Kamis, 28 Mei 2015

Pembahasan Tentang Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

1. Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi (Competency-Based Curriculum) adalah kurikum pendidikan yang menjadikan kompetensi sebagai acuan pencapaian tujuan pendidikan (Competency-Based Curriculum). (Nurhadi, Burhan Yasin, Agus Gerrad Senduk, 2004 : 111).
Dari pengertian tersebut di atas dapat disimpulan bahwa Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dalam pencapaian tujuan pendidikan menggunakan strategi pembelajaran agar peserta didik bisa terhadap pelajaran yang telah dipelajari bukan hanya sekedar tahu.

2. Pengertian Kompetensi didalam Kurikulum Berbasis Kompetensi
Menurut MC Ashan (1981 : 45) yang dikutip oleh Mulyasa “Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognetif efektif dan psykomotorik dengan sebaik baiknya”. (Mulyasa, 2002 : 38).
Menurut Finch dan Crumkilton (1979 : 222) yang dikutip oleh Mulyasa : “mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, ketrampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan”. (Mulyasa, 2002 : 38).
Dengan beberapa pengertian tersebut diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kompetensi mencakup tugas, ketrampilan, sikap dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu.

3. Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi Dep.Dik.Nas (2002) mengemukakan bahwa Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut :
  • Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  • Berorientasi pada hasil belajar (Learning Outcomes) dan keberagaman.
  • Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
  • Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
  • Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi”. (Mulyasa, 2002 : 42).
Berpijak dari karakteristik tersebut dapat dijabarkan bahwa :
A. Dalam mencapai kompetensi siswa, guru bukan hanya menentukan materi saja, namun harus bisa mencapai tercapainya kompetensi. Dan diakhiri semester tak ada lagi guru mengeluh : “saya belum menuntaskan materi”. Karena pada setiap proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu sudah diberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan terhadap peserta didik, bagaimana melakukannya, dan sumber belajar apa yang harus digunakan.
 
B. Dari hasil belajar memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar yang berbeda yakni sesuai dengan kemampuannya dalam menyerap materi pelajaran, yaitu dalam upayanya belajar mengetahui (learning how to know), belajar melakukan (learning how to do), belajar menjadi diri sendiri (learning how to be) dan belajar hidup dalam beragaman (learning how to live together). Sehingga dengan kemampuan yang berbeda maka dimungkinkan memperoleh kemajuan-kemajuan berbeda pula.
 
C. Dalam pembelajaran Kurikulum Berbais Kompetensi harus menggunakan pendekatan atau metode yang bervariasi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai diantaranya :
  • Apersepsi : Guru memberi motivasi siswa dengan tanya jawab agar mereka benar-benar siap menerima proses pembelajaran yang berlangsung.
  • Ekplorasi : Guru mengajukan beberapa soal atau masalah yang merupakan upaya agar siswa mencari jawaban/informasi dari berbagai sumber (buku-buku, koran, majalah, lingkungan, nara sumber, percobaan dan instansi terkait). Pendekatan semacam ini bisa secara individual atau kelompok.
  • Diskusi dan penjelasan konsep : Guru mengajak siswa untuk membahas masalah-masalah yang didiskusikan oleh siswa dengan memberi bimbingan dan penjelasan untuk memecahkan masalah, mencoba mencari ide pemecahannya, dan menyelesaikannya, kemudian memeriksa kembali atau meluruskan konsep siswa yang belum benar.
Dengan pendekatan atau metode sebagaimana diatas maka kemungkinan besar apa yang diharapkan akan berhasil, karena kegiatan proses tidak monoton dan menjemukan.
 
D. Guru bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, yakni siswa dapat belajar dari apa saja (berbagai macam buku pendidikan yang berkaitan pelajaran tertentu), juga dengan mendayagunakan beraneka ragam sumber belajar.
Dengan demikian tidak ada anggapan bahwa kegiatan pembelajaran adalah ceramah dari guru. Dan peserta didik bisa belajar dengan baik tanpa didampingi oleh guru, dengan harapan siswa mampu dan mau menelusuri aneka ragam sumber belajar yang diperlukan.
Secara garis besar sumber belajar yang ada dan mungkin dikembangkan dalam pembelajaran diantaranya adalah :
  1. Manusia yaitu orang yang secara langsung menyampaikan pesan, seperti guru, konselor, administrator yang dipersiapan untuk kepentingan belajar.
  2. Bahan, yaitu sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, seperti : film pendidikan, buku paket, peta, grafik dan sebagainya.
  3. Lingkungan, yaitu ruang dan tempat dimana sumber-sumber dapat berinteraksi dengan para peserta didik. Misalnya : Ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, kebun binatang, candi, kebun raya, museum dan sebagainya.
  4. Alat dan peralatan, yaitu sumber belajar untuk produksi dan memainkan sumber-sumber lain. Alat dan peralatan untuk produksi misalnya : Kamera untuk produksi foto dan tape recorder untu rekaman. Sedang alat dan peralatan untuk memainkan sumber lain mislnya : proyektor film, pesawat TV, radio dan sebagainya.
  5. Aktivitas, yaitu sumber belajar yang biasanya merupakan kombinasi dalam suatu tehnik sumber lain untuk memudahkan balajar, misalnya : pengajaran berprograma sebagai kombinasi antara tehnik penyajian bahan dengan buku, simulasi, karyawisata dan sebagainya.
Pendayagunaan sumber belajar secara maksimal dimungkinkan orang yang belajar menggali berbagai jenis ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bidangnya, sehingga pengetahuannya secara aktual dan mampu mengikuti ekselerasi tehnologi dan seni yang senantiasa berubah.
 
E. Evaluasi atau penilaian adalah suatu kegiatan atau proses penentuan nilai sesuatu, sehingga dapat diketahui mutu/hasilnya.
Dengan penilaian itu dapat dijadikan sebagai ukuran tertentu, pemberian angka suatu atribut/karakter terhadap orang lain atau obyek tertentu baik itu bersifat kuantitatif maupun kualitatif.
Adapun prinsip dasar dalam evaluasi pendidikan adalah :
  1. Komprehensip, yaitu penilaian secara menyeluruh (secara berkelanjutan). Data nilai diambil dari berbagai sumber dan berbagai cara, bukan hanya dari hasil test saja, sejak dari proses pembelajaran, penampilan, kinerja dan hasil karya siswa.
  2. Contiunitas, yaitu penilaian yang berkesinambungan sebagai sistem pengujian dengan mengacu pada keberlangsungan proses, dari penentuan indikator, penyusunan kisi-kisi soal, penyusunan soal ujian, menilai dan menganalisa nilai hasil ujian. Dimana sistem penentuan tehnik ujian didasarkan pada kemampuan dasar. Dan hasil ujian harus dianalisa untuk menentukan tindakan perbaikan berupa Program Remidial (bagi siswa yang belum menguasai suatu kemampuan dasar dilakukan pengulangan proses pembelajaran, sedang siswa yang telah menguasai diberi tugas untuk pengayaan).
  3. Obyektivitas, yaitu bentuk penilaian yang berdasarkan pada materi yang ada.
  4. Dalam penyusunannya berdasarkan pada keutuhan kompetensi yang mencakup ranah kognitif (melalui sejumlah tagihan), ranah psikomotorik (melalui menirukan, mempraktekkan), ranah efektif (melalui pengamatan, angket dan wawancara), dan asumsi pada pencapaian belajar siswa terhadap minat belajar siswa.

Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top