Kamis, 21 Mei 2015

Definisi atau Pengertian Pendidik (Perspektif Islam)

Dari segi bahasa, pendidik, sebagaimana dijelaskan oleh WJS. Poerwadiminta adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberi kesan, bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik. Dalam bahasa Inggris dijumpai beberapa kata yang berdekatan artinya dengan pendidik. Kata tersebut seperti teacher yang diartikan guru atau pengajar dan tutor yang artinya guru pribadi, atau guru yang mengajar di rumah. Selanjutnya dalam bahasa Arab dijumpai kata ustadz, mudarris, Mu’allim, dan mu’addid. Kata ustadz jamaknya asatidz yang berarti teacher (guru), professor (gelar akademik), jenjang dibidang intelektual, pelatih, penulis, dan penyair. Adapun kata mudarris berarti teacher (guru), instructor (pelatih), dan leturer (dosen). Selanjutnya kata mu’allim yang juga berarti teacher (guru), instructor (pelatih), trainer (pemandu). Selanjutnya kata mu’addib yang juga berarti educator pendidik atau teacher in koranic school (guru dalam lembaga pendidikan Al-Qur’an).
Beberapa kata tersebut di atas secara keseluruhan terhimpun dalam kata pendidik, Karena seluruh kata tersebut mengacu kepada seseorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan atau pengalaman kepada orang lain. Kata-kata bervariasi tersebut menunjukan adanya perbedaan ruang gerak dan lingkungan dimana pengetahuan dan keterampilan diberikan.
Dengan demikian, kata pendidik secara fungsional menunjukan kepada seseorang yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya. Orang yang melakukan kegiatan ini bisa siapa saja dan dimana saja.
Di rumah, orang yang melakukan tugas tersebut adalah kedua orang tua, karena secara moral dan teologis merekalah yang diserahi tanggungjawab pendidikan anaknya. Selanjutnya di sekolah tugas tersebut dilakukan oleh guru, dan dimasyarakat dilakukan oleh organisasi-organisasi kependidikan, dan sebagainya. Atas dasar ini maka yang termasuk ke dalam pendidik itu bisa kedua orang tua, guru, tokoh masyarakat dan sebagainya.
Adapun pengertian pendidik menurut istilah yang lazim digunakan di masyarakat telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Ahmad Tafsir misalnya mengatakan bahwa pendidik dalam Islam, orang yang paling bertanggung jawab tersebut adalah orang tua (ayah-ibu) anak didik. Tanggungjawab disebabkan sekurang-kurangnya oleh dua hal : pertama, karena kodrat, yaitu karena orang tua ditakdirkan bertanggungjawab mendidik anaknya. Kedua, karena kepentingan kedua orang tua, yaitu orang tua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya, sukses anaknya adalah sukses orang tua juga.
Pendidik merupakan pihak yang mendidik, memberi anjuran, norma-norma, pentransfer ilmu pengetahuan dan kecakapan anak yang turut membentuk segala kepribadian anak yang bersangkutan baik pendidikan informal, formal, dan non formal.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, peran pendidik dalam lembaga pendidikan Islam merupakan peran sentral, karena pendidik merupakan penentu berhasil atau tidaknya suatu tujuan pendidikan. Hal ini memungkinkan karena pendidik dalam melaksanakan tugasnya berhubungan secara langsung dengan peserta didik.
Ia melakukan hubungan interaksi secara sadar terhadap anak didik yang orientasinya adalah demi pencapaian tujuan pendidikan yakni membentuk pribadi manusia yang paripurna (insane kamil).
Sehubungan dengan peran dan kedudukan pendidik dalam mewujudkan pendidikan Islam, syarat yang paling utama Islam telah memberi batasan yang jelas yakni berilmu, karena yang disampaikan pendidik adalah ilmu pengetahuan.
Dalam hal ini Islam sangat menghargai terhadap orang yang berilmu pengetahuan, sehingga merekalah yang pantas mencapai tarap ketinggian hidup.
Penjelasan mengenai kedudukan guru yang demikian tinggi itu selanjutnya diberikan oleh Al-Ghazali. Menurutnya, seorang sarjana yang bekerja mengamalkan ilmunya adalah lebih baik daripada seorang yang hanya beribadat saja, puasa setiap hari dan sembahyang setiap malam.
Sejalan dengan hal itu Athiyah al-Abrasy ,mengatakan, seseorang yang berilmu dan kemudian ia mengamalkan ilmunya itu, maka orang itulah yang dinamakan orang yang berjasa besar dikolong langit ini. Orang tersebut bagaikan matahari yang menyinari orang lain dan menerangi pula dirinya sendiri, ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain dan ia sendiripun harum. Siapa yang bekerja dibidang pendidikan, maka sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan sangat penting, maka hendaklah ia memelihara adad dan sopan santun dalam tugasnya itu.
Penghormatan terhadap guru demikian tinggi dapat dilihat dari jasanya yang besar dalam mempersiapkan kehidupan di masa yang akan datang.
Diketahui bahwa suatu bangsa akan menjadi baik apabila sumber daya yang memegang kekuasaan ini berkualitas tinggi. Dan sumber daya yang berkualitas ini sebagian dibebankan pada peranan yang dilakukan oleh guru.
Jasa guru tersebut amat banyak sekali, tetapi yang terpenting adalah: Pertama, Guru sebagai pemberi pengatahuan yang benar kepada para muridnya, sedangkan ilmu adalah modal untuk mengangkat derajat manusia, dan dengan ilmu itu pula seseorang akan memiliki rasa percaya diri dan bersikap mandiri, dan orang seperti inilah yang diharapkan dapat menanggung beban sebagai pemimpin bangsa. Kedua, Guru sebagai Pembina akhlak yang mulia, dan akhlak yang mulia merupakan tiang utama untuk menopang kelangsungan hidup suatu bangsa. Banyak bangsa di dunia yang gagah perkasa, maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi kemudian menjadi bangsa yang hancur dan hidup dalam keadaan sengsara disebabkan oleh akhlak yang rusak. Ketiga, Guru memberi petunjuk kepada anak tentang tentang hidup yang baik, yaitu manusia yang tahu siapa pencipta dirinya yang menyebabkan ia tidak menjadi orang yang sombong, menjadi orang yang tahu berbuat baik kepada Rasul, kepada orang tua, dan kepada orang lain yang berjasa kepada dirinya.
Dengan melihat tugas yang dilakukan oleh guru yang disertai dengan kesabaran, penuh keikhlasan tanpa pamrih itulah yang menempatkan kedudukannya menjadi orang yang dihormati. Dengan demikian secara filosofis penghormatan yang tinggi kepada guru adalah sesuatu yang logis dan secara moral dan social sudah selayaknya harus dilakukan.
Sebagaimana telah di uraikan di atas bahwa dalam ajaran Islam, guru atau pendidik mendapatkan penghormatan dan kedudukan yang amat tinggi. Penghormatan dan kedudukan yang amat tinggi ini amat logis diberikan kepadanya, karena dilihat dari jasanya yang demikian besar dalam membimbing, mengarahkan, memberi pengetahuan, membentuk akhlak, dan menyiapkan anak didik agar siap menghadapi hari depan dengan penuh keyakinan dan percaya diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi kekhalifahannya di muka bumi denga baik.

Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut, seorang guru di samping harus mengusai pengetahuan yang akan diajarkannya kepada murid, juga harus memiliki sifat-sifat tertentu yang dengan sifat-sifat ini diharapkan apa yang diberikan oleh guru kepada muridnya dapat didengar dan dipatuhi, tingkah lakunya dapat ditiru dan diteladani dengan baik. Hal ini disepakati oleh para ahli pendidik, karena betapapun segala rencana telah disiapkan dan biaya serta perlengkapan pendidikan telah disediakan, namun, semuanya tidak akan berarti apa-apa jika guru yang berada di depan murid tidak dapat dipatuhi dan diteladani sifat dan perbuatannya. Atas dasar ini, maka para ahli sepakat menetapkan sifat-sifat tertentu yang harus dimiliki oleh para guru.
Mohammad Athiyah Al-Abrasy, misalnya menyebutkan tujuh sifat yang harus dimiliki guru . Pertama, seorang guru harus memiliki sifat zuhud, yaitu tidak mengutamakan untuk mendapatkan materi dalam tugasnya, melainkan karena mengharap ridha Allah semata-mata. Hal ini sejalan dengan firman Allah swt. Yang berbunyi :

اتَّبِعُوا مَن لاَّيَسْئَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ

"Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk". (Q.S Yassin, 36:21).
Kedua, seorang guru memiliki jiwa yang bersih dari sifat dan akhlak yang buruk. Timbulnya ketentuan sifat yang demikian itu didasarkan kepada hadist Rasulullah saw, yang berbunyi:

هَلاَكَ أُمَّتِيْ رَجُلاَنِ : عَالِمٌ فَاجِرٌ وَعَابِدٌ جَاهِلٌ وَخَيْرُ الْخِيَارِ خِيَارُ الْعُلَمَاءِ وَشَرُّ الاَشْرارِ الْجُهَلاَءُ




Artinya : Rusaknya umatku adalah karena dua macam orang: "Seorang alim yang durjana dan seorang saleh yang jahil, "orang yang paling baik adalah ulama yang baik dan orang yang paling jahat adalah orang-orang yang bodoh. (H.R. Baihaqi)

Ketiga, seorang guru harus ikhlas dalam melaksanakan tugasnya.
keempat, seorang guru juga harus bersifat pemaaf terhadap muridnya.
Kelima, seorang guru harus dapat menempatkan dirinya sebagai seorang Bapak sebelum ia menjadi seorang guru. Atas dasar sifat kelima itu, maka seorang guru sangat mengharapkan anak didiknya berhasil menjadi orang baik.
keenam, seorang guru harus mengetahui bakat, tabiat, dan watak murid-muridnya. Dengan pengetahuan seperti ini, maka seorang guru tidak akan salah dalam mengarahkan anak didiknya.
Ketujuh, seorang guru harus menguasai bidang studi yang akan diajarkannya. seorang guru harus sanggup menguasai mata pelajaran yang diberikan serta memperdalam pengetahuannya tentang itu, sehingga pelajaran tidak bersifat dangkal, tidak memuaskan dan tidak menyenangkan orang yang lapar ilmu.
Sifat-sifat tersebut di atas pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, sifat yang berkaitan dengan kepribadian. Kedua, sifat yang berkaitan dengan keahlian akademik.

Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top