Rabu, 20 Mei 2015

Bentuk-Bentuk Belajar

Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan siswa di sekolah, sangat ditentukan oleh model-model pengajaran yang diberikan oleh guru. Bentuk kegiatan belajar mengajar yang digunakan juga berkaita erat dengan teori belajar yang digunakan. David P. Ausubel dan Floyd G. Robinson mengemukakan empat bentuk proses belajar mengajar, yaitu belajar menerima, belajar menemukan, belajar bermakna, dan belajar menghapal (Sukmadinata, 2003 : 183).
a. Belajar diskaveri (discovery learning)
Belajar diskaveri ada juga yang menyebutnya sebagai belajar inkuiri atau inquiry learning, tetapi pada dasarnya merupakan suatu kegiatan belajar yang mengutamakan aktivitas anak. Inkuiri menekankan kepada proses mencarinya, sedangkan diskaveri kepada menemukannya. Akan tetapi keduanya merupakan bagian yang saling berkaitan.
b. Belajar menerima
Belajar menerima atau reception learning disebut demikian apabila dilihat dari sisi siswa, tetapi apabila dilihat dari sisi guru disebut mengajar expositori atau expository teaching. Apabila belajar diskaveri lebih berpusat pada siswa, maka belajar menerima lebih berpusat pada guru. Bahan pelajaran disusun dan disiapkan dalam bentuk jadi serta disampaikan oleh guru. Siswa berperan pasif, mereka berusaha menerima, menghapal, memahami dan menggunakan pengetahuan yang diberikan oleh guru. Mereka juga berusaha mengerjakan latihan-latihan. Dalam bentuk belajar menerima sebenarnya mereka juga aktif, tetapi bukan aktif dalam mengolah, menguraikan atau merinci persoalan umum kepada bagian-bagian, atau menyatukan membuat generalisasi dari bagian-bagian kecil. Tetapi mereka juga aktif memusatkan perhatian, mencatat, mengingat, memahami, mengulang dan sebagainya.

c. Belajar bermakna
Belajar bermakna (meaningful learning). Dalam belajar bermakna ada dua hal penting, pertama bahan yang dipelajari dan yang kedua dalam struktur kognitif yang ada pada individu. Yang dimaksud dengan struktur kognitif adalah jumlah, kualitas, kejelasan dan pengorganisasian dari pengetahuan yang sekarang dikuasai oleh individu. Agar tercipta belajar bermakna, maka pertama bahan baru yang dipelajari harus bermakna. Kedua, bahan pelajaran baru hendaknya dihubungkan dengan struktur kognitifnya secara substansial dan dengan beraturan.
Syarat-syarat agar tercipta proses belajar berkomunikasi, yaitu bahan yang dipelajari harus dihubungkan dengan struktur kognitif secara substansial dan dengan beraturan. Siswa memiliki konsep yang sesuai dengan bahan yang akan dihubungkan. Dan siswa harus memiliki kemauan untuk menghubungkan konsep tersebut dengan struktur kognitifnya secara substansial dan beraturan pula.
d. Belajar menghapal
Belajar menghapal (rote learning) siswa berusaha menerima dan menguasai bahan yang diberikan oleh guru atau yang dibaca tanpa makna. Meskipun belajar menghapal ini banyak dipertentangkan, karena dianggap sebagai penyakit yang dapat membiasakan siswa hanya mengetahui dengan menghapal tanpa mengerti makna yang dimaksud.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top