Jumat, 22 Mei 2015

Sinetron Sebagai Produk Industri di Bidang Informasi dan Komunikasi

TV adalah produk tekhnologi audio visual yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat dewasa ini. TV hadir di tengah-tengah keluarga memberikan kontribusi yang besar terhadap kebutuhan akan informasi, hiburan dan pendidikan.
Sampai sejauh mana pengaruh tayangan televisi terdadap perubahan perilaku pemirsanya ? Pendapat pakar dan hasil penelitian berikut ini mencoba menjawabnya.
  1. Dwyer menyimpulkan, sebagai media audio visual, TV mampu merebut 94 % saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. TV mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50 % dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar TV walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan ingat 85 % dari apa yang mereka lihat di TV setelah tiga jam kemudian dan 65 % setelah tiga hari kemudian (Dwyer, 1988).
  2. Televisi adalah media komunikasi, sedangkan komunikasi adalah suatu bisnis yang besar. Sebagai layaknya setiap bisnis, motivasi dan kebutuhannya adalah untuk mendapatkan keuntungan, bukan untuk meningkatkan kesejahteman masyarakan secara keseluruhan (Croos, 1983;).
  3. Dr. Arif Sadiman M.Sc dalam tulisannya yang berjudul "Pengaruh televisi pada perubahan perilaku" (jurnal teknodik No. 7/IV/Teknodik/Oktober 1999) mengutip Laporan UNESCO, 1994 yang menyatakan bahwa pada tahun 1994 koran-koran di Singapura menyajikan hasil polling pendapat yang dilakukan pihak kepolisian kepada 50 pemuda yang terlibat tindak kekerasan. Hasil polling tersebut menyimpulkan bahwa kebanyakan dari mereka yang melakukan tindak kekerasan suka menikmati film-film kekerasan di TV.
Televisi merupakan media elektronik yang tidak terpisahkan keberadaannya dari umat manusia pada saat ini. Munculnya media televisi dalam kehidupan manusia memang menghasilkan suatu peradaban khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa. Media massa di era globalisasi, informasi dan komunikasi telah melahirkan suatu dampak sosial di segala bidang, pada gilirannya membawa perubahan pada nilai-nilai sosial dan budaya manusia. (Kusnadi, 1996 : 21)
Televisi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan media massa jenis lainnya. Sebagai media massa audio visual, televisi dapat dengan leluasa menarik perhatian pemirsanya karena pesan-pesan yang disampaikannya dapat diserap oleh kedua alat indera sekaligus, yaitu mata dan telinga. Isi pesan yang disampaikannya terlihat sangat nyata, seolah-olah proses penyampaian pesan yang terjadi secara langsung antara komunikator (pengirim pesan) dan komunikan (penerima pesan). Informasi yang disampaikan oleh televisi cenderung lebih mudah dimengerti dibandingkan dengan media massa lainnya, karena dapat didengar audionya dan dapat dilihat secara visual. Sebagai media informasi televisi mempunyai manfaat yang dapat dirasakan oleh setiap orang, baik itu informasi di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan. Dengan televisi, informasi itu dapat diterima secara cepat dan akurat.
Telivisi sebagai media massa memiliki memiliki tiga fungsi utama, yaitu sebagai media informasi (information) sebagai media pendidikan (education) dan sebagai media hiburan (entertainment), (Habib, 2001 : 7)
Walaupun kebanyakan orang membeli Televisi dengan tujuan untuk mendapatkan hiburan melalui secara yang ditayangakan, namun mereka tetap mengharapkan di dalam hiburan tersebut terdapat unsur pendidikan. (Sari, 1995:31)
Sebagai fungsi penerangan, Tatik Kartika Sari (1993 : 32) mengemukakan bahwa televisi sebagai alat yang ampuh, karena mempunyai sifat dalam lingkungan komunikasi mencakup segi- segi immediacy dan realisme. Immediacay mempunyai pengertian langsung dan dekat, suatu peristiwa yang dapat dilihat dan didengar oleh pemirsa di saat peristiwa sedang berlangsung tanpa mengenal jarak. Realisme berarti penyajian dalam kenyataan nyata.
Sebagai fungsi pendidikan, pada dasarnya televisi sebagi media komunikasi massa, mempunyai kekuatan sebagai media pendidikan secara tidak langsung, walaupun acara televisi itu untuk menghibur dan penerangan, akan tetapi di dalam fungsi tersebut sudah terkandung unsur pendidikan seperti pada acara kuis, berita dan lain sebagainya. (Sari, 1995 : 33)
Televisi sudah menarik perhatian banyak orang termasuk anak-anak. Bahkan berdasarkan penelitian anak-anak telah menghabiskan hampir sebagian wkatunya untuk menonton televisi. Jadwal kegiatan anak seperti tidur, belajar serta bermain telah berubah menjadi penonton. (Kompas, edisi 19 September 1993 :6)
Televisi menimbulkan berbagai dampak bagi anak-anak yang menyaksikan tayangannya. Salah satu dampak positifnya menurut para pembicara dalam seminar "Bagaimana Menonton Televisi Yang Pas Untuk Anak-anak", menyatakan bahwa televisi merupakan sarana informasi bagi anak- anak
Sinetron sebagai salah satu paket acara yang ditawarkan station televisi selain film, kuis, berita dan lain sebagainya, telah menempati ruang di dalam diri pemirsa telivisi. Dibuktikan dengan banyaknya sinetron yang mengudara hamper di semua station televisi. Fungsinya yaitu sebagai hiburan keluarga. Sinetron merupakan drama yang mirip dengan filim komersial. (Subandi, 1998 : 247)
Tayangan sinetron yang khusus dikonsumsi anak pada saat ini banyak sekali yang ditampilkan oleh station televisi dengan daya tarik yang berbeda-beda. Berdasarkan peringkat golongan yang paling mudah dijadikan sasaran media telivisi adalah anak-anak. Media audio visual adalah media yang paling kuat pengaruhnya terhadap anak-anak. Pada usia ini, gambar merupaan unsur yang paling menarik, mereka bersemangat dan langsung terpikat dengan informasi yang disuguhkan film-film di televisi tanpa ragu sedikitpun. Seakan- akan film cerita itu merupakan kisah nyata yang har dalam usianya itu, anak-anak telah mendapatkan pengetahuan sekaligus melalui penglihatan dan pendengaran. (Yakan, 1997 : 20)
Salah satu paket acara sinetron yang khusus ditayangkan bagi anak, tapi tidak menutup kemungkinan orang dewasa untuk menontonnya, misalnya sinetron Bidadari yang ditayangkan melalui statsiun swasta RCTI dengan waktu tayang 60 menit dan penayangannya seminggu sekali. Sinetron Bidadari memilih tokoh fantasi. Sinetron ini diharapkan dapat memilih tokoh yang lebih sempurna untuk menampilkan nilai- nilai positif. Seperti Lala tokoh utama cerita ini meskipun masih anak- anak tetapi kehangatan batin dan kepekaan sosial yang tinggi. Hal ini berbeda dengan anak-anak seusianya yang lebih suka bermain boneka yang justru menggelamkan anak dalam kehangatan batin dan cenderung memuaskan diri sendiri. Sedangkan Lala adalah model anak yang ingin memberi manfaat bagi orang lain. Lala sangat cocok dijadikan teladan agar anak berakhlak baik. Kehadiran bidadari yang divisualisasikan berupa wanita cantik merupakan perlambangan hati nurani anak-anak, hati nurani yang positif dan hati nurani yang selalu memiliki keinginan memenangkan kebenaran.
Seperti diungkapkan dalam sinopsis sinetron bidadari di atas, bahwa dalam perbuatan sinetron bidadari diharapkan dapat menciptakan tokoh yang lebih sempurna untuk menciptakan nilai-nilali positif dan dapt dijadikan teladan, agar anak berakhlak baik. Jika berbicara masalah keteladanan memang sangat berhubungan sekali dengan akhlak, dimana dalam menciptakan satu nilai-nilai keteladanan seseorang harus bisa berakhlak baik sehingga akhlaknya itu dapat ditiru dan dijadikan contoh teladan.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sinetron merupakan salah satu bagian dari media komunikasi yang di samping berfungsi sebagai media hiburan, juga sekaligus dapat dijadikan media untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan informasi lainnya.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top