Minggu, 10 Mei 2015

Asas-asas Transaksi Dalam Sistem Ekonomi Islam

Dewasa ini masih terdapat anggapan bahwa Islam menghambat kemajuan. Beberapa kalangan mencurigai Islam sebagai faktor penghambat pembangunan. Pandangan ini berasal dari para pemikir barat. Meskipun demikian, tidak sedikit intelektual muslim yang meyakininya. Kesimpulan yang tergesa-gesa ini hampir dapat dipastikan timbul karena kesalahpahaman terhadap Islam. Seolah-olah Islam merupakan agama yang hanya berkaitan dengan masalah ritual, bukan hanya sebagai suatu sistim yang komperhensif dan mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah pembangunan ekonomi serta industri perbankan sebagai salah satu motor penggerak roda perekonomian. Perbankan sebagai lembaga Intemediasi merupakan salah satu pendukung utama dari sektor ekonomi yang ada di Indonesia. Pada dasarnya bank menerima simpanan dari nasabah dan meminjamkanya kepada nasabah lain yang membutuhkan dana atas simpanan nasabah itu bank memberikan imbalan berupa bunga, demikian pula atas pemberian dana pinjaman, bank mengenakan bunga kepada peminjamnya.

Arti bank dapat kita telusuri dari kata ”Bungue” dalam bahasa Perancis dan “Banco” dari bahasa Italia yang dapat berarti peti atau lemari. Konotasi dari kedua arti ini dapat menjelaskan dua fungsi dasar yang ditunjukan oleh bank komersial. Kata peti atau lemari menyatakan fungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga, seperti peti emas, peti berlian, peti uang dan sebagainya. Jadi fungsi utama bank adalah menyediakan tempat untuk menitipkan uang dengan aman (safe keeping fuction) dan menyediakan alat pembayaran untuk membeli barang dan jasa (transaction fuction). Jika yang dimaksud dengan bank adalah istilah bagi suatu lembaga keuangan maka istilah bank tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al Quran. Akan tetapi jika yang dimaksud adalah sesuatu yang memiliki unsur-unsur seperti struktur, manajemen fungsi hak dan kewajiban maka semua itu disebutkan dengan jelas, seperti zakat, shodaqoh, qhanimah (rampasan perang), ba’i (jual beli), dayn (utang dagang), mall (harta) dan sebagainya yang memiliki konotasi fungsi yang dilaksanakan oleh peran tertentu dalam kegiatan ekonomi. Lembaga-lembaga itu pada akhirnya bertindak sebagai individu yang dalam konteks fiqh disebut syaksiyyah al munawijah. Dalam beberapa hal, bank konvensional dan bank syariah memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan, dan sebagainya. Asas-asas tersebut antara lain :

a. Asas ridha’iyyyah (asas rela sama rela) yaitu bahwa transaksi ekonomi dalam bentuk apapun yang dialkukan perbankan pada prinsip rela sama rela buka suka sama suka yang bersifat hakiki. Asas tersebut dalam Al Quran diterangkan bahwa semua bentuk transaksi yang mengandung unsur paksaan tidak diperbolehkan.

b. Asas manfaat yaitu bahwa akad yang akan dilakukan oleh lembaga keuangan dengan nasabh berkenaan dengan hal-hal yang bermanfaat bagi kedua pihak, maka dari akad-akad itu yang bersifat mudharat atau mafsadat tidak diperbolehkan.

c. Asas keadilan, dalam arti kedua pihak yang melakukan transaksi ekonomi (lembaga keuangan nasabah) harus berlaku dan diperlakukan secara adil dalam konteks pengertian luas dan konkrit. Hal ini sangat berkaitan dengan doktrin-doktrin yang tersebut dalm Al Quran yang sangat menjunjung tinggi keadilan dan sangat anti kezaliman, maka dalam praktek transaksi ekonomi Islam tidak dikenal dengan riba, karena riba menurut ajaran Islam termasuk Simbol yang berpihak pada kezaliman.

Pustaka.
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik, ( Gema Insani : Jakarta, 2001 )
Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah, (Alvabet : Jakarta, 2003)
Facebook Twitter Google+

1 komentar:

Terimah kasih telah berbagi ilmu gan....

oia salam kenal
dari
Pedagang Al Quran Digital Readpen PQ15

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top