Selasa, 19 Mei 2015

Konsepsi Pendidikan Agama Bagi Anak

Setiap orangtua tentunya menginginkan anaknya memiliki kepribadian yang ideal, yang setiap sikap dan prilakunya merupakan implementasi dari norma-norma dan sistem nilai yang ia pegang dengan penuh keyakinan.
Tiada jalan lain yang dapat mengantarkan anak pada hal tersebut, kecuali dengan melalui proses pendidikan agama. Setiap orangtua hendaknya menyadari bahwa pendidikan agama bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan agama dan melatih keterampilan anak dalam melaksanakan ibadah. Akan tetapi pendidikan agama jauh lebih luas dari itu, ia pertama-tama bertujuan untuk membentuk kepribadian anak. Pembinaan sikap, mental, dan akhlak jauh lebih penting daripada pandai menghafal dalil-dalil dan hukum-hukum agama, yang tidak meresap dan dihayati dalam segala aspek kehidupan.
Ahmad Watik Pratiknya (1991 : 99), mengemukakan bahwa hakekat pendidikan agama merupakan suatu upaya untuk mengembangkan/mengarahkan anak supaya dapat menjadi manusia masa depan yang ideal, dengan cara menjadikan anak tersebut sebagai manusia yang lebih lengkap dalam dimensi religiusnya.
Hal ini berarti, suatu proses pengkondisian agar anak menjadi lebih mengetahui, memahami, mengimani, dan mengamalkan agamanya sebagai ajaran yang menjadi pandangan dan pedoman hidup. Pengkondisian dalam kaitan tersebut, berarti upaya menumbuhkan kesadaran dari dalam pada diri anak. Ini merupakan suatu kesadaran yang memungkinkan anak mempunyai persepsi yang benar dan mendalam tentang agama sebagai sumber nilai dalam hidupnya dan juga sekaligus yang menumbuhkan kekuatan kemauan (ghirah) dalam dirinya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupannya sehari-hari.
Pendidikan agama hendaknya dapat mewarnai kepribadian anak, sehingga agama itu benar-benar menjadi bagian dari pribadinya yang akan menjadi pengendali dalam hidupnya di kemudian hari.
Zakiah Darajat (1970 : 107) mengemukakan bahwa pendidikan agama menyangkut manusia seluruhnya, ia tidak hanya membekali anak dengan pengetahuan agama, atau mengembangkan intelektualitas anak saja dan tidak pula mengisi dan menyuburkan perasaan sentimen (fanatisme buta) agama saja, akan tetapi ia menyangkut keseluruhan diri pribadi anak, mulai dari latihan-latihan amaliah sehari-hari, yang sesuai dengan ajaran agama, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan manusia lainnya dan manusia dengan dirinya sendiri.
Berdasarkan pendapat tersebut, maka pendidikan agama akan lebih berdaya guna dan berkesan, apabila seluruh lingkungan hidup yang ikut mempengaruhi pembinaan pribadi anak (keluarga, sekolah, masyarakat) sama-sama mengarah kepada pembinaan jiwa agama anak.
Selanjutnya agar agama itu benar-benar dapat dihayati, difahami dan digunakan sebagai pedoman hidup bagi manusia, maka agama itu hendaknya menjadi unsur-unsur dalam kepribadian. Hal itu dapat dilakukan melalui percontohan, latihan-latihan (pengalaman) dan pengertian tentang ajaran agama, jadi agama adalah amaliah dan ilmiah sekaligus.
Sedangkan Imam Ghazali (Fathiyah Hasan, 1986 : 61) berpendapat bahwa pendidikan agama harus mulai diajarkan kepada anak sedini mungkin. Sebab yang demikian itu lantaran dalam tahun-tahun tersebut, seorang anak mempunyai persiapan menerima kepercayaan agama semata-mata dengan mengimankan saja dan tidak dituntut untuk mencari dalilnya, atau tidak dianjurkan untuk menetapkan dan membuktikannya.
Jadi penanaman rasa agama, dengan kata lain menumbuhkan prilaku keberagamaan anak, dapat dimulai dengan cara menirukan atau mengikuti saja. Hanya saja proses semacam ini belumlah sempurna. Oleh karena itu, perlu diikuti dengan langkah-langkah selanjutnya, tahap demi tahap, di saat anak tersebut menginjak dewasa.
Kemudian pendidikan agama yang baik, tidak hanya memberi manfaat bagi yang bersangkutan saja, akan tetapi akan membawa keuntungan dan manfaat terhadap masyarakat lingkungannya bahkan masyarakat manusia seluruhnya.
Hendaknya setiap orangtua menyadari bahwa dalam pembinaan prilaku keberagamaan anak sangat diperlukan pembiasaan-pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karena pembiasaan dan latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi, karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya.
Untuk membina anak agar dapat mengimplementasikan ajaran-ajaran agamanya dalam prilaku keberagamaannya, tidaklah mungkin dengan penjelasan pengertian saja, akan tetapi perlu membiasakannya untuk melakukan yang baik yang diharapkan nanti dia akan mempunyai sifat-sifat baik itu, dan menjauhi sifat-sifat yang tercela. Kebiasaan dan latihan itulah yang membuat anak cenderung kepada melakukan yang baik dan meninggalkan yang kurang baik.
Demikian pula halnya dengan pendidikan agama, semakin kecil umur si anak, hendaknya semakin banyak latihan dan pembiasaan agama dilakukan pada anak. Dan semakin bertambah umur si anak, hendaknya semakin bertambah pula penjelasan dan pengertian tentang agama itu diberikan sesuai dengan perkembangan kecerdasannya.
Pembentukan sikap, pembinaan moral dan pribadi pada umumnya, terjadi melalui pengalaman sejak kecil. Pendidik/pembina pertama adalah orangtua, kemudian guru. Semua pengalaman yang dilalui oleh anak waktu kecilnya akan merupakan unsur penting dalam pribadinya. Sikap si anak terhadap agama, dibentuk pertama kali di rumah, melalui pengalaman yang didapatnya dengan orangtuanya, kemudian disempurnakan atau diperbaiki oleh guru di sekolah.
Latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti sembahyang, do'a, membaca Al-Qur'an, sembahyang berjamaah di sekolah, mesjid atau di langgar, harus dibiasakan sejak kecil, sehingga lama kelamaan akan tumbuh rasa senang melakukan ibadah tersebut. Dia dibiasakan sedemikian rupa, sehingga dengan sendirinya ia akan terdorong untuk melakukannya, tanpa suruhan dari luar, tapi dorongan dari dalam.
Latihan-latihan keagamaan yang menyangkut akhlak dan ibadah sosial atau hubungan manusia dengan manusia, sesuai dengan ajaran agama, jauh lebih penting daripada penjelasan dengan kata-kata. Latihan-latihan di sini dilakukan melalui contoh yang diberikan oleh guru atau orangtua.
Apabila anak tidak terbiasa melaksanakan ajaran agama terutama ibadah (secara konkrit seperti salat, puasa, membaca Al-Qur'an, dan berdo'a) dan tidak pula dilatih atau dibiasakan melaksanakan hal-hal yang menjadi kewajiban agamanya, atau menjauhi larangan-larangan Tuhan dalam kehidupan sehari-harinya, maka pada waktu dewasanya nanti ia akan cenderung kepada acuh tak acuh, anti agama, atau sekurang-kurangnya ia tidak akan merasakan pentingnya agama bagi dirinya.
Kepercayaan anak kepada Tuhan dan agama pada umumnya bertumbuh melalui latihan dan pembiasaan sejak kecil. Pembiasaan dan pendidikan agama itu didapatnya dari orangtuanya dan gurunya, terutama guru agama.
Jadi pembiasaan dalam pendidikan anak sangat penting, terutama dalam pembentukan pribadi, akhlak dan agama pada umumnya. Karena pembiasaan-pembiasaan agama itu akan memasukkan unsur-unsur positif dalam pribadi anak yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Semakin banyak pengalaman agama yang didapatnya dari pembiasaan itu, maka akan semakin banyaklah unsur agama dalam pribadinya dan semakin mudahlah ia memahami ajaran agama yang akan dijelaskan oleh guru agama di kemudian hari.

Pustaka.
-
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top