Sabtu, 16 Mei 2015

Pengertian dan Hakekat Kegiatan Membaca

Kemampuan membaca ditentukan oleh perkembangan bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi utama bagi seorang anak untuk mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya. Anak-anak yang memiliki kemampuan bahasa yang baik umumnya memiliki kemampuan dalam mengungkapkan pikiran, perasaan, serta tindakan interaktif dengan lingkungannya.
Kemampuan membaca akan menunjukkan kemampuan bahasa anak, yang meliputi penguasaan kosa kata, pemahaman, dan kemampuan berkomunikasi.
Dalam pengembangan kemampuan membaca anak usia dini, terdapat beberapa pendekatan yang dilakukan melalui berbagai permainan. Pendekatan yang dimaksud diantaranya adalah metode sintesis, metode global, dan metode whole linguistik. Metode sintesis yang didasarkan pada teori asosiasi, memberikan suatu pengertian bahwa suatu unsure (misalnya unsur huruf) akan bermakna apabila unsure tersebut bertalian atau berhubungan dengan unsure lain (huruf lain) sehingga membentuk suatu arti. (Depdiknas, 2007 : 10)
Unsur huruf tidak akan memilik makna apa-apa kalau tidak bergabung (sintesisis) dengan unsur (huruf) lain, sehingga membentuk suatu kata, kalimat atau cerita yang bermakna. Atas dasar itu, terdapat permainan membaca dimulai dari unsure huruf. Permainan membaca ini dilakukan dengan menggunakan bantuan gambar padasetiap kali memperkenalkan huruf, misalnya a disertai gambar ayam, angsa, anggur apel.
Atas dasar ini, metode global memperkenalkan membaca prmulaan pada anak usia dini yang dimulai dengan memperkenalkan “kalimat”. Kalimat dalam permainan membaca dipilih dari kalimat perintah agar anak melakukan hal-hal yang ada dalam perintah tersebut, seperti “ambil apel itu”. Permainan ini dapat dilakukan dengan menggunakan kartu kalimat, kata, pecahan suku kata, dan huruf. Kegiatan permainan ini dapat dilakukan dengan menggunakan papan flannel, dan karton yang dapat ditempel.
Pendekatan whole linguistic adalah suatu pendekatan dalam mengembangkan membaca dengan mengunakan seluruh kemampuan linguistic anak. Dalam menggunakan pendekatan ini, lingkungan dan pengalaman anak menjadi sumber permainan yang utama. Pendekatan ini juga tidak memfokuskan pada pengembangan bahasa saja tetapi juga intlektual dan motorik anak. Sebagai contoh pada tema “makanan” dengan sub tema buah-buahan, guru memperkenalkan buah apel. Guru bertanya pada anak tentang pengetahuan buah apel dari segi warna,bentuk, rasa, jumlah buah apel.
1. Pengertian huruf
Huruf (Tipo/Typeface/Type/Font) adalah bentuk visual yang dibunyikan sebagai kebutuhan komunikasi verbal. Sedangkan Tipografi adalah Ilmu yang mempelajari tentang Huruf dan penggunaan Huruf dalam aplikasi desain komunikasi visual.
2. Sejarah Huruf
Bahasa tulis merupakan salah satu indikator yang membedakan antara masa awal sejarah dan prasejarah. Perkembangan bahasa tulis bermula sejak sebelum Masehi, di mana awalnya manusia menggunakan bahasa gambar untuk berkomunikasi. Bangsa Afrika dan Eropa mengawali pada tahun 3500-4000 sebelum Masehi dengan membuat lukisan di dinding gua.
Perkembangan cara berkomunikasi melalui tanda dan gambar berkembang terus. Sekitar tahun 3100 SM, bangsa Mesir menggunakan pictograph sebagai simbol-simbol yang menggambarkan sebuah objek. Komunikasi dengan menggunakan gambar berkembang dari pictograph hingga ideograph, berupa simbol-simbol yang merepresentasikan gagasan yang lebih kompleks serta konsep abstrak yang lain.

Perpindahan yang mendasar dari bahasa gambar dan tanda yang dibunyikan (pictograph, ideograph – menunjukan benda serta gagasan) hingga bahasa tulisan yang dapat dibunyikan dan memiliki arti (Phonograph – setiap tanda atau huruf menandakan bunyi) dapat disaksikan pada sistem alfabet Phoenician pertama yang diperkenalkan pada tahun 1300 sebelum Masehi. Alfabet ini terdiri dari 23 simbol yang sangat sederhana dan terbatas hanya sebagai perwakilan unsur bunyi. Sebagai contoh, huruf pertama dari alfabet Phoenician berupa gambar sederhana dari kepala banteng, yang dalam bahasa mereka disebut Aleph, dan kemudian kata ini mewakili bunyi dari huruf ‘A’.
Bangsa Yunani kemudian mengadaptasi sistem alfabet ini ke dalam struktur anatomi huruf yang lebih teratur dengan menerapkan bentuk-bentuk geometris. Perkembangan yang terpenting dari sistem alfabet ini adalah penerapan pola membaca dari arah kiri ke kanan (Alfabet Phoenician dari kanan ke kiri). Istilah Alfabet (Alphabet) berasal dari singkatan 2 huruf pertama dalam sistem alfabet Yunani, yaitu Alpha dan Beta. Sistem alfabet kemudian terus berkembang hingga akhirnya bangsa Romawi menyempurnakan ke dalam bentuk huruf sebagaimana kita kenal dan gunakan sekarang yaitu : ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ.
Huruf Roman atau yang sering kita sebut sebagai huruf latin memiliki jumlah 26 huruf yang diterapkan sejak abad pertengahan dan digunakan sebagai alfabet dalam bahasa Inggris kontemporer.
  • Pentingnya Membaca Anak Usia Dini
Perkembangan kemampuan membaca anak diperkuat melalui aneka pengalaman, seperti : saat berbincang dunia anak, saat dibacakan cerita, saat menggambar dan menulis, menyanyikan lagu, membaca sajak atau pada saat mengajukan pertanyaan, dan bergaul dengan orang lain ketika bermain.
Untuk kemampuan membaca itu sendiri diawali dengan mengenal huruf. Mengenal huruf merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang anak supaya dia dapat membaca. Namun, pengenalan huruf kepada anak usia dini tidak dapat disamakan penyampaiannya dengan anak usia sekolah dasar. Karena pada anak usia dini merupakan usia masa bermain, sehingga penyampaian pengenalan huruf pun harus dilakukan dengan cara bermain.
Dalam mengembangkan bidang pengembangan bahasa terutama dalam mengenalkan huruf. Pembelajaran tersebut disampaikan dengan berbagai macam kegiatan bermain. Misalnya dengan menggunakan kartu bergambar, permainan kata, menghubungkan gambar, berbagi cerita, kata berantai dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, pengenal huruf harus dikenalkan kepada anak sejak usia dini, hal ini dimaksudkan supaya anak terbiasa melihat huruf, senang terhadap huruf, dan anak lebih termotivasi untuk mempelajari tentang huruf. Jika anak sudah tertanam rasa senang terhadap huruf, maka anak akan mudah untuk mengenal huruf, terlebih dengan menggunakan media yang menarik bagi anak. Dengan mengunakan media yang menarik bagi anak diharapkan dapat menarik anak sehingga mau belajar untuk belajar membaca.
Jika anak sudah mengenal huruf, maka dengan mudah anak bisa membaca. Meskipun kemampuannya berkembang secara bertahap. Mulai dari mengenal kata, kalimat sederhana, sampai membaca kalimat. Kemampuan ini harus didasari oleh kesadaran anak sejak dini untuk membiasakan gemar membaca.
  • Indikator Prestasi Anak
Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai terhadap penguasan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan mellaui mata pelajaran, lajimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. (KUBI, 2003 : 894)
Seorang anak dikatakan berprestasi apabila ia telah menguasai materi atau melebihi materi yang disampaikan oleh guru. Seorang guru akan menyampaikan materi pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar serta setandar kompetensi yang telah ditetapkan dan disesuaikan dengan jenjang serta usia anak didik.
Setiap bidang pengembangan yang disampaikan kepada anak memiliki standar kopetensi dan indicator yang berbeda-beda. Oleh karena itu, indikator prestasi anak berbeda-beda. Dan, anak dapat dikatakan berprestasi apabila ia telah menguasai semua kemampuan bidang pengembangan sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Misalnya dalam prestasi membaca anak usia dini. Indikator keberhasilannya yaitu : anak dapat membedakan huruf, dapat memisahkan huruf vocal dan konsonan, dapat menyebutkan huruf awal dan kahir yang sama, dapat menulis namanya sendiri, dapat menghubungkan gambar dengan tulisan, dapat membuat gambar dengan beberapa coretan.
  • Tahapan Perkembangan Membaca Anak Usia Dini
Membaca merupakan kegiatan yang melibatkan unsur auditif (pendengaran) dan visual (pengamatan). Kemampuan membaca dimulai ketika anak senang mengeksplorasi buku dengan cara memegang atau membolak-balik buku.
Secara khusus perkembangan kemampuan membaca pada anak berlangsung dalam beberapa tahapan sebagai berikut :
1. Tahap pantasi (magical stage)
Pada tahap ini anak mulaibelajar mengunakan buku, dia berpikir bahwa buku itu penting, membolak-balik buku dan kadang-kadang anak membawa buku kesukaannya.
2. Tahap pembentukan konsep (self concept stage)
Anak memandang dirinya pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan.pada tahap ini anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta dapat menemukan kata yang dikenalnya, dapat menggunakan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalnya serta sudah mengenal abjad.
3. Tahap pengenalan bacaan (Bridging reading stage)
Pada tahap ini, anak dapat mengungkapkan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dkenalnya serta mengenal abjad.
4. Tahap Pengenalan Bacaan (take-off reader stake)
Anak mulai menggunakan isyarat secara bersama-sama. Anak tertarik pada bacaan, mulai mengingat kemabli cetakan pada konteknya, berusaha mengenal tanda tanda pada lingkungan serta membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi, atau papan iklan.
5. Tahap membaca lancar (Independent reader stage)
Pada tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku yang berbeda secara bebas. Menyususn pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya, dapat membuat perkiraan bahan-bahan bacaan. Bahan-bahan yang berhubungan secara langsung dengan pengalaman anak semakin mudah dibaca.
Pada tahap ini, orang tua dan guru masih tetap membacakan berbagai jenis buku pada anak-anak. Tindakan ini akan mendorong agar dapat memperbaiki bacaannya. Me mbantu menyeleksi bahan-bahan bacaan yang sesuai serta membelajarkan cerita yang berstruktur.
Untuk memberikan rangsangan positif terhadap munculnya berbagai potensi bahasa anak di atas, maka permianan dan ebrbagai peralatnnya memegang peranan penting. Lingkungan, termasuk di dalamnya peranan orang tua dan guru, seharusnya menciptakan berbagai aktivitas bermain sederhana yang memberikan arah dan bimbingan agar berbagai potensi yang tampak akan tumbuh berkembang secara optimal.
Perkembangan kemampuan membaca biasanya juga berbarengan dengan kemampuan menulis yang banyak terkait dengan perkembangan motorik anak.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top