Jumat, 22 Mei 2015

Pengaruh Penayangan Sinetron Terhadap Sikap Siswa Kepada Guru

Dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, seringkali pengajar harus berhadapan dengan siswa-siswa yang prestasi tidak sesuai dengan harapan pengajar. Bila hal ini terjadi dan ternyata kemampuan konnitif siswa cukup baik, pengajar cenderung untuk mengatakan bahwa siswa tidak bermotivasi dan menganggap hal ini sebagai kondisi yang menetap.
Sebenarnya motivasi, yang oleh eysenck dan kawan-kawan dirumuskan sebagai suatu proses yang menetukan tingkatan kegiatan, intensitas, konsistensi, serta arah umum dari tingkah laku manusia. Adalah merupakan konsep yang rumit dan berkaitan dengan konsep-konsep lain seperti minat, konsep diri, sikap, dan sebagainya. Siswa yang tampaknya tidak bermotivasi, mungkin pada kenyataannya cukup bermotivasi tapi tidak dalam hal-hal yang diharapkan pengajar. Mungkin siswa cukup bermotivasi untuk berprestasi di sekolah, akan tetapi pada saat yang sama ada kekuatan-kekuatan lain seperti misalnya teman-teman yang mendorongnya intuk berprestasi di sekolah.
Jumlah motivator yang mempengaruhi siswa pada suatu saat yang sama dapat banyak sekali, dan motif-motif (yaitu faktor yang membangkitkan dan mengarahkan tingakh laku) yang dibangkitkan oleh motivator-motivator tersebut mengakibatkan terjadinya sejumlah tingkah laku yang dimungkinkan untuk ditampilkan oleh seorang siswa. Ada bermacam-macam teori motivasi dan teori yang paling terkenal kegunaannya dalam menerangkan motivasi siswa adalah yang dikembangkan oleh Maslow (1943:1970)
Kusnadi (1996 : 100) mengatakan, bahwa ada tiga dampak yang ditimbulkan dari acara televisi terhadap pemirsa, yaitu :
  1. Dampak kognitif, yaitu kemampuan seseorang atau pemiras untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan telivisi dan melahirkan pengetahuan bagi pemiras, contoh : acara kuis di televisi
  2. Dampak peniruan, yaitu pemiras dihadapkan pada trendi actual yang ditayangkan televisi, contoh : model pakaian, atau model rambut dari bintang televisi
  3. Dampak prilaku, yaitu proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang ditayangkan televisi dan diterapkan dalam kehidupan pemirsa sehari- hari.

Dampak yang lain yang ditimbulkan oleh acara- acara yang ditayangkan oleh televisi (Seminar Sehari Tentang Pengaruh Televisi Terhadap Perkembangan Sikap dan Jiwa Anak, Jakarta 9 Maret 1991), antara lain :

1) Dampak televisi terhadap kebudayaan
Informasi, pesan-pesan dan nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap tayangan televisi merambat dan perlahan membentuk jaringan nilai-nilai baru dalam masyarakat. Bagaimana tidak, televisi menciptakan dunia yang indah, cantik, sehat, bersih dan canggih, sekaligus dunia yang keras, kotor, muram dan cengeng.
Televisi mencampurbaurkan nilai dari berbagai kebudayaan seluruh dunia yang sebagian besar diantaranya datang dari barat dan negara asing lainnya, yang berbeda dengan karakter dan kebudayaan lokal atau Indonesia yang semuanya ada dalam layar kaca itu.
2) Dampak televisi terhadap perkembangan jiwa dan sikap anak
Televis tidak hanya mempengaruhi dari sifat kognitif (ilmu pengetahuan) melainkan juga dari segi apektif (perasaan), hingga tingkah laku (behaviour), meskipun pada kenyataannya tidak sama pada setiap tingkatan manusia usia remaja atau usia sekolah (siswa)

Berdasarkan kajian the allrance for children and television di Kanada, minat untuk nonton televisi mulai tumbuh pada usia 2-5 tahun, pada awalnya mereka sulit untuk mengikuti dan mengingat cerita. Karena itu mereka lebih tertarik pada gambar yang ditampilkan.
Sebelum usia empat tahun, anak-anak tidak bisa membedakan iklan dan program televisi, tidak heran jika mereka sangat mempercayai iklan dan tokohnya kartun itu nyata. Namun untuk kalangan remaja (siswa) sebagai iklan biasanya menjadi trend mode atau bahsa gaul yang menjadi identitas dan gaya komunikasi mereka dalam berhubungan atau berinteraksi, baik dengan teman-teman maupun dengan yang lainnya. Mereka cenderung merasa lebih percaya diri dengan gaya hidup dan penampilan dengan meniru para tokoh iklan danbintang pujaannya dan ironisnya lagi, mereka telah melupakan norma-norma dan budaya bangsa yang sarat dengan muatan moral dan etika ketimuran.
Melihat dampak yang dihasilkan dari televisi tersebut, tentunya tidak bisa menghilangkan begitu saja televisi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan selama ini, agar dapat menghindarkan anak-anak dari pengaruh buruk televisi. Tetapi bagaimana mencari pemecahan dan dapat menekan damapak televisi sekecil mungkin.
Ada beberapa cara yang dapat kita gunakan agar dapat menjadikan televisi sebagai media pendidikan bagi anak
  1. Menjadiakan televisi sebagai salah satu sumber belajar. Acara-acara yang bersifat informatif, seperti berita, dokumenter, dialog, diskusi, dimafaatkan untuk menunjang dan memperkaya budaya anak.
  2. Mendorong minat membaca. Acara tertentu di televisi dapat digunakan memancing minat membaca, misalnya sebuah film atau sinetron tentang perjuangan kemerdekaan dapat dikaitkan dengan buku mengenai hal itu.
  3. Membentuk kebiasaan menonton televisi yang baik. Anak-anak harus dibiasakan menonton televisi secara selektif, caranya dengan melatih mereka membuat jadwal acara televisi di surat kabar. Penjadwalan ini bertujuan agar kebiasaan menonton tidak menyita waktu maupun mengganggu kegiatan lain yang juga harus dilaksanakannya. Seperti belajar, bermain dan lain sebagainya. Jelaskan kepada anak bahwa masih banyak hal yang menarik selain televisi.
Agar isi pesan televisi dapat dicerna anak, maka:
  1. Berikan informasi tentang ide yang ada di balik program
  2. Berikan penjelasan mengenai kata-kata asing dan informasi efek khusus.
  3. ciptakan situasi diskusi menyangkut pengalaman tiap anak yang diterima dari televisi dan isi pesannya.
Menurut Nina Armando, seorang pengamat Media Ramah Lingkungan (MARKA), masa anak-anak merupakan masa belajar, dimanapun dan apapun yang mereka lakukan, anak-anak tengah mencari tahu dunia sekitarnya. Pada saat yang bersamaan mereka juga mengembangkan kemampuan, nilai-nilai dan cara-cara berpikir untuk dijadikan panduan dalam hidupnya. Karena itu jika anak-anak menghasiskan waktunya dengan menonton televisi, maka acara televisi sangat potensial mempengaruhi cara bermain, bahkan cara beroikir mengenai dunia, keluarga dan dirinya sendiri.
Dalam hal ini, sinetron bidadari misalnya, adalah tayangan yang ditayangkan di stasiun RCTI apabila dihibungkan dengan pengaruh televisi terhadap cara bermain dan berpikir anak tentang nilai yang selanutnya diaktualisasikan melalui sikap mereka, maka otomatis tayangan sinetron tersebut dapat mempengaruhi cara berpikir anak yang menontonnya.
Apabila dilihat tujuan dari penayangan sinetron bidadari yang diharapkan dapat menciptakan tokoh yang lebih sempurna untuk menyampaikan nilai-nilai positif dan dijadikan teladan agar anak bersikap baik. Maka tidak menutup kemungkinan bahwa sinetron bidadari cocok dijadikan tayangan yang dapat membentuk persepsi berpikir anak tentang nilai-nilai positif terutama nilai pendidikan akhlak.
Menurut hasil penelitian dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), sinetron bidadari misalnya, masuk pada tayangan dengan predikat aman ditonton oleh anak-anak. Tetapi apabila dilihat dari kenyataannya, walaupun masuk kepada kategori aman, pada penayangannya masih ada adegan-adegan yang tidak layak ditonton anak, contoh misalnya masalah percintaan, dendam, iri hati dan dengki.
Hal lainnya sinetron ini adalah cenderung menjual mimpi dan cara berpikir instant, dan itu mungkin sedikit bersebrangan dengan tujuan semula sebagai sinetron yang dapat menyampaikan nilai-nilai positif dan teladan bagi anak. Walaupun mungkin adegan tersebut adalah sebagai penambah ramainya konflik, atau itu mungkin sebagai bahan perbandingan mana sifat yang baik dan mana sifat yang buruk, dan kemudian apakah ia setelah mengetahuinya akan mempengaruhi pola berpikir anak tentang nilai-nilai positif yang ada dalam isi sinetron.
Contoh lain adalah sinetron kawin gantung yang ditayangkan di station televisi SCTV, menayangkan kisah tentang pelajar (siswa-siswi SMU), baik di lingkungan keluarga di rumah, di lingkungan pendidikan sekolah, maupun di lingkungan lainnya. Yang menarik dalam sinetron tersebut adalah bagaimana sikap mereka (siswa) terhadap gurunya digambarkan sebagai guru-guru yang kurang berwibawa, lucu, dan menjadi bahan olok-olokan siswa.
Sehubungan dengan hal ini, jika anak-anak usia sekolah, terutama remaja usia SMU sangat atau terlalu apresiatif dalam menonton sinetron ini, maka tidak meutup kemungkinan nilai-nilai budaya, nilai-nilai etika dan nilai-nilai lainnya diserap oleh mereka, dihayati, dan selajutnya diikitu dan dijadikan trend atau model oleh mereka, sehingga mempengaruhi pole sikap mereka dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari uraian tersebut di atas, dapat digambarkan bagaimana hubungan sinetron dan siswa, terutama pengaruhnya dalam berprilaku dan bersikap termasuk pola pikir dan tata nilai yang memotivasi mereka untuk bertindak dan mereka kembangkan dalam kehidupan nyata.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top