Jumat, 22 Mei 2015

Masalah Remaja dan Agama

Masalah beragama, remaja tidak lepas dari keadaan keyakinan dan keagamaan pada masa kanak-kanak. Selain itu faktor dorongan dari dalam seperti emosi, keadaan sosial, kecerdasan, dan akhlak remaja turut pula menentukannya. Namun begitu beragamnya remaja tidak terlepas dari pengaruh lingkungan tempat remaja berada. Kalau istilah Zakiah Darajat (1982 : 78) perkembangan agama pada masa remaja itu terpengaruh oleh bermacam-macam faktor, baik yang datang dari luar maupun yang datang dari dalam dirinya sendiri.
Keyakinan pada masa kanak-kanak merupakan dasar beragama di masa remaja, jika pendidikan yang diterima dalam keluarganya tidak bertentangan dengan pendidikan yang diterima di sekolahnya. Jika terjadi pertentangan paham antara keluarga dengan pendidikan di sekolah, maka terjadilan konflik jiwa pada remaja yang tidak mudah diatasi (Zakiah Darajat, 1982 : 78). Dengan demikian keyakinan dan keagamaan atau kebiasaan beragama seharusnya tumbuh semasa anak-anak, karena beragama pada anak-anak inilah yang akan dilanjutkan pada masa remaja.
Remaja adalah masa bergejolaknya berbagai perasaan jiwanya. Dalam keadaan begitu goncangnya kadang-kadang remaja menerima agama dan menjadikan agama sebagai pelariannya, tetapi kadang-kadang menolak terhadap agama dan menjauhkan diri dari Allah SWT. Hal ini nampaknya sesuai dengan pendapat salah seorang ahli yang menyatakan bahwa agama itu jawaban atas frustasi yang dialaminya di berbagai bidang kehidupannya, manusia bertindak religius karena ia mengalami frustasi.
Selanjutnya kemungkinan remaja menolak dan menjauhi agama, dikemukakan oleh Zakiah Darajat (1982 : 80) bahwa kegoncangan jiwa akibat kekecewaan melihat ketidakadilan di masyarakat ini memungkinkan menyesali Tuhan dan menolak agama.
Kemungkinan besar remaja menerima agama dikarenakan mendapat pengalaman yang menyenangkan, sebagaimana pendapat salah seorang ahli bukan hanya frustasi yang menyenangkannya dapat menimbulkan kelakuan religius.
Keadilan sosial ekonomi remaja memberikan pengaruh yang menentukan terhadap beragama. Remaja yang hidup dalam keadaan sosial ekonomi yang baik dan menyenangkan kadang-kadang kalah beragamanya jika dibandingkan dengan keadaan remaja yang sosial ekonominya rendah. Pendapat ini sebagaimana ditulis oleh Hasan Gaos (1985 : 34) bahwa para remaja yang situasi ekonominya tinggi maka ketaatan keagamaannya lebih bersifat formalitas dibandingkan dengan yang sosial ekonominya rendah. Penafsiran mengenai sosial ekonomi tersebut bukan hanya berupa uang atau materi, melainkan sarana kebutuhan pribadinya seperti pakaian, kendaraan dan sebagainya, sebagai sarana pemuas kebutuhan. Hal tersebut bisa kita bandingkan pula antara remaja di kota dan para remaja di desa. Di kota akan terlihat lebih jauh dari agama, sedangkan di desa akan lebih dekat. Hal ini disebabkan karena para remaja di desa kekurangan sarana untuk menyalurkan gejolak kejiwaannya.
Selanjutnya perkembangan agama remaja dipengaruhi oleh kecerdasan remaja, sebagaimana digambarkan oleh Zakiah Darajat (1982 : 78) bahwa :
Pertumbuhan pengertian tentang pokok-pokok pengertian agama sejalan dengan pertumbuhan kecerdasannya. Pengertian tentang keyakinan agama yang abstrak yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera secara langsung seperti pengertian tentang surga, neraka, malaikat, akhirat, iblis dan sebagainya. Barulah diterima oleh akal apabila pertumbuhan kecerdasannya telah memungkinkan untuk itu, yaitu pada umur permulaan remaja bagi anak yang kecerdasannya wajar.

Dengan pernyataan di atas, maka perkembangan kecerdasan dan ilmu pengetahuan remaja dapat mempengaruhi beragama remajanya. Oleh sebab itu ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan agama atau tokoh ilmu pengetahuan yang tak percaya pada Tuhan akan mempengaruhi jiwa remaja. Selain itu keterangan guru yang bertentangan dengan agama akan membuat remaja bimbang beragama. Hal ini yang dapat mempengaruhi agama remaja dan budi luhur dapat mendukung keagamaan remaja, akan tetapi jika akhlak remaja itu rusak dan sering melanggar akan membawa mereka kepada kebencian dan menjauhkan diri dari agama. Hal ini sesuai dengan pernyataan Zakiah Darajat (1982 : 82) bahwa remaja yang terbiasa melanggar akhlak dan lambat laun menjauhi dari agama, yaitu akhirnya tidak mau lagi percaya kepada Tuhan.
Masalah beragama remaja akan terjadi sebagaimana sikap remaja yang dikemukakan oleh Zakiah Darajat (1982 : 82) bahwa ada empat sikap remaja terhadap agama yaitu :
a. Percaya turut-turutan
b. Percaya dengan kesadaran
c. Sikap ambivalensi terhadap agama
d. Tidak percaya kepada Tuhan
a. Percaya turut-turutan
Percaya turut-turutan, yaitu kepercayaan yang didapat dalam keluarga dan lingkungan sewaktu masih anak-anak. Hal ini apabila remaja mendapatkan perlakuan yang menyenangkan dan tidak mengalami kegoncangan karena peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan. Tetapi apabila terjadi sebaliknya ia akan meninjau caranya beragama, maka akan timbul sikap lain terhadap agama, maka akan timbul sikap lain terhadap agama. Ia akan menjadi lebih kritis dalam beragama sehingga cara beragamanya akan berlain secara sadar.
b. Percaya dengan kesadaran
Hal ini terjadi pada waktu remaja berumur kira-kira 16 tahun, ketika pertumbuhan jasmani cepat berakhir, kegoncangan emosi berkurang dan kemampuan berpikir logis semakin maju, maka perhatian remaja yang tadinya bertumpu pada dirinya beralih kepada masalah-masalah ilmu pengetahuan, masyarakat dan agama (Zakiah Darajat, 1982 : 82).
Dalam menerima agama, ia menerima setelah meneliti dahulu, menanyakan dan mengerti. Menurut Anwar Masori (1986 : 78) bahwa di samping kemungkinan kesadaran beragama, kemungkinan pula berbentuk penyelewengan, karena masa ini remaja sedang berada pada pembangunan jiwa.
c. Sikap ambivalensi terhadap agama
Menurut Zakiah Darajat (1982 : 83) bahwa sikap ambivalensi itu terjadi setelah perkembangan kecerdasan mencapai kematangan, sehingga ia mampu mengkritik, menolak atau menerima apa yang diterangkan kepadanya. Hal ini tumbuh setelah pertumbuhan kecerdasannya selesai, yaitu sekitar usia 17 tahun.
Sikap yang demikian sebagaimana yang diterangkan di atas merupakan sikap ambivalensi terhadap agama. Kemungkinan terjadinya hal ini akibat kekacauan, kemerosotan moral dan karangan-karangan kaum sekuler yang melemahkan agama.
d. Tidak percaya pada Tuhan
Menurut Anwar Masori (1986 : 79) bahwa ketidakpercayaan kepada Tuhan tidak terjadi sebelum usia 20 tahun, mungkin dalam hatinya masih mengakui adanya Tuhan, dan hal ini terjadi hanya merupakan protes atau ketidakpuasan kepada Tuhan.
Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa tidak percayanya kepada Tuhan akan terjadi di akhir masa remaja, yaitu pada usia 21 tahun. Pada usia ini dorongan yang dominant pada remaja adalah dorongan seksual, sebagaimana yang telah diungkapkan dalam pembahasan sebelumnya, yang sering membuat mereka terjerumus. Jika kelakuan ini berulang-ulang akan membuat mereka menentang agama, membenci ulama bahkan kafir dalam beragama.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top