Sabtu, 09 Mei 2015

Karakteristik dan Motivasi Terorisme

FX Adji Samekto yang mengutip pendapat James H. Wolfe (1990) menyebutkan beberapa karakteristik terorisme, sebagai berikut :
  1. Terorisme dapat didasarkan pada motivasi yang bersifat politis maupun non politis.
  2. Sasaran yang menjadi obyek aksi terorisme bisa sasaran sipil (super market, mall, sekolah, tempat ibadah, rumah sakit dan fasilitas umum lainnya) maupun sasaran non-sipil (tangsi militer, kamp militer).
  3. Aksi terorisme dapat ditujukan untuk mengintimidasi atau mempengaruhi kebijakan pemerintah negara.
  4. Aksi terorisme dilakukan melalui tindakan yang tidak menghormati hukum internasional atau etika internasional. Serangan yang dilakukan dengan sengaja untuk membinasakan penduduk sipil seperti terjadi di Kuta adalah pelanggaran hukum internasional.
  5. Aktivitas terorisme menciptakan perasaan tidak aman dan merupakan gangguan psikologis untuk masyarakat.
  6. Persiapan atau perencanaan aksi terror bisa bersifat multinasional.
  7. Tujuan jangka pendek aksi terorisme adalah menarik perhatian media massa dan untuk menarik perhatian publik.
Aktivitas terorisme mempunyai nilai mengagetkan (shock value) yang bagi teroris berguna untuk mendapatkan perhatian. Untuk itulah dampak aktivitas teroris selalu terkesan kejam, sadis dan tanpa menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
Berbagai motivasi yang menginspirasikan seseorang untuk menjadi seorang teroris terdiri dari 3 yaitu :

1) Dorongan atau motivasi dari keinginan serta pemikiran yang rasional (Rational motivation).
Motivasi yang rasional membuat para teroris berpikir mengenai tujuan serta tindakan yang mereka lakukan dapat menghasilkan keuntungan. Untuk menghindari resiko, teroris melemahkan kemampuan bertahan dari para korban/target sehingga teroris dapat melakukan serangan dengan lancar. (Rational Motivation, thinks through his goals and options, making a cost benefit analysis. He seek to determine whether there are less costly and more effective ways to achieve his objective than terrorism. To assess the risk, he weighs the target’s defensive capabilities against his own capabilities to attack).

2) Motivasi dari keadaan psikologis (Psychological motivation).
Motivasi ini berasal dari para teroris yang mengalami gangguan terhadap kejiwaan dalam kehidupan. Biasanya mereka membenarkan tindakan mereka sebagai bentuk dari amarah/emosi. Pada umumnya teroris dari tipe kedua ini, mereka mengalami suatu kejadian yang tidak mengenakkan dalam kehidupan mereka sehingga mereka melampiaskannya dalam bentuk tindakan yang dapat menimbulkan rasa takut serta korban jiwa (balas dendam). (Psychological Motivation, For terrorism derives from the terrorist’s personal dissatisfaction with his life and accomplishment. He find his raison d’etre in dedicated terrorist action. Although no clear psychopathy is found among terrorists, there is nearly universal element in them that can be described as the “true believer”. Terrorist do not even consider that they may be wrong and that others’ views may have some merit. Terrorist tend to project their own antisocial motivations onto others, creating a polarized ‘we versus they’ outlook. They attribute only evil motives to anyone outside their own group. The other common characteristic of the psychologically motivated terrorist is the pronounced need to belong to a group. With some terrorists, group acceptance is a stronger motivator than the stated political objectives of the organization. Such individuals define their social motivation find it necessary to justify the group’s existence continuously. Another result of psychological motivation is the intensify group dynamic among terrorists. They tend to demand unanimity and be tolerant of dissent. With the enemiclearly identified and unequivocally evil, pressure to escalate the frequency and intensify of operations is ever present. The need to belong to the group discourages resignations, and the fear of compromise disallows their acceptance. Compromise is rejected, and terrorist groups lean toward maximalist positions. Having placed themselves beyond the pale, forever unacceptable to ordinary dishonourable, if not treasonous. This may explain why terrorist groups are prone to fracturing and why the splinters are frequently more violent their parent group).

3) Motivasi yang berasal dari kebudayaan (Cultural motivation)
Teroris yang berasal dari tipe ini pada umumya memiliki karakteristik kebudayaan yang keras serta mengarah ke terorisme. Pada kehidupan sosial dimana orang-orang mengidentifikasikan diri mereka ke dalam suatu klen, suku dan kebudayaan, dan terdapat suatu pengharapan/keinginan untuk bertahan hidup di dalam lingkungan yang keras dan memaksa seseorang atau lebih untuk melakukan hal-hal di luar keinginan mereka hal-hal tersebut dapat menciptakan suatu image yang nantinya dapat menjadi karakter dari perbuatan mereka. Contoh Osama Bin Laden yang di duga pelaku peledakkan terhadap bebarapa asset milik Amerika Serikat pada beberapa waktu yang lalu, menjadi tersangka pula dalam peristiwa peledakan terhadap World Trade Center dan Pentagon. Maka pemerintah Amerika Serikat mengidentifikasikan langsung kepada Osama Bin Laden yang memiliki ciri khas tersendiri. Keterangan yang diberikan oleh salah satu penumang awak pesawat yang menjadi korban, dapat memberatkan Osama Bin Laden serta jaringan Al-Qaeda. Karena keterangan tersebut menyebutkan bahwa pembajak memiliki wajah seperti orang yang berasal dari daerah Timur Tengah. Dari keterangan tersebut maka pemerintah Amerika Serikat langsung menduga bahwa tragedi tersebut didalangi oleh Osama Bin Laden bersama jaringan Al-Qaeda. (Cultural motivation, cultural shape values and motivate people to actions that seem unreasonable to foreign observers. The treatment of life in general and individual life in particular is a cultural characteristic that has a tremendous impact on terrorism. In societies in which people identify themselves in term of group membership (family, clan, tribe), there may be willingness to self-sacrifice seldom seem elsewhere).

Teori motivasi merupakan teori pendukung yang melandasi pembahasan dan penganalisaan pokok permasalahan, sejauh ini masih beranekaragam definisi tentang motivasi, dari segi taksonomi, motivasi berasal dari kata “movore” dalam bahasa latin yang berarti bergerak, dalam perilaku administrasi mengatakan berbagai hal yang biasa terkandung dalam berbagai definisi tentang motivasi antara lain keinginan, kebutuhan, tujuan, sasaran dan dorongan serta insentif.
Menurut Siagian yang dimaksud dengan motivasi adalah ‘daya pendorong yang mengakibatkan seeorang anggota organisasi mau dan rela untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajiban-kewajibannya’. Sehingga dapat dikatakan bahwa suatu motivasi adalah keadaan kejiwaan yang mendorong mengaktifkan atau yang menggerakkan, dari motif itulah yang mengarahkan perilaku seseorang yang terarah pada pencapaian tujuan.

Pustaka
Achmad Jainuri, 15/10/2006, Janji Surga di Tengah Kemiskinan, Jawa Pos, Surabaya
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top