yang panjang, akan berbeda dengan anak yang bertemu tiap hati dengan orang tuanya walaupun hanya satu jam.
Mengapa begitu? Anak yang bertemu seminggu sekali akan mengalami trauma saat harus menceritakan sesuatu. Sebab, terkadang apa yang disarankan orang tuanya tidak pas bila dilakukan di luar. Namun, apabila bertemu tiap hari walaupun hanya satu jam, orang tua dapat melihat perkembangan anaknya setiap hari ketika anaknya menemui masalah. Orang tua bisa memberikan saran yang pas, ketika saran pertamanya tidak berhasil. Yang penting orang tua harus memberikan responsibilitas terhadap anak. Komunikasi efektif antara orang tua dan anak bukan masalah kualitas ataupun kuantitas anak yang ketika diperbincangkan tidak ada habisnya. Namun, yang penting adalah menciptakan komunikasi dua arah yang intensif.
Jawad mengaku sangat sulit untuk menentukan pola yang baik dalam mendidik anak. Namun, apabila orang tua menginginkan anak yang pandai di bidang eksakta tanpa meninggalkan keagamaan ditambah dengan moralnya yang terpuji, orang tua bisa menyiasatinya dengan mencari tipe yang sejalan dengan nilai religi. Hal ini bisa dicapai dengan memberikan pendidikan hiwar Alquran, Kisasi, hiwar kitab, atau macam-macam pendidikan lainnya.
Sedangkan untuk bidang eksakta, untuk daerah yang berada di daerah kota besar seperti Bandung ini, dapat dicapai dengan cepat. Yang sulit, katanya, adalah menemukan orang yang mengingatkan shalat daripada mengingatkan belajar megejar cita-cita duniawi. Namun Jawad mengakui, mendidik anak tidak hanya dilakoni ketika anak sedang dalam sekolah. Pendidikan anak idealnya harus dipikirkan ketika seorang lelaki dan perempuan memutuskan untuk menikah. Perencanaan yang dimaksudkan adalah perencanaan untuk menyatukan visi dan misi dalam sebuah keluarga. Karena banyak pasangan suami istri yang tersandung visi dan misi berbeda ketika membesarkan anak. Berilah anak pujian ataupun hukuman secara proporsional dan wajar agar mereka tumbuh menjadi anak yang saleh sesuai dengan harapan orang tua. Iringilah kehidupan mereka dengan doa kepada Allah SWT.
Ada 3 Macam Pola asuh yang selama ini digunakan dalam masyarakat yakni Pola Asuh Koersif, Pola Asuh Permisif dan Pola Asuh dialogis.
Pola-pola Asuh ini tidak pernah lepas dari konteks sosial suatu masyarakat. Dan bahkan tingkah laku anak hanya dapat dipahami dengan konteks sosialnya.
Ketiga bentuk pola asuh ini datang silih berganti, sejarahnya sudah 8000 tahun. Kadang-kadang koersif lebih dominan, lalu menyusul permisif kemudian datanglah dialogis untuk mengembalikan manusia ke jalan para nabi dan Rasul .
Pola Asuh Koersif berasal dari satu fase masyarakat otokratis. Suatu masyarakat yang meyakini bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk mengatur perilaku kelompok lain (yang inverior) karena merasa memiliki superioritas.
Sebagian besar kita para orang tua mewarisi pola Asuh yang kita dapatkan secara turun temurun dari orang tua kita.
Lalu sering kali timbul dalam benak kita, dulu orang tua kita menggunakan pola Asuh koersif dan ternyata mereka berhasil menghantarkan kita seperti apa yang kita rasakan saat ini. Namun pada saat kita mencoba menerapkan persis apa yang telah orang tua kita polakan kepada kita kenapa yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan?
Ternyata penyebabnya adalah karena telah terjadi pergeseran nilai tatanan dalam masyarakat tempat anak-anak kita dibesarkan yang ternyata jauh berbeda dengan masyarakat tempat dahulu kita dan orang tua kita dibesarkan.

Dahulu masyarakat berada pada fase otokrasi sedang sekarang sudah cenderung kepada fase permisif, sehingga banyak orang tua dibuat tak berdaya oleh anak-anak mereka yang beberapa tahun lalu masih nunut saja dengan keinginan mereka, sekarang sudah mahir untuk membrontak dan lebih-lebih lagi mereka dilindungi oleh undang-undang.
1. Pola Asuh Koersif : tertib tanpa kebebasan
Pola Asuh koersif hanya mengenal Hukuman dan Pujian dalam berinteraksi dengan anak. Pujian akan diberikan mana kala anak melakukan sesuai dengan keinginan orang tua. Sedangkan hukuman akan diberikan manakala anak tidak melakukan sesuai dengan keinginan orang tua.
Akibat penerapan pola asuh koersif ini akan muncul empat tujuan anak berperilaku negatif yakni : Mencari perhatian, Unjuk kekuasaan, Pembalasan dan Penarikan diri.
Ketika seorang anak dipaksa untuk melakukan perbuatan yang sesuai dengan keinginan orang tua dan dengan cara yang dikehendaki olah orang tua maka anak akan kembali menuntut orang tuanya untuk memberikan perhatian atau pujian kepadanya. Sebaliknya jika anak tidak dapat memenuhi tuntutan orang tuanya maka dia akan merasa hidupnya tidak berharga maka dia akan menarik dirinya dari kehidupan.
Pada saat orang tua menghukum anak karena anak tidak mematuhi keinginannya maka anak akan belajar untuk mencari kekuasaan karena dia merasakan bahwa karena dia tidak memiliki kekuasaanlah dia jadi terhina, jika dia tidak mendapatkan kekuasaan tersebut maka dia akan menanti-nanti saat yang tepat baginya untuk membalasi semua perilaku tak enak yang dia terima selama ini.
Orang tua yang koersif beranggapan bahwa mereka dapat merubah perilaku anak yang tidak sesuai dengan nilai yang mereka anut dengan cara mencongkel perilaku itu lalu menggantikannya dengan perilaku yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan perasaan anaknya.
2. Pola Asuh Permisif : bebas tanpa ketertiban.
Pola asuh ini muncul karena adanya kesenjangan atas pola asuh. Orang tua merasa bahwa pola asuh koersif tidak sesuai dengan kebutuhan fitrah manusia, sebagai pengambil keputusan yang aktif, penuh arti dan berorientasi pada tujuan dan memiliki derajat kebebasan untuk menentukan perilakunya sendiri. Namun disisi lain orang tua tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan terhadap putra putir mereka, sehingga mereka menyerahkan begitu saja pengasuhan anak-anak mereka kepada masyarakat dan media masa yang ada. Sambil berharap suatu saat akan terjadi keajaiban yang datang untuk menyulap anak-anak mereka sehingga menjadi pribadi yang soleh dan sholehah.
Di satu sisi orang tua tidak tahu apa yang baik untuk anaknya, disisi yang lain anak menafsirkan ketidak berdayaan orang tua mereka dengan "orang tua tidak punya pengharapan terhadap mereka."
Akibatnya anak akan terjebak kepada gaya hidup yang serba boleh persis tepat dan sesuai dengan pola yang berlaku pada masyarakat tempat dia dibesarkan saat ini. Di satu sisi orang tua akan selalu menanggung semua akibat perilaku anaknya tanpa mereka sendiri menyadari hal ini.
3. Pola Asuh Dialogis : tertib dengan kebebasan.
Pola Asuh ini datang sebagai jawaban atas ketiadaannya pola asuh yang sesuai dengan fitrah penciptaan manusia . Dia merupakan pola asuh yang diwajibkan oleh Allah swt terhadap para utusannya. Berpijak kepada dorongan dan konsekuensi dalam membangun dan memelihara fitrah anak. orang tua menyadari bahwa anak adalah amanah Allah swt pada mereka dia merupakan makhluk yang aktif dan dinamis. Aktivitas mereka bertujuan agar mereka dapat diakui keberadaannya, diterima kontribusinya dan dicintai dan dimiliki oleh keluarganya.
Dalam memperbaiki kesalahan ,anak orang tua menyadari bahwa kesalah itu muncul karena mereka belum trampil dalam melakukan kebaikan, sehingga mereka akan mencoba untuk membangun ketrampilan tersebut dengan berpijak kepada kelebihan yang anak miliki, lalu mencoba untuk memperkecil hambatan yang mebuat anak berkecil hati untuk memulai kegiatan yang akan menghantarkan mereka kepada kebaikan tersebut. Lalu juga orangtua akan berusaha menerima keadaan anak apa adanya tanpa membanding-bandingkan mereka dengan orang lain atau bahkan saudara kandung mereka sendiri, atau teman bermainnya.
Orangtua akan membiasakan diri berdialog dengan anak dalam menemani pertumbuh-kembangan anak mereka. setiap kali ada persoalan anak dilatih untuk mencari akar persoalan, lalu diarahkan untuk ikut menyelesaikan secara bersama.
Dengan demikian anak akan merasakan bahwa hidupnya penuh arti sehingga dengan lapang dada dia akan merujuk kepada orang tuanya jika dia mempunyai persoalan dalam kehidupannya. Yang berarti pula orangtua dapat ikut bersama anak untuk mengantisipasi bahaya yang mengintai kehidupan anak-anak setiap saat.
Selain itu orangtua yang dialogis akan beusaha mengajak anak agar terbiasa menerima konsekuensi secara logis dalam setiap tindakannya. sehingga anak akan menghindari keburukan karena dia sendiri merasakan akibat perbuatan buruk itu, bukan karena desakan dari orangtuanya.

Pustaka.
-
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top