Selasa, 21 April 2015

Peran Disiplin Terhadap Anak

Betapa pentingnya diisplin dalam kehidupan sehari-hari yang berfungsi sebagai filterisasi dalam bertindak, disiplin ini akan terasa dalam kehidupan ketika berinteraksi dengan yang lain, bagaimana dengan kehidupan anak, apakah disiplin punya peranan ? ada dua hal dalam bahasan ini akan diterangkan, yaitu :
  • Pembinaan Akhlak dan Disiplin Agama
  • Pembinaan Akhlak melalui Sekolah
  • Melalui Taman Kanak-kanak (3 - 6 Tahun)
1. Pembinaan Akhlak dan Disiplin Agama
Sebagaimana kita ketahui, bahwa masalah akhlak dan pembinaannya pada abad kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolog modern ini, semakin penting dan mendesak untuk dikaji dan dipikirkan, karena fakta menunjukkan bahwa kemajuan terse¬but membawa pula dampak negatif terhadap akhlak manusia, di samping dampak positif yang menguntungkan.
Pembinaan akhlak anak harus terlaksana dalam seluruh lingkung kehidupannya, baik di dalam keluarga, sekolah, maupun di dalam lingkungan masyarakat.
Sesungguhnya sumber akhlak yang paling utama adalah disiplin, karena akhlak merupakan cermin dari keadaan keimanan yang terpantul dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin dalam membina akhlak manusia dikaitkan dengan ketentuan hukum/aturan yang sifatnya pasti dan jelas, misalnya aturan di rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Ketentuan tersebut dijelaskan secara rinci di dalam tata tertib. Oleh karena itu pembinaan akhlak tidak dapat dipisahkan dari disiplin
Dalam kehidupan sehari-hari, dari hal yang paling dekat dengan anak seperti mandi, tidur, makan, dan sebagainya.
Untuk memahami disiplin secara tepat dan baik, maka di¬perlukan pendidikan diisplin yang memadai dan mencakup segala segi kehidupan dalam segi hubungan manusia dengan manusia. Mulai dari dalam keluarga, misalnya hubungan suami istri, hubungan orang tua dan anak, hubungan antar saudara, hubungan dengan kakek nenek, paman bibi dan sebagainya. Juga perlu diperhatikan hubungan manusia dengan tetangga dan masyarakat pada umumnya. Agama juga mengatur bagaimana seharusnya manusia memperlakukan hewan atau makhluk membawa lainnya, bahkan dengan alam seluruhnya.
Pengetahuan disiplin yang memadai dan lengkap, terutama yang prinsip-prinsip yang berkaitan dengan akhlak hanya diperoleh melalui pendidikan agama yang cukup. Adapun akhlak manusia terhadap Allah diatur dalam ibadah.
Lembaga pendidikan mempunyai peranan yang amat penting dalam pembinaan akhlak peserta didik dalam melaksa¬nakan pengertian tugas kependidikannya. Ia tidak hanya membina kecerrdasan dan keterampilan, akan tetapi juga membina akhlak mereka, agar mereka tahu mana yang baik dan mana yang buruk, lalu memilih dan menyukai yang baik, serta meninggalkan dan membenci yang buruk. Mereka dilatih dan dibina menjadi or¬ang yang berakhlak terpuji, mempunyai kemauan keras untuk menjadi orang yang sopan dalam pembicaraan dan perbuatan¬nya, berkata benar, dan membela kebenaran, ikhlas beramal dan rela berkorban untuk kepentingan umum serta selalu berpegang teguh kepada keimanan dan menjauh dari hal-hal yang tercela. Untuk mencapai tujuan tersebut memang tidak mudah.
Anak mengalami berbagai perubahan di dalam dirinya akibat pertumbuhan yang terjadi dalam berbagai aspek dirinya, baik aspek jasmani, maupun rohani. Hal itu disertai dengan berbagai kebutuhan, baik yang bersifat biologis, maupun psikis dan sosial. Di samping itu lingkungan luar, seperti keluarga, sekolah dan masyarakat juga membawa dampak tertentu yang ikut mempengaruhi atau menghambat pembinaan akhlak yang sedang berjalan.

2. Pembinaan Akhlak melalui Sekolah
Semua unsur pendidikan yang ada di sekolah, baik secara langsung ataupun tidak langsung, akan mempengaruhi pembi¬naan akhlak peserta didik. Guru dan tenaga kependidikan non¬guru, bidang studi serta anak didik itu sendiri, akan saling mem¬pengaruhi antara satu sama lain, di samping suasana sekolah pada umumnya. Semua itu mempunyai pengaruh dalam proses pembinaan akhlak peserta didik.
Besar kecilnya pengaruh yang diterima anak didik tersebut tergantung kepada tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak didik dalam berbagai aspeknya. Di antaranya aspek jasmani, aspek kejiwaan, kecerdasan, kemasyarakatan dan ke¬agamaan yang terjadi pada beberapa tahap umur dalam rentang umur di antara 0- 12 tahun.

3. Melalui Taman Kanak-kanak (3 - 6 Tahun)
Pertumbuhan jasmani anak sedang berjalan dengan cepat. Pada tahap ini si anak sudah pandai berjalan, berlari dan mengguna¬kan otot-otot besarnya. Mereka cenderung untuk meniru dan melakukan apa yang diperbuat oleh orang dewasa di sekitarnya. Boleh jadi ia akan mengambil alat-alat tajam seperti pisau dan gunting, dan menggunakannya seperti yang dilihatnya dari kakak, ibu, bapak atau orang lain yang lebih besar.
Pertumbuhan kemampuan bicara dan menangkap kata-kata yang didengarnya lalu mengucapkannya, meningkat cepat sekali. lika pada umur 1 tahun ia mampu mengucapkan tiga kata, pada smur 2 tahun : 272 kata, dan pada umur 3 tahun : 895 kata, pada umur 4 tahun meningkat menjadi 1. 540 kata dan pada umur 5 tahun : 2. 042 kata. Selanjutnya pada umur 6 tahun mereka telah :nampu menguasai : 2. 562 kata.
Pertumbuhan dan perkembangan kemampuan menangkap dan mengucapkan sekian banyak kata-kata mempunyai penga¬ruh penting dalam pembinaan disiplin anak. Hal itu amat penting, sebab si anak belum mampu memahami kata-kata tersebut, karena pertumbuhan kecerdasannya belum sampai pada ke¬mampuan memahami hal yang maknawi (abstrak). Namun me¬reka suka mengulang dan mengucapkannya, terutama bila yang mendengarnya tertawa atau memujanya, tentu saja di antara kata¬-kata tersebut terdapat kata-kata yang tidak sopan.
Pertumbuhan kecerdasan anak pada umur ini masih terkait kepada hal-hal yang dapat dilihat, diraba, dicicip, dan diciumnya, atau cara yang berkaitan dengan panca inderanya, atau cara berpikirnya bersifat inderawi.
Pendidikan disiplin bagi anak-anak pada umur ini belum dapat dilakukan dengan pengertian. Maka perlu digunakan latihan, pembiasaan dan percontohan.
Pertumbuhan jiwa sosial anak pada umur ini ditandai oleh mulainya senang kepada anak lain yang sebaya dengan dirinya. Ia ingin ada teman bermain. Pada umur ini seyogyanya anak mulai dilatih untuk suka meminjamkan permainannya kepada temannya waktu bermain.
Si anak pada permulaan bergaul dengan anak di keluarga¬nya cenderung bersikap egois  mementingkan diri, mau meng¬ambil permainan teman, tapi tidak mau memberikan permainan atau miliknyakepada orang lain. Sebab selama dalam hubungan dengan orang tuanya, ia selalu menjadi pusat perhatian, segala keperluannya dipenuhi dan panggilan atau tangisnya didengar dan diperhatikan.
Pertumbuhan disiplin pada anak sudah mulai sejak awal, ketika ia lahir. Kemudian melalui pengalaman dengan orang tuanya seperti: menyusui, pipis,, ucapan dan perbuatan orang tuanya dalam melakukan ibadah, disertai de¬ngan raut dan air muka yang bersungguh-sungguh tidak dapat diganggu serta tidak ada tanggapan terhadap ketawa, senyum dan teriakan anak. Semua itu bagi anak pada umur tersebut menimbulkan kesan yang aneh dan mempesona.
Anak yang di dalam keluarganya diterapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, akan menyerap semua pengala¬man tersebut, sehingga menjadi bagian dari pribadinya yang sedang tumbuh. Dengan demikian ia telah mulai menyerap akhlak yang bersumber kepada agama.
Bagi anak yang tidak mempunyai pengalaman keagamaan dalam keluarganya, maka kebiasaan dan perilaku orang tuanya yang dialaminya itu pulalah yang diserap dan ditirunya.
Pertumbuhan kejiwaan pada anak pada umumnya dipe¬ngaruhi oleh keadaan hubungan orang tua satu sama lain, baik yang menenteramkan dan menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Suasana keluarga dan perlakuan orang tuanya harus dap at memenuhi kebutuhan pokok si anak baik kebutuhan jasmani (makan, minum dan perlindungan), maupun kebutuhan kejiwaan (rasa kasih sayang, rasa aman, rasa harga diri, rasa bebas, rasa sukses, dan rasa ingin tahu).
Apabila kebutuhan tersebut terpenuhi dengan baik, maka pertumbuhan jiwanya positif, riang, dan menyenangkan. Dan ia tidak terpenuhi, maka akibatnya terhadap pertumbuhan anak menjadi negatif yang akan nampak pada pertumbuhan jasmani, kelakuannya, dan sebagainya.
Ketika si anak masuk ke Taman Kanak-kanak, semua pe¬ngalaman yang dilaluinya telah membentuk akhlak tertentu padanya. Maka guru Taman Kanak-kanak adalah orang pertama yang melakukan pembinaan akhlak dengan sengaja, berdasar¬kan teori dan metoda yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui anak.
Proses pertumbuhan dan perkembangan tersebut di segala aspek itu berjalan terus. Maka guru di Taman Kanak-kanak di¬harapkan dapat melanjutkan pembinaan akhlak yang mulai terbina di dalam keluarga dan memperbaiki mana yang salah dan membina akhlak yang mulia yang ingin diberikan kepada anak.
Mengingat keadaan anak yang belum mampu diajak berpikir untuk memahami nilai-nilai yang perlu dimilikinya, dan dijelmakan dalam perilaku, kata dan sikapnya, maka pemilihan materi dan metode pendidikan akhlak bagi anak harus sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang sedang dilaluinya.
Faktor guru amat penting bagi pembinaan akhlak anak¬-anak di Taman Kanak-kanak. Akhlak dan kepribadian guru dalam kehidupannya sehari-hari terbawa masuk ke dalam kelas dan ke tempat bermain anak-anak. Apa saja yang dapat diamati dari guru, mulai dari penampilan, pakaian, ucapan, pergaulan, akhlak, dan sikapnya dalam menghadapi atau dalam melayani anak didik, akan diserap oleh mereka tanpa disadari oleh guru. Maka guru yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, penyayang, peramah, dan memiliki kemam¬puan untuk memahami anak didik, serta mampu membimbing dan mengarahkan anak didik kepada akhlak yang baik, maka dengan sendirinya menjadi contoh yang baik dalam pemben¬tukan akhlak anak didik.
Materi akhlak yang akan dibawakan kepada anak didik adalah akhlak yang diperlukan anak dalain kehidupan sehari¬hari, misalnya hubungan anak dengan ibu-bapaknya, adik atau kakaknya, orang lain dalam keluarga, teman-temannya, dan gurunya. Juga perlakuan anak terhadap lingkungan, termasuk binatang ternak, tanam-tanaman, makanan, minuman, buang air, dan sebagainya.
Metode pembinaan akhlak bagi anak pada tahap umur ini yang terpenting adalah pembiasaan, latihan, dan percontohan, yang dilakukan di dalam ruang belajar, ruang bermain, di alam bebas, dan di tempat-tempat yang mempunyai makna dalam kehidupannya. Gambar-gambar yang terpasang di dinding, di dalam kelas, di dalam ruang bermain, di pekarangan dan di kamar mandi hendaknya menampilkan contoh-contoh yang terbaik bagi akhlak.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top