Selasa, 26 Mei 2015

Perlunya Pengembangan Pendidikan Kecakapan Hidup

Pendidikan kecakapan hidup perlu dikembangkan pada proses pendidikan di Indonesia mengingat banyaknya permasalahan yang serius yang memerlukan penanganan antara lain banyaknya anak TK belum mampu menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka terasing dari lingkungannya begitu pula adanya tantangan persaingan global setelah diberlakukannya AFTA 2003.
Kemajuan pendidikan di masa yang akan datang tidak terlepas dari kontek budayanya, maka dari itu bagi bangsa Indonesia ada dua hal utama yang perlu mendapat perhatian penting yaitu kelemahan manusia Indonesia dan hambatan kultural bangsa Indonesia. Adapun beberapa ciri kelemahan bangsa Indonesia (Lubis, 1986) antara lain 1) bersifat hipokrit (munafik), 2) segan bertanggungjawab, 3) berjiwa feudal, 4) percaya takhayul, 5) artistik (hidup lebih menekankan perasaan/naluri), 6) berwatak lemah, 7) tidak hemat, 8) tidak suka bekerja keras, 9) kurang sabar (iri pada orang lain), 10) dapat meniru orang lain hanya bagian kulitnya saja, 11) cenderung malas.
Sedangkan hambatan kultural bangsa Indonesia terhadap tantangan masa depan (Lubis, 1985), antara lain : 1) belum meresapi teknologi rasional, 2) belum menghargai waktu (santai), 3) tidak menuntut ketetapan, 4) tidak menjaga mutu, 5) tidak ada standarisasi, 6) terlalu sering mengubah peraturan tanpa dasar yang mantap, 7) belum kreatif, inovatif, dan cepat tanggap, 8) tidak ada penelitian dan pengembangan hanya beli jadi.
Dari beberapa kelemahan dan hambatan kultural bangsa Indonesia yang dikemukakan di atas menambah keyakinan penentu kebijakan di Depdiknas untuk melaksanakn pendidikan kecakapan hidup (life skill education) dan kita harus membuang kebiasaan buruk bangsa Indonesia terutama bagi generasi muda kita melalui jalur pendidikan.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top