Jumat, 22 Mei 2015

Pembinaan Pendidikan Agama Bagi Remaja

Pembinaan pendidikan agama Islam harus dilakukan oleh orang dewasa yang mempunyai sangkutan tanggungjawab atasnya. Orang yang mempunyai tanggungjawab itu adalah para orang tua remaja, pendidikan, pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan guru agama. Aj. Soejono (1986 : 60) mengemukakan bahwa :
Orang dewasa yang utama mempunyai tanggungjawab terhadap anak-anaknya adalah ibu dan bapaknya, karena mereka mempunyai hubungan darah dengannya. Orangtua tidak cukup mempunyai kekuatan, kemampuan, waktu dan sebagainya untuk memberikan pendidikan tidak cukup mempunyai kekuatan, kemampuan, waktu dan sebagainya untuk memberikan pendidikan yang diperlukan oleh anaknya, maka mereka memberikan dari sebagian tanggungjawabnya kepada orang tua dewasa lain untuk menolong dan membimbingnya. Mereka adalah guru di sekolah, guru agama dan rohaniwan keagamaan dan bidang pendidikan ketuhanan, pemimpin kepemudaan, pimpinan asrama, pimpinan ahli dalam bidang skill atau keprigelan, dan sebagainya.

Sebagai realisasi dari tugas pendidikan agama bagi remaja, akan dibahas tiga lembaga pendidikan bagi remaja, yaitu : pendidikan dan keluarga, pendidikan di sekolah dan pendidikan remaja di lembaga pendidikan luar sekolah. Pendidikan dalam keluarga maksudnya pendidikan di rumah yang dilaksanakan oleh ayah, ibu, saudara-saudaranya. Sedangkan pendidikan di luar sekolah akan dikhususkan pendidikan di dalam organisasi remaja.
1. Pendidikan dalam Keluarga
Orang tua adalah orang yang pertama dan paling utama mempunyai peranan dan tanggungjawab yang penting dalam pembinaan pendidikan agama Islam terhadap putra-putrinya. Hal ini karena secara kodrati orang tua diberi kepercayaan untuk mendidik, membimbing dan mengasuh anaknya. Ayat-ayat yang berhubungan dengan hal ini di antaranya :

إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ {15}

Artinya : Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu dan di sisi Allah lah pahala yang besar. (QS. Ath Tagabun [64] : 15)
Pada ayat lain masih terdapat perintah seperti untuk menjaga diri sendiri dan keluarga dari siksa api neraka. Lalu pada ayat lain lagi perintah harus takut kepada Allah seandainya meninggalkan generasi yang lemah (QS. At Tahrim [66] : 6 dan An Nisa [4] : 9)

Berdasarkan perintah Allah SWT di atas, maka orang tua hendaknya membina pendidikan agama bagi anak-anaknya yang remaja. Namun demikian pembinaan pendidikan agama Islam bagi remaja bukan masalah yang ringan dan bukanlah masalah yang harus diatasi pada masa remaja saja, melainkan harus dirintis dan dibina semenjak dini.

2. Pendidikan agama bagi remaja di sekolah
Di sekolah, guru mempunyai peranan penting dalam mendidik siswanya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sanafiah Faisal (1981 : 104) bahwa dalam system pendidikan persekolahan diakui atau tidak, kedudukan guru sangat menentukan. Jumlah dan kualifikasi guru amat menjadi perhatian di dalam persekolahan.

3. Pendidikan agama bagi remaja di lembaga pendidikan luar sekolah
a. Pengertian lembaga pendidikan luar sekolah
Yang menjadi permasalahan di sini adalah apakah yang dimaksud dengan pendidikan luar sekolah ? lalu samakah dengan pendidikan non formal ? untuk menjawab pertanyaan itu penulis akan jelaskan dalam pembahasan ini.
Mengenai pendidikan luar sekolah Sanafiah Faisal (1984 : 63) menyebutkan bahwa pendidikan luar sekolah bisa disebut pendidikan non formal plus, pendidikan informal minus, pendidikan dalam keluarga dan pengalaman keseharian yang stimulus responnya bukan bersumber dari aktivitas lembaga. Batasan ini menunjukkan bahwa pendidikan luar sekolah itu meliputi pendidikan non formal dan informal. Pendidikan informal itu meliputi pendidikan informal yang tidak melembaga termasuk ke dalam dan yang melembaga ke luar. Sedangkan pendidikan informal yang melembaga termasuk ke dalam kelompok pendidikan luar sekolah. Dengan pendidikan pendidikan luar sekolah adalah pendidikan non formal dan pendidikan informal yang melembaga, karena pendidikan non formal sudah melembaga.

b. Kegiatan pendidikan luar sekolah dalam hubungannya dengan pendidikan formal di sekolah
Pendidikan luar sekolah dilihat dari kegiatannya ada yang bersifat melengkapi pendidikan sekolah, menambah yang diperoleh di sekolah dan yang menggantikan sekolah. Ketika macam atau variasi pendidikan luar sekolah dikemukakan oleh M. Sardjan Kadir (1981 : 34) dengan istilah komplemen pendidikan, suplemen pendidikan dan relacemen pendidikan. Ketiga variasi ini secara jelasnya sebagai berikut :
Pertama : Komplemen pendidikan
Menurut M. Sardjan Kadir (1981 : 35) bahwa tipe pendidikan non formal ini biasanya melengkapi atau menyempurnakan pendidikan yang diberikan oleh pendidikan formal. Sasaran pendidikan pada umumnya adalah pelajar yang berbarengan terdaftar di sekolah dasar atau menengah. Kegiatan dilaksanakan di sekolah dan mengaktifkan para pengajar atau juga dilaksanakan di luar sekolah. Contohnya klub olah raga, kelompok seni dan sebagainya yang aktivitasnya berfungsi untuk melengkapi komponen-komponen non kelas dan kurikulum sekolah formal.
Yang termasuk tipe ini adalah tipe pendidikan non formal yang memakai atau tidak fasilitas sekolah, tetapi diorganisasi atau disupervisi oleh personal atau organisasi sekolah. Misalnya bermacam-macam organisasi pemuda, seperti kepanduan, klub pemuda tani, aktivitas pelayan suka rela yang sering kali disponsori oleh organisasi swasta.
Kedua : Suplemen pendidikan
Tipe pendidikan non formal ini berfungsi menambah belajar yang dihasilkan di sekolah. Hal ini seperti dikemukakan oleh M. Sardjan Kadir (1981 : 36) yang menyebutkan bahwa kategori pendidikan non formal ini biasanya datang terakhir dalam kehidupan setelah sejumlah pendidikan non formal diselesaikan oleh seseorang dan berguna untuk menambah belajar yang dihasilkan dalam latar-latar sekolah. Cenderung menambah keterampilan sebagai bekal kehidupan mereka di masyarakat. Contoh kegiatan ini M. Sardjan Kadir (1981 : 37) menyebutkan seperti magang, program training keterampilan, kursus latihan petani, dan training ekonomi rumah tangga atau keluarga. Dengan contoh tersebut, maka sasaran didiknya minimal remaja atau pemuda, karena program pendidikan ini merupakan program terakhir.
Ketiga : Replacement pendidikan
Menurut M. Sardjan Kadir (1981 : 38) bahwa kategori ketiga aktivitas pendidikan non formal termasuk aktivitas yang menggantikan untuk pendidikan formal. Program-program ini melayani anak-anak dan orang dewasa yang oleh karena bermacam alasan tidak dapat memasuki pendidikan formal.
Menelaah pernyataan di atas, maka pendidikan non formal tipe ketiga ini sudah jauh dari sekolah, tetapi secara tidak langsung dapat menunjang karena membuat warga negara terdidik atau masih dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Contoh tipe ini sering kita lihat seperti paket pendidikan baca tulis dan berhitung dasar bagi orang tua yang tidak bersekolah, biasanya paket dari Depdikbud.
Facebook Twitter Google+

1 komentar:

Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai "Pembinaan Pendidikan Agama Bagi Remaja".
Menurut saya pendidikan yang berperan penting dalam pembetukan karakter individu manusia.
Saya juga mempunyai video mengenai Pendidikan yang bisa anda kunjungi di http://video.gunadarma.ac.id/play.php?vid=484 .

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top