Jumat, 22 Mei 2015

Penayang Sinetron Tentang Pelajar di Televisi

Televisi tidak bisa dipungkiri, kini boleh jadi telah menjadi pengasuh setia masyarakat. Tak terkecuali anak-anak. Yang jadi masalah, kalau anak-anak menonton tayangan telivisi yang tidak sesuai dengan usianya. Misalnya, tayangan seks dan kekerasan. Anak-anak yang masih rentan daya kritisnya, akan mudah sekali terpengaruh dengan isi dan materi tayangan televisi yang ditontonnya, dan pengaruhnya bisa terbawa sampai mereka dewasa.
Oleh sebab itu para orang tua senantiasa diingatkan untuk menerapkan kontrol yang ketat terhadap kebiasaan menonton tivi bagi anak-anaknya. Karena kalau tidak dimulai dari sekarang, dampaknya sangat membahayakan buat perkembangan jiwa mereka. Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah. (Publikasi, 2004 )
Hasil penelitian oleh Dr. Leonard Eron dan Dr. Rowell Huesmann dari University of Michigan menunjukkan, anak yang menghabiskan waktu dengan menonton TV cenderung lebih agresif. Apalagi kalau yang ditontonnya adalah tayangan yang buruk dan penuh dialog kasar. Anak bisa terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Sementara itu, Mary Win dalam bukunya The Plug-In-Drug dan Unplugging The Plug-In-Drug mengungkapkan sejumlah dampak menonton televisi bagi anak-anak. Antara lain bisa menimbulkan ketagihan dan ketergantungan serta pola hidup konsumtif di kalangan anak-anak. Anak-anak akan merasa pantas untuk menuntut apa saja yang ia inginkan, alias anak akan menuntut gaya hidup borju.
Psikolog yang biasa mengasuh rubrik Anda dan Buah Hati di sebuah majalah keluarga, Evi Elvianti pada eramuslim mengungkapkan, dari tayangan TV seorang anak bisa meniru pola-pola perilaku baru yang bisa mereka pelajari. Dan yang memprihatinkan pola-pola perilaku baru itu kebanyakan yang bersifat negatif. Karena buat seorang anak, ketika ia menonton TV, yang ia serap hanyalah bentuk tayangan atau tampilannya saja.
Harian Republika, edisi hari Rabu (18/8/04), memuat surat pembaca dari seorang siswi SLTP IT Al-Hikmah. Hana, nama siswi SLTP itu, dalam suratnya mengungkapkan kekhawatirannya atas sejumlah tayangan sinetron remaja di televisi. Menurut Hana, sinetron-sinetron itu memberi pengaruh besar terhadap merosotnya moral dan akidah pelajar Indonesia. Hana mencontohkan sinetron berjudul Curi Pandang Cari Perhatian, Bulan dan Bintang, dan Di Sini Ada Setan, sebagai sinetron yang tidak bagus bagi anak-anak dan remaja Indonesia. “Sepertinya sudah di negara Barat saja,” begitu tulis Hana dalam suratnya. Bukan cuma mengkritik, Hana juga menghimbau kalangan pertelevisian untuk mengurangi bahkan menghilangkan tayangan yang dapat merusak moral dan akidah pelajar Indonesia.
Kita mungkin patut berbangga, masih ada remaja yang punya keprihatinan dan perhatian terhadap tayangan-tayangan sinteron remaja yang ada di TV. Paling tidak, remaja seperti Hana ini, sudah punya mampu memilah mana tayangan yang baik dan tidak baik untuk dirinya.
Bentuk keprihatinan semacam ini, khususnya terhadap tayangan sinetron remaja di TV sebenarnya sudah seringkali kita jumpai. Bukan hanya menyoal dampak, tapi mengusik pertanyaan beginikah gambaran remaja Indonesia sekarang ini? Sinetron macam apa yang patut dikritisi dan sampai kapan remaja kita akan dijejali dengan tayangan yang hanya menawarkan mimpi, kekerasan dan seks?
Walaupun tak semuanya ditayangkan pada jam tayang utama, namun sinetron remaja di layar kaca bisa dikatakan tetap berjaya. Meskipun kini stasiun-stasiun televisi juga banyak mengetengahkan film seri drama Asia untuk pemirsa remaja, namun sinetron lokal tampaknya tetap tak kekurangan pemirsa.
Judul demi judul sinetron remaja di televisi datang dan pergi silih berganti. Kalau sebagian orang mengatakan cerita pada sinetron remaja merupakan jiplakan dari film asing, bak anjing menggonggong kafilah berlalu. Kenyataannya, sinetron remaja terus mewarnai layar televisi (TV).
Sekarang ini belasan judul sinetron remaja muncul di layar kaca, seperti Sephia, Siapa Takut Jatuh Cinta, Saat Cinta Suka Kamu, ABG, Opera SMU, Vanya, Ada Apa dengan Pelangi, Cinta SMU, sampai Sexy Sixx.
Itu belum termasuk film televisi (FTV) dan layar miniseri (LMS) yang berganti-ganti judulnya setelah tiga - empat episode. SCTV menayangkan FTV khusus remaja tiap hari Jumat. Bahkan, LMS sengaja hanya menampilkan cerita-cerita tentang remaja sejak bulan Juli 2002.
Para pembuatnya maupun pengelola stasiun TV seolah menutup mata pada kenyataan bahwa apa yang ditampilkan dalam sinetron itu sebenarnya tak beda dengan sinetron biasa yang umumnya menjual mimpi. Cara penyajian atau kemasannya pun tak berbeda antara sinetron biasa dengan sinetron remaja, sama-sama menampilkan hal-hal yang terasa artifisial.
Misalnya dalam sinetron Amanda. Agnes Monica yang berperan sebagai Amanda, seorang pelajar SMU, dandanannya ke sekolah tak berbeda dengan dandanan seorang pelajar mau pergi ke pesta. Hanya seragam sekolah yang dikenakan Amanda menunjukkan dia di sekolah. Akan tetapi, dandanan rambutnya, cukuran alisnya, pewarna kuku, dan aksesori yang dikenakannya bukan hal lumrah bagi umumnya pelajar SMU di sekolah.
Menurut Wenny Pahlemy, sinetron remaja kini menjadi program andalan stasiun televisi menyusul keberhasilan salah satu sinetron remaja meraih rating tinggi tahun 2001.
Berdasarkan pengamatan Wenny dari segi kuantitas, produksi sinetron remaja juga meningkat cukup tajam. Di tahun 2004, jumlah produksi sinetron remaja adalah 3.883. Sementara, dari Januari hingga Mei 2005 jumlah produksi sinetron remaja sudah mencapai 2.01.
Dia menjelaskan, pembelajaran tidak hanya dilakukan di kelas, tetapi juga melalui berbagai model yang ditemui sehari-hari. Kalau yang dilihat setiap hari adalah sinetron yang menayangkan tema-tema negatif, dengan sendirinya nilai-nilai itu akan tertanam dalam benak si remaja.
Padahal menurut Guntarto, tayangan-tayangan televisi yang mengandung kekerasan atau cabul, bisa dikenai sangsi pidana. Undang-Undang No.32/2002 tentang Penyiaran butir b, mempertegas hal tersebut. Di situ disebutkan, isi siaran dilarang menonjolkan unsur-unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika, dan obat terlarang atau pada butir c nya ditambahkan, mempertentangkan suku, agama, ras dan antar golongan. Setiap orang yang melanggar aturan itu, diancam dengan hukuman penjara paling lama 5 tahun dan atau denda sebesar 10 milyar rupiah.
Jadi sebenarnya, sudah ada aturan hukum yang jelas soal tayangan televisi, termasuk sinteron. Yang belum jelas, memang siapa yang berhak mengajukan gugatan pidana ini. Masyarakatkah atau institusikah ?
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top