Sabtu, 16 Mei 2015

Definisi dan Pengertian Pendidikan Karakter

Karakter secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “karasso”, berarti cetak biru, format dasar, sidik seperti dalam sidik jari, character yang mengacu kepada suatu tanda yang terpatri pada sisi sebuah koin. Karakter lazim dipahami sebagai kualitas-kualitas moral yang awet yang terdapat atau tidak terdapat pada setiap individu yang terekspresikan melalui pola-pola perilaku atau tindakan yang dapat dievaluasi dalam berbagai situasi.
Karakter berarti juga “to mark” (menandai) dan memfokuskan apda bagaimana mengapliaksikan nilai kebaikan dalam tindakan atau tingkah laku.
Bekti B. Zaenudin mengutip pendapat Joel Kupperman (1991 : 3), menyebutkan bahwa kata character adalah bahasa Yunani diartikan sebagai “instrument for marking and graving, impress, stamp, distinctive nature”. Sementara itu secara istilah dinyatakan “the sum of moral and mental qualities wich distinguish an individual or race” Dalam Samuel Johnson’s Dictionary karakter disebutkan sebagai “a mark; a stamp; a representation, personal qualities; particular constitution of the mind.
Secara harfiah karakter berarti kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi. Karakter berasal dari bahasa Latin yang berarti “dipahat”. Sebuah kehidupan seperti blok granit yang dengan hati-hati dipahat menjadi sebuah akrya atau puing-puing yang rusak. Karakter adalah gabungan dari kebajikan dan nilai-nilai yang dipahat di dalam batu hidup tersebut.
Dalam Buku Peta Studi Keislaman di STAI Tasikmalaya (2012 : 84) dinyatakan bahwa karakter adalah sifat nyata dan berbeda yang ditunjukan oleh individu; sejumlah atribut yang dapat diamati pada individu. Karakter adalah “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah “Asli” dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, dan merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu. Ciri khas inipun yang diingat oleh orang lain tentang orang tersebut, dan menentukan suka atau tidak sukanya mereka terhadap seorang individu.
Bekti B. Zaenudin mengutip pendapat Hidayatullah (2010: 13) menyatakan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta yang membedakan dengan individu lain. Seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya.
Ratna Megawangi (2004) mengilustrasikan bahwa karakter adalah ibarat otot, dimana otot-otot karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih dan akan kuat dan kokoh kalau sering dipakai. Seperti seorang binaragawan (body builder) yang terus menerus berlatih untuk membentuk otot-otonya, “otot-otot” karakter juga akan terbentuk dengan praktik-praktik latihan yang akhirnya akan menjadi kebaisaan (habit).
Istilah karakter dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan muncul pada akhir abad-18, dan untuk pertama kalinya dicetuskan oleh pedagang Jerman F.W. Foerster. Terminologi ini mengacu pada pendekatan idealis-spiritualis dalam pendidikan yang kemudian dikenal dengan teori pendidikan normatif. Prioritas pendidikan normative adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi individu maupun bagi sebuah perubahan social. Pedoman nilai menjadi criteria yang menentukan kualitas tindakan manusia di dunia (Bekti B.Zaenudin, 2012:86).
Kata lain banyak digunakan dalam bahasa Prancis caractere pada abad ke-14 dan kemudian masuk dalam bahasa Inggris menjadi character, dan dalam bahasa Indonesia karakter. Dengan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa membangun karakter (character building) adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga berbentuk unik, menarik dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain.
Istilah character (karakter) memiliki makna substantive dan proses psikologis yang sangat mendasar. Lickona (1992; 50) merujuk apda konsep good character yang dikemukakan Aristoteles sebagai : “… the life of right conduct-right conduct in relation to other person and in relation to oneself”. Pemaknaan substantive dari istilah karakter terdiri atas tiga unjuk perilaku yang saling berkaitan, yaitu (a) moral knowing, (b) moral feeling, dan (c) moral behavior. Ditegaskan lebih lanjut (Lickona, 1991:51) bahwa karakter yang baik terdiri atas proses psikologis knowing the good, desiring the good, and doing the good – habit of mind, habit of heart, and habit of action.
Sementara itu para ahli psikologi mengartikan karakter sebagai sebuah system keyakinan dan kebiasaan yang mengarah tindakan seorang individu. Karakter adalah kualitas atau sifat yang tetap dan terus menerus, kekal, yang dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang pribadi, sautu objek, atau suatu kejadian. Bekti B. Zaenudin mengutip pendapat Sigmund Freud, yang menyatakan bahwa karakter adalah a striving system which underly behavior, yaitu kumpulan tata nilai yang mewujud dalam suatu system daya dorong (daya juang) yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku, yang akan ditampilkan secara mantap. Karakter adalah ciri khas yang dimiliki individu yang membedakan individu dengan individu lainnya. Ciri khas ini diperoleh dari hasil evaluasi terhadap kepribadian individu. Oleh karena karakter berkaitan dengan evaluasi atau penilaian maka dalam menggambarkan karakter individu seringkali digunakan istilah baik dan atau buruk (Allport, 1961).
Karakter menunjuk pada kebiasaan positif dan sudah diolah sebagai tanggung jawab sosial, komitmen moral, disiplin diri, dan kemantapan dengan kumpulan seluruh orang yang dinilai menjadi tidak sempurna, cukup memadai, atau patut dicontoh. Karakter mengembangkan secara berangsur-angsur secara keseluruhan kehidupan dan tidak hanya berpikir dan berbicara belaka. Karakter juga berkaitan erat dengan kepribadian yang didalamnya mencakup berbagai aspek, yakni intelektual, sosio-emosi, dan motivasi. Kepribadian melibatkan cara merasa, berpikir, dan bertindak individu sehari-hari yang mencakup dua komponen yang saling melengkapi, yaitu: tempramen, biologis, traits yang diwariskan; dan karakter merupakan traits yang diperoleh dari budaya dan interaksi social.
Dalam diskursus akademis, dikenal sejumlah konsep tentang karakter, di antaranya karakter individu, karakter privat dan public, dan karakter bangsa. Secara psikologis karakter individu dimaknai sebagai hasil keterpaduan empat bagian, yakni olah hati, olah piker, olah raga, olah rasa dan karsa. Olah hati berkaitan dengan perasaan sikap dan keyakinan/keimanan yang menghasilkan karakter jujur dan tanggung jawab. Olah piker berkaitan dengan nalar guna mencari dan menggunakan pengetahuan secara kritis, kreatif, dan inovatif yang menghasilkan pribadi cerdas. Olah raga berkenaan dengan proses persepsi, kesiapan, peniruan, mennipulasi, dan penciptaan aktivitas baru disertai dengan sportivitas menghasilkan sikap bersih, sehat dan menarik. Olah rasa dan karsa berkenaan derigan kemauan dam kreativitas yang tercermin dalam kepedulian, citra dan penciptaan kebaruan menghasilkan kepedulian dan kreatifitas. Dengan demikian terdapat enam karakter utama dan seorang individu, yakni jujur, bertanggung jawab, cerdas, bersih, sehat, peduli dan kreatif.
Pembentukan karakter merupakan upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan sang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalarn pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tatakrama, budaya dan adat istiadat (Tim Pendidikan Karakter Kemendiknas). Pendidikan karakter merupakan proses pemberian tuntutan peserta didik agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga serta rasa dan karsa. Peserta didik diharapkan memiliki karakter yang baik meliputi kejujuran, tanggung jawab, cerdas, bersih dan sehat, peduli, dan kreatif (Tim Pendidikan Karakter Kemendiknas).
Pendidikan karakter atau character education digunakan sebagai umbrella term (www.big.com/character education, diunduh 2/9/2010) untuk mendeskripsikan the teaching of children in a manner that will help them develop variously as moral, civic, good, mannered, behaved, non bullying, healthy, critical, successful, traditional, compliant and/or socially-acceptable beings.“ Dalam konteks itu di berbagai sumber kepustakaan dikenal beberapa nomenklatur/jargon pendidikan seperti social and emotional learning, moral reasoning/cognitive development, life skills education, health education, violent prevention, critical thinking, ethical reasoning, and conflict resolution and mediation. Dengan kata lain pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. (Elkind dan Sweet, dalam goodcharacter.com, unduh 2/9/2010).
Ratna Megawangi, (2004 : vii) menjelaskan pendidikan karakter adalah sebuah usaha sadar untuk mendidik peserta didik agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan memperhatikannya dalarn kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Dapat juga diberi pengertian pendidikan karakter adalah usaha untuk mencegah turnbuhnva sifat-sifat buruk yang dapat menutupi fitrah manusia, serta melatih anak untuk terus melakukan perbuatan baik sehingga mengakar kuat dalam dininya sehingga akan tercermin dalarn tindakannya yang senantiasa melakukan kebajikan.
Jalan pendidikan karakter diperlukan tidak hanya domain cognition tetapi juga pada aspek perasaan atau afeksi. Komponen ini dalam pendidikan karakter disebut desiring the good, atau keinginan untuk berbuat kebaikan. Pendidikan karakter yang baik dengan demikian melibatkan bukan saja aspek knowing the good tetapi juga desiring atau loving the good.
Nilai-nilai yang diajarkan dalam pendidikan karakter seperti diungkapkan oleh Bekti B. Zaenudin (2012 : 90) menekankan pada pentingnya tiga komponen karakter, yang meliputi :
1. moral knowing;
2. moral feeling; dan
3. moral action.
Makna moral knowing atau pengetahuan tentang moral menyangkut kesadaran moral (moral awarness), pengetahuan nilai moral (knowing moral values), keputusan perspektif (percpective taking), alasan moral (moral reasoning), pengambilan keputusan (decision making), dan pengetahuan mandiri (self knowledge). Makna moral feeling atau perasaan tentang moral menyangkut aspek yang berkaitan dengan kesadaran (conscience), harga diri (self esteem), empati (emphaty), cinta pada kebaikan (loving the good), kendali diri (self control), dan penghambaan diri (humality). Makna moral action atau tindakan moral merupakan hasil dan komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalarn perbuatan yang baik, maka harus dilihat tiga aspek lain dalam karakter, yaitu kompetensi (competence), keinginan (will) dan kebiasaan (habit).
Ada beberapa substansi karakter yang mesti dikembangkan dalam rangka tersebut. Ratna Megawangi (2004: 95) menyebutkan ada sembilan karakter yang perlu ditanamkan kepada peserta didik, yaitu : (a) Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya (love Allah, trust, reverevce, loyalty); (b) Kemandirian dan tanggung jawab (responsibility, excellence, self relience, discipline, orderliness); (c) Kejujuran/ Amanah, Bijaksana (trustworthiness, reliability, honesty) (d) Hormat dan santun (respect, courtessy, obidience); (e) Dermawan, suka menolong dan gotong royong (love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperetion); (f) Percaya diri, kreatif dan pekerja keras (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, conrage, determination and enthusiasm); (g) Kepernimpinan dan keadilan (justice, fairness, mercy, leadership); (h) Baik dan rendah hati (kindness, friendness, humility, modesty); dan (i) Toleransi dan kedamaian dan kesatuan (tolerance, flexibility, feacefulness, unity).
Michele Borba (2001) menyebutkan ada tujuh kebajikan utama (essential virtues) yang mesti dikembangkan agar anak bermoral tinggi, yaitu: (a) empaty, (b) conscience, (c) self-control, (d) respect, (e) kindness, (f) tolerance, dan (g) fairness. Dale F. Hay, Jeniffer Castle dan Jessice Jewett (1994) sebagaimana dikutip oleh Seodarsono (2010: 66-67) menyebutkan ada delapan karakter yang mesti ditumbuhkembangkan dalam kehidupan seseorang, yaitu: (a) social sencitivy, (b) nurturance and care, (c) sharing, cooperation, and fairness, (d) helping others, (e) honesty, (f) moral choice, (g) self control and self monitoring, dan (h) social problem solving and conflict resolution. Dimerman (2009; 22) memilih sepuluh karakter yang mesti dikembangkan dalam diri anak, yaitu : (a) responsibility, (b) respect, (c) initiative, (d) integrity, (e) iwnesty, (f) fairness, (g) courage, (h) preseverance, (i) empathy, dan (j) optimism.
Sementara itu dalam Dekiarasi Aspen menyepakati enam etika utama (core ethical values) untuk diajarkan dalam sistem pendidikan di Amreika yaitu:
1. rustworthy, honesty and integrity,
2. treats people with respect,
3. responsible,
4. fair,
5. caring, dan
6. good citizen (Brook and Goble, 1997).
Dalam kaitan itulah, sebagai pembanding dalam deklarasai Aspen dihasilkan enam nilai etik utama (core ethical values) yang disepakati untuk diajarkan dalam sistem pendidikan karakter di Arnerika Serikat, yaitu
a. Trustworthy, honesty and integrity
b. Treats people with respect
c. Responsible
d. Fair
e. Caring f Good citizen
Dalam konteks Indonesia sebagaimana dirumuskan dalam Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa (2010) ada beberapa karakter individu yang mesti dikembangkan yang secara garis besarnya bersumber dan basil olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah rasa dan karsa. Masing-masing sebagai berikut:
a) Karakter yang bersumber dan olah hati adalah beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, tertib, taat aturan bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban dan berjiwa patriotik.
b) Karakter yang bersumber dari oleh pikir, antara lain cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, produktif, berorientasi iptek, dan reflektif.
c) Karakter yang bersumber dan olah raga, antara lain bersih dan sehat, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria dan gigih.
Karakter yang bersumber dari olah rasa dan karsa antara lain kemanusiaan, saling menghargai, gotong royong, kebersamaan, ramah, hormat, toleran, nasionalis, peduli, kosmopolit (mendunia), mengutamakan kepentingan umum, cinta tanah air, bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja.
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 disebutkan ada delapan karakteristik manusia yang ingin dihasilkan dari pendidikan nasional, yaitu: (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) berakhlak mulia, (c) sehat, (d) berilmu, (e) cakap, (f) kreatif, (g) mandiri, dan (h) menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Bentuk karakter apapun yang dirumuskan tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai universal. Oleh karena itu, pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bisa membantu mengembangkan sikap, etika, moral dan tanggung jawab, memberikan kasih sayang pada anak didik dengan menunjukkan dan mengajarkan karakter yang bagus. Hal itu merupakan usaha intensional dan proaktif dan sekolah masyarakat dan negara untuk mengisi pola pikir dasar anak didik, yaitu nilai-nilai etika seperti menghargai diri sendiri dan orang lain, sikap bertanggung jawab integritas dan disiplin diri. Hal itu memberikan solusi jangka panjang yang mengarah pada isu-isu moral, etika dan akademis yang merupakan conceren dan sekaligus kekhawatiran yang terus meningkat di dalam masyarakat.
Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Terminologi ”karakter” itu sendiri sedikitnya memuat dua hal: values (nilai-nilai) dan kepribadian. Suatu karakter merupakan cerminan dari nilai apa yang melekat dalam sebuah entitas. ”Karakter yang baik” pada gilirannya adalah suatu penampakan dari nilai yang baik pula yang dimiliki oleh orang atau sesuatu, di luar persoalan apakah ”baik” sebagai sesuatu yang ”asli” ataukah sekadar kamuflase. Dari hal ini, maka kajian pendidikan karakter akan bersentuhan dengan wilayah filsafat moral atau etika yang bersifat universal, seperti kejujuran. Pendidikan karakter sebagai pendidikan nilai menjadikan “upaya eksplisit mengajarkan nilai-nilai, untuk membantu siswa mengembangkan disposisi-disposisi guna bertindak dengan cara-cara yang pasti” (Curriculum Corporation, 2003: 33). Persoalan baik dan buruk, kebajikan-kebajikan, dan keutamaan-keutamaan menjadi aspek penting dalam pendidikan karakter semacam ini.
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Karakter mengacu kepada serangkaian :
1. Sikap (attitudes),
2. Perilaku (behaviors),
3. Motivasi (motivations), dan
4. Keterampilan (skills).
Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Dari beberapa uraian pendidikan karakter dia atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidIkan karakter itu merupakan sebuah system yang dilakukan oleh orang dewasa secara sengaja untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang pengetahuan moral, perasaan moral, serta kemampuan untuk melaksankannya sehingga dengan nilai-nilai yang diketahuinya menjadi peduli terhadap dirinya, lingkungannya, dan sekaligus senantiasa melakukan tindakan yang terbaik sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma tersebut.
Nilai-nilai moral merupakan seperangkat aturan-aturan normative yang berlaku secara komperhensif bagi masyarakat secara umum. Dengan aturan tersebut peserta didik menjadi tahu, bagaimana dia harus bersikap, bagaiman harus bertindak dalam merespon gejala-gejala alam dan gejala-gejala social dengan penuh tanggung jawab.

Pustaka
-
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top