Jumat, 29 Mei 2015

Definisi atau Pengertian Anak Usia Prasekolah

Anak usia prasekolah adalah anak yang mempunyai usia di bawah tujuh tahun¬, pada usia ini anak bisa diarahkan ke arah yang positif atau ke arah yang bisa membantu perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak tersebut.
Pemerintah berperan aktif dalam memfasilitasi kegiatan pendidikan anak usia prasekolah ini, dibuktikan dengan Peraturan Pemerintah No. 27/1990 tentang Pendidikan Prasekolah, yaitu :
Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar yang diselenggarakan di jalur pendidikan luar sekolah.
Bentuk satuan pendidikan prasekolah meliputi Taman Kanak-kanak, Kelompok Bermain, Penitipan Anak, dan bentuk lain yang diterapkan oleh menteri.
Pendidikan prasekolah bertujuan untuk membantu meletakan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, disiapkan susunan program kegiatan belajar anak dalam memasuki Sekolah Dasar (SD), yang meliputi kesiapan belajar anak dalam memasuku SD, yang meliputi kesiapan fisik, intelektual, emosional, dan sosial. Hal ini menempatkan TK sebagai jembatan antara rumah/keluarga dan sekolah.
Mengapa demikian ? Karena lingkungan keluarga dan sekolah adalah dua dunia yang berbeda. Berbagai penyesuaian baru dituntut di SD, terutama ketika anak mulai memasuki kelas satu. Jadi, pengalaman anak-anak di TK berfungsi sebagai “jembatan” antara rumah dan sekolah. TK mengemban misi untuk menciptakan kesinambungan pengalaman antara dunia anak-anak dalam keluarga dengan kehidupan dan tutunan belajar SD.
Dengan demikian, pendidikan TK menjadi amat instrumental bagi pendidikan di SD dan jenjang pendidikan selanjutnya. Dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diletakan pada usia pendidikan prasekolah termasuk di TK bukan hanya berpengaruh pada tingkat SD, melainkan sepanjang hayat sebagaimana dipercaya oleh kalangan penganut psikoanalis. Salah satu cara untuk mengetahui kesinambungan pengalaman belajar adalah dengan membandingkan hasil belajar anak-anak SD yang melalui TK dan telah banyak studi dilakukan.
Pendidikan TK juga mengandung tujuan intrinsik, yakni membantu perkembangan anak sejak usia dini agar tumbuh dan berkembang secara wajar sebagai anak dalam aspek-aspek fisik, keterampilan, pengetahuan, sikap, dan perilaku sosial. Ingin ditekankan di sini bahwa pendidikan pada usia dini, yakni sejak anak lahir, merupakan hak setiap anak. Dimensi intrinsik itulah justru yang amat penting dan lebih mendasar dalam pendidikan TK, bahkan boleh dikatakan lebih penting dari tujuan yang sifatnya instrumental.
Idealnya, kedua dimensi tujuan tersebut dapat dipenuhi secara seimbang dan terpadu, yakni pencapaian intrinsic dalam rangka mencapai tujuan instrumental. Hal ini perlu digarisbawahi karena dapat saja terjadi karena penekanan yang lebih kuat pada penyiapan anak untuk memasuki sekolah sehingga proses pendidikan di TK tidak ubahnya dengan di SD atau menjadi miniatur SD. Anak diperlukan seperti halnya anak SD dan kegiatan belajar dirancang menyerupai di SD, sekalipun guru tetap menyatakan bahwa mereka berpedoman kepada program kegiatan belajar yang pelaksanaannya dikembangkan sesuai dengan pemahaman dan penafsirannya.
Ekses yang terjadi pada pendidikan TK dewasa ini sesungguhnya berpangkal dari pandangan yang terlalu berat ke arah pencapaian tujuan instrumental, di samping karena adanya “tekanan” dari lingkungan (dalam hal ini orang tua anak) dan persaingan yang salah kaprah antara anak TK. Ekses dimaksud misalnya dalam bentuk pemberian materi akademik secara eksesif di TK. Perlakuan yang demikian secara implisit berakar pada filosofi tentang anak di masa lalu yaitu anak merupakan “orang dewasa berbadan kecil”.
Filosofi yang mendasari setiap proses pendidikan termasuk di TK ialah bahwa anak merupakan sentral dari seluruh proses pendidikan. Pandangan demikian dapat dilacak jauh sejak munculnya teori-teori klasik dalam pendidikan terutama di Eropa Kontimental misalnya: teori Comenius, Kohnstamm, Langeveld, Froebel, Montesori, dan lain-lain hingga saat ini.
Ada kesamaan padangan bahwa esensi dari segala usaha pendidikan adalah mengantarkan anak agar tumbuh dan berkembang menuju kematangan, kemandirian dan kedewasaan. Dalam proses ini, anak adalah sentralnya. Proses pendidikan yang sejati (geniun education) selalu menjadikan anak sebagai fokus, sebagai sentral yang ditempatkan anak di pinggiran atau ibarat “pelengkap penderita”, boleh dikatakan sebagai pendidikan yang artifisial karena telah kehilangan misi dasarnya yang mengembangkan anak.
Kecendrungan ke arah meminggirkan anak dari posisi sentralnya terjadi manakala misalnya kita lebih sibuk mendiskusikan apa yang harus anak kuasai dan bagaimana harapan orang dewasa terhadap anak daripada bagaimana membuat anak dapat tumbuh dan berkembang, atau lebih banyak membicarakan segi-segi teknis metodologis tentang proses belajar mengajar daripada memusatkan perhatian pada anak yang akan belajar yang meliputi karakteristiknya, latar belakangnya, kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang dan irama serta ritme perkembangannya yang berbeda-beda.
Syarat utama agar pendidikan sekolah berhasil ialah anak harus siap untuk belajar dan sekolah harus siap pula untuk mendidik anak. Kesiapan belajar anak meliputi kesiapan fisik, intelektual/mental, dan sosial. Hal ini terutama pada saat-saat awal anak masuk sekolah. Keterpenuhan kedua syarat tersebut akan memperbesar peluang terjadinya proses pendidikan sebagai sarana pengembangan anak sulit untuk berhasil.
Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, umumnya dihadapkan pada kedua sekaligus. Sebagaian besar anak masuk sekolah dalam keadaan fisik, mental, dan sosial tidak siap. Perkembangan fisiknya terhambat karena kurang gizi, perutnya lapar, dan mutu kesehatannya rendah. Mereka mengalami proses sosialisasi awal dalam keluarga dan lingkungan masyarakat yang miskin dengan rangsangan intelektual. Pendidikan persekolahan yang diharapkan dapat mengatasi kelemahan tersebut tidak menjangkau anak. Begitu masuk sekolah, mereka mendapat kurang memperoleh perhatian yang selayaknya karena memang sekolah tidak cukup siap.
Semakin tidak siap anak untuk masuk sekolah, semakin besar beban sekolah untuk melakukan usaha-usaha remediasi guna mengatasi kekurangan anak yang dibawanya sejak sebelum masuk sekolah. Program peningkatan mutu pendidikan khususnya ditingkat SD saat ini banyak diarahkan untuk membuat anak lebih siap belajar, misalnya memperluas pendidik prasekolah/TK dan pemberian makanan tambahan bagi anak SD.
Pertama, tenaga kependidikan TK semestinya disiapkan secara profesional. Seorang profesional paling tidak memiliki tiga unsur utama, yaitu (a) pendidikan yang memadai, (b) keahlian dalam bidangnya, dan (c) komitmen pada tugasnya. Ketiga hal ini secara serempak dikembangkan melalui pendidikan prajabatan. Pendidikan yang memadai maksudnya bahwa tenaga kependidikan TK harus disiapkan secara khusus melalui lembaga pendidikan tenaga kependidikan dengan kuaifikasi tertentu. Bila di masa lalu dilakukan oleh SPG-TK selama 3 tahun setelah SLTP, sekarang dilakukan melalui Pendidikan Guru TK dengan masa pendidikan dua tahun (D-II) setelah SLTA. Keahlian dalam kurikulum TK. Komiten terhadap bidang tugasnya maksudnya bahwa guru TK mesti benar-benar mencintai pekerjaan dan mencurahkan perhatiannya untuk membantu perkembangan anak.
Kedua, mengingat medan tugas yang (akan) dihadapi oleh tenaga kependidikan TK sedemikian unik, maka mereka haruslah mengerti benar tentang anak. Pengertian tentang anak bukan yang menyangkut perkembangan fisik, psikologi, dan sosialnya secara umum sebagaimana dijelaskan oleh psikologi perkembangan, melainkan perbedaan karakteristik anak-anak yang berasal dari lingkungan sosial ekonomi yang kurang mampu, pedesaan, hingga nak-anak dari keluarga yang berkemampuan. Apakah kebutuhan-kebutuhan pendidikan mereka? Berdasarkan hal tersebut, dikembangkan strategi teori dan pratek-pretek tentang pendidikan anak usia dini (termasuk pada usia TK yaitu 4-6 tahun) telah sedemikian berkembang berkat hasil-hasil penelitian terbaru dalam bidang ini. Itu semua sedapat mungkin dikuasai oleh para (calon) tenaga kependidikan TK.
Ketiga, sebagai konsekuensi dari kedua tuntutan tersebut, tenaga kependidikan TK harus benar-benar akrab dengan lingkungan yang menjadi bidang tugasnya dan sensitif terhadap kebutuhan anak. Keakraban tersebut semestinya dikembangkan jauh pertiga dari waktu dan muatan pendidikan calon tenaga kependidikan TK seyogyanya digunakan secara penuh unutk hal-hal yang berkaitan dengan apa, mengapa, siapa, dan bagaimana tentang anak-anak usia prasekolah.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top