Selasa, 28 April 2015

Pengertian Kesadaran Beragama dan Fungsi Manusia

Agama adalah suatu pondasi yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dengan beragama, disitu akan terdapat konteks dimana saling terjadi suatu koneksi antara Manusia dengan Tuhannya, ataupun sebaliknya. Dengan beragama juga, manusia senantiasa dapat mengatur pola hidup Pribadinya, dan juga diantara Masyarakat luas. Mentalitas manusia senantiasa ditata oleh agama, dimana orang yang lebih beriman kepada Tuhan, jelaslah dalam hidupnya akan lebih tenang dalam melakukan sesuatu ataupun tindakan.
Kematangan kesadaran beragama penuh dengan asumsi, karena keimanan dan pengalaman ke-Tuhanan sangat sukar diukur atau dinilai secara ilmiah. Kita hanya dapat mengamati kehidupan keagamaan melalui tingkah laku yang nampak sebagai pernyataan dari kehidupan dunia seseorang.

Pengertian kesadaran beragama dalam tulisan ini meliputi rasa keagamaan, pengalaman ke-Tuhanan, keimanan, sikap dan tingkah laku keagamaan, yang terorganisasi dalam system mental dari kepribadian. Karena agama melibatkan seluruh fungsi jiwa-raga manusia, maka kesadaran beragama pun mencakup aspek-aspek afektif, konotif, kognitif, dan motorik. Keterlibatan fungsi afektif konotif terlihat di dalam pengalaman ke-Tuhanan, rasa keagamaan dan kerinduan kepada Tuhan. Aspek kognitif nampak dalam keimanan dan kepercayaan. Sedangkan keterlibatan fungsi motorik nampak dalam perbuatan dan gerakan tingkah laku keagamaan. Dalam kehidupan sehari-hari, aspek-aspek tersebut sukar dipisah-pisahkan karena merupakan suatu system kesadaran beragama yang utuh dalam kepribadian seseorang.
Kesadaran beragama merupakan bagian atau segi yang hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui instropkesi atau dapat dikatakan bahwa ia adalah aspek mental dan aktivitas.

Jalaludin menyatakan bahwa kesadaran orang untuk beragama merupakan kemantapan jiwa seseorang untuk memberikan gambaran tentang bagaimana sikap keberagamaan mereka. Pada kondisi ini, sikap keberagamaan orang sulit untuk diubah karena sudah berdasarkan pertimbangan dan pemikiran yang matang, kalaupun ada perubahan sudah berdasarkan pada pertimbangan yang matang.
Kesadaran beragama meliputi rasa keagamaan, pengalaman keTuhanan, keimanan, sikap, dan tingkah laku keagamaan, yang terorganisasi dalam sistem mental dari kepribadian.
Keadaan ini dapat dilihat malalui sikap keberagamaan yang terdefernsiasi dengan baik, motivasi kehidupan beragama yang dinamis, pendangan hidup yang komprehensif, semangat pencarian dan pengabdiannya kepada Tuhan, juga melalui pelaksanaan ajaran agama yang konsisten, misalnya dalam melaksanakan shalat, puasa. 
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kesadaran beragama merupakan sesuatu yang terasa, dapat diuji melalui instropeksi dan sudah ada internalisasi dalam diri seseorang, di mana ia merupakan rasa keterdekatan dengan sesuatu yang lebih tinggi dari segalanya, yaitu Tuhan.
Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk berpribadi, sebagai makhluk yang hidup bersama-sama dengan orang lain, sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alam dan sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh oleh Allah. Manusia sebagai makhluk berpribadi, mempunyai fungsi terhadap diri pribadinya. Manusia sebagai anggota masyarakat mempunyai fungsi terhadap masyarakat. Manusia sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alam, berfungsi terhadap alam. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh, berfungsi terhadap yang menciptakan dan yang mengasuhnya. Selain itu manusia sebagai makhluk pribadi terdiri dari kesatuan tiga unsur yaitu : unsur perasaan, unsur akal, dan unsur jasmani.  

Fungsi Manusia Menurut al-Qur'an
Dalam al-Qur'an, manusia berulang kali diangkat derajatnya karena aktualisasi jiwanya secara positif. Al-Qur'an mengatakan bahwa manusia itu pada prinsipnya condong kepada kebenaran (hanief) sebagai fitrah dasar manusia. Allah menciptakan manusia dengan potensi kecenderungan, yaitu cenderung kepada kebenaran, cenderung kepada kebaikan, cenderung kepada keindahan, cenderung kepada kemulian, dan cenderung kepada kesucian. Firman Allah [QS. ar-Ruum (30) : 30], sebagai berikut :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. [Itulah] agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Manusia juga diciptakan sebagai makhluk berpribadi yang memiliki tiga unsur padanya, yaitu unsur perasaan, unsur akal (intelektual), dan unsur jasmani.
Ketiga unsur ini berjalan secara seimbang dan saling terkait antara satu unsure  dengan unsur yang lain. William Stren, mengatakan bahwa manusia adalah Unitas yaitu jiwa dan raga merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan dalam bentuk dan perbuatan. jika jiwa terpisah dari raga, maka sebutan manusia tidak dapat dipakai dalam arti manusia yang hidup. Jika manusia berbuat, bukan hanya raganya saja yang berbuat atau jiwanya saja, melainkan keduanya sekaligus. Secara lahiriyah memang raganya yang berbuat yang tampak melakukan perbuatan, tetapi perbuatan raga ini didorong dan dikendalikan oleh jiwa .
Jadi unsur yang terdapat dalam diri pribadi manusia yaitu rasa, akal, dan badan harus berjalan seimbang, apabila tidak maka manusia akan berjalan pincang. Sebagai contoh : apabila manusia yang hanya menitik beratkan pada memenuhi fungsi perasaannya saja, maka ia akan terjerumus dan tergelan dalam kehidupan spritualistis saja, fungsi akal dan kepentingan jasmani menjadi tidak penting. Apabila manusia hanya menitik beratkan pada fungsi akal [intelektual] saja, akan terjerumus dan tenggelam dalam kehidupan yang rasionalistis, yaitu hanya hal-hal yang dapat diterima oleh akal itulah yang  dapat diterima kebenarannya. Hal-hal yang tidak dapat diterima oleh akal, merupakan hal yang tidak benar. Sedangkan pengalaman-pengalaman kejiwaan yang irasional hanya dapat dinilai sebagai hasil lamunan [ilusi] semata-mata. Selain perhatian yang terlalu dikonsentrasikan pada hal-hal atau kebutuhan jasmani atau badaniah, cenderung kearah kehidupan yang meterialistis dan positivistis.
Maka Al-Qur'an memberikan hudan kepada manusia, yaitu mengajarkan agar adanya keseimbangan antara unsur-unsur tersebut, yaitu unsur perasaan terpenuhi kebutuhannya, unsur akal juga terpenuhi kebutuhannya, demikian juga unsur jasmani terpenuhi kebutuhannya
Berbicara tentang fungsi manusia menurut al-Qur'an, apabila memperhatikan surah al-Mukminun : ayat 115 yang dikemukan pada pendahuluan di atas, dapat ditemukan dalam konteks ayat tersebut, bahwa "manusia adalah makhluk fungsional dan bertanggungjawab". Artinya manusia berfungsi terhadap diri pribadinya, berfungsi terhadap masyarakat, berfungsi terhadap lingkungan, dan berfungsi terhadap Allah Sang Pencipta Manusia. Fungsi manusia dapat dijabarkan sebagai berikut :
A. Fungsi Manusia Terhadap Diri Pribadi
Manusia pribadi terdiri dari kesatuan unsur jasmani dan rohani, unsur rohani terdiri dari cipta (akal), rasa dan karsa. Unsur yang ada pada diri pribadi manusia merupakan kesatuan, meskipun masing-masing berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Unsur "cipta (akal) meliputi pengamatan, ingatan, pikiran dan sebagainya. Unsur rasa terdiri dari perasaan jasmani meliputi sakit, enak, lapar, kenyang, dan sebagainya. Perasaan rohani meliputi perasaan keindahan, kesusilaan, keagamaan, sosial, harga diri, dan keilmuan.
Unsur karsa terdiri dari kemauan, cita-cita, keinginan, refleks, instink dan sebagainya.  Dengan mengetahui unsur tersebut, jika ingin memahami tingkah laku manusia, harus melihat atau meninjaunya secara total, karena manusia merupakan suatu kesatuan jiwa dan raganya; tingkah laku atau perbuatannya adalah pencerminan dari kegiatan jiwa dan raganya.

Fungsi manusia terhadap diri pribadi yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhan unsur-unsur tersebut secara menyeluruh agar kebutuhan pribadi tetap terjaga. Unsur jasmani yang memerlukan makan-minum, pakaian, tempat tinggal, kesehatan dan sebagainya dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Akal yang merupakan salah satu segi unsur rohani kita bertabiat suka berpikir. Tabiat suka berpikir akan dipenuhi dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi hidup manusia. Rasa yang juga merupakan salah satu segi unsur rohani yang selalu merindukan keindahan, kebenaran, keadilan dan sebagainya itu kita penuhi pula kebutuhannya dengan berbagai keseniaan yang sehat, hidup dengan pedoman yang benar, berlaku adil dan sebagainya.  Perasaan yang rindu kepada kebaikan diisi dengan nilai-nilai moral, perasaan yang rindu kepada keindahan diisi dengan nilai-nilai seni-budaya, perasaan yang rindu kepada kemuliaan diisi dengan taqwa, perasaan yang rindu kepada kesucian diisi dengan usaha-usaha meninggalkan sifat-sifat tercela, seperti dengki, takabbur, aniaya dan sebagainya, kebutuhan tersebut dipenuhi dengan sebaik-baiknya.
Kehendak yang merupakan unsur rohani terpenting bagi manusia dalam usaha meningkatkan hidup dan kehidupannya harus selalu dihidupkan, jangan jangan sampai terjangkit penyakit malas yang akan mematikan unsur kehendak manusia. Kematian kehendak berarti kematian makna hidup bagi manusia. Suka menangguhkan pekerjaan yang semistinya dapat dan sempat diselesaikan segera akan mengakibatkan kemalasan, yang berarti kemalasan kehendak.

Dalam memenuhi unsur-unsur jasmani dan rohani, harus dijaga jangan sampai terjadi saling bertentangan satu dengan lainnya. Pertentangan yang terjadi dalam diri manusia akan mengakibatkan kegoncangan-kegoncangan, akhirnya manusia akan stres, labil, tidak tenang. Apabila sudah terjadi stres, labil, dan tidak tenang pada diri manusia, maka manusia akan mencoba mencari jalan keluar untuk mengobati dirinya, dan kadang-kadang alternative pengobatannya tidak sesuai dengan norma-norma ajaran agama.

B. Fungsi Manusia Terhadap Masyarakat
Manusia sebagai makhluk sosial berfungsi terhadap masyarakatnya. Fungsi manusia terhadap masyarakat ditegakan atas dasar rasa yang tertanam dalam bahwa umat manusia merupakan keluarga besar, berasal dari satu keturunan Adam dan Hawa, dan dijadikan Allah berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling interaksi untuk saling mengenal, tolong menolong dalan berbuat kebaikan dan bertaqwa. Antara sesama manusia tidak terdapat perbedaan tinggi rendah martabat kemanusiaannya. Perbedaannya martabat manusia hanyalah terletak pada aktivitas amal perbuatannya dan rasa ketaqwaan kepada Allah

bahwa manusia adalah makhluk individual, makhluk relegius, dan makhluk sosial. "Sebagai makhluk individual manusia mempunyai dorongan untuk kepentingan pribadi, sebagai makhluk relegi manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan kekuatan di luarnya [Allah], adanya hubungan yang bersifat vertikal, dan sebagai makhluk sosial manusia mempunyai dorongan untuk berhubungan dengan manusia yang laiannya", ...maka kemudian terbentuklah kelompok-kelompok masyarakat 
Fungsi manusia terhadap masyarakat terbangun atas dasar sifat social yang dimiliki manusia, yaitu adanya kesedian untuk selalu melakukan interaksi dengan sesamanya. Ditegaskan dalam al-Qur'an bahwa manusia selalu mengadakan hubungan dengan Tuhannya dan juga mengadakan hubungan dengan sesama manusia. Kesedian untuk memperhatikan kepentingan orang lain, dalam hal ini adalah tolong menolong

5)    Fungsi Manusia Terhadap Alam dan Lingkungan
Fungsi manusia terhadap alam adalah bagaimana manusia memanfaatkan potensi alam untuk mencukupkan kebutuhan hidup manusia. Banyak ayat-ayat al-Qur'an yang menegaskan bahwa segala sesuatu di langit dan dibumi ditundukan Allah kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sendiri
Manusia berkewajiban mengolah dan menjaga potensi alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia merupakan tuntutan fungsi manusia terhadap alam. Oleh karena, dalam mengolah potensi alam yang diberikan Allah kepada manusia merupakan fardhu kifayah, karena tidak semua manusia mempunyai kemampuan untuk menggali potensi alam yang diberikan tersebut.  Untuk itu apabila manusia menyia-nyiakan potensi alam artinya tidak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia berarti mengabaikan fungsi manusia terhadap alamnya. Dalam memenuhi fungsi manusia terhadap alam, hendaknya selalu diusahakan agar keselamatan manusia tidak terganggu. Tidak memanfaatkan potensi alam secara berlebih-lebihan, agar generasi mendatang masih dapat menikmatinya, karena potensi alam terbatas.
Apabila berlaku berlebih-lebihan, tamak, rakus, dalam menanfaatkan potensi alam akan berakibat kerusakan pada manusia itu sendiri.

C. Fungsi Manusia Terhadap Allah
Fungsi manusia terhadap Allah ditegaskan dalam al-Qur'an surat adz-Dzariyat ayat 56, sebagai berikut :
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku".

Dalam al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 21, Allah memerintahkan manusia untuk beribadah, sebagai berikut :
"Hai manusia, beribadahlah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa".
Dengan demikian, beribadah kepada Allah yang menjadi fungsi manusia terhadap Allah baik dalam bentuknya umum maupun dalam bentuk khusus. Ibadah dalam bentuk umum ialah melaksanakan hidup sesuai ketentuan-ketentuan Allah, sebagaimana diajarkan al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Ibadah dalam pengertiam umum mencakup segala macam perbuatan, tindakan dan sikap manusia dalam hidup sehari-hari. Sedangkan ibadah dalam bentuk khusus (mahdhah) yaitu berbagai macam pengabdian kepada Allah yang cara melakukannya sesuai dengan ketentuan syara'.
Dalam bidang 'aqidah, fungsi manusia terhadap Allah adalah meyakini bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah. Bertuhan kepada selain Allah berarti suatu penyimpangan dari fungsi manusia terhadap Allah. Bertuhan kepada Allah adalah sesuai sifat dasar manusia yaitu sifat relegius, tetapi sifat "hanief" yang ada pada manusia membuat manusia harus condong kepada kebenaran yaitu mentauhidkan Allah.

Pustaka.

Ahmad Azhar Basyir. Citra Manusia Muslim. (Yogyakarta : Penerbit Fakultas Hukum UII. 1995).
Bimo Walgito. Psikologi Sosial [Suatu Pengantar].(Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM. 1997).
Sukirin. Psikologi Pendidikan. (Yogyakarta: FIP IKIP Yogyakarta. 1983).
Abdurrahman An-Nahlawi. Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta : Gema Insani Press. 1995)
Zakiyah Daradjat, ilmu jiwa agama, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1990)


Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top