Selasa, 21 April 2015

Pengertian Emosional Anak dan Perkembangannya

a.  Emosional anak
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:298) disebutkan bahwa  yang dimaksud dengan emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, dan kecintaan. Sedangkan emosional dalam buku yang sama artinya menyentuh perasaan atau mengharukan. Sedangkan menurut sebagian ahli atau pakar psikologi perkembangan yang diwakili Lawrence (Suyadi 2009:104) emosi adalah kondisi kejiwaan manusia.
Pada umunya perbuatan kita sehari-hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, yaitu perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau perasaan tidak senang yang selalui menyertai perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif warna afektif ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah atau samar-samar saja. Dalam warna afektif yang kuat, maka perasaan-perasaan  menjadi lebih mendalam, lebih luas dan lebih terarah. Perasaan-perasaan ini disebut emosi. Beberapa macam emosi antara lain, gembira, bahagia, semu, terkejut, benci, senang, sedih, was-was, dan sebagainya.
Perasaan dan emosi biasanya disifatkan sebagai suatu keadaan dari diri organisme atau individu pada suatu waktu. Misalnya, orang merasa sedih, senang, terharu dan sebagainya bila melihat sesuatu, mendengar sesuatu, mencium bau dan sebagainya, Abdul Rahman (2003:151). Dengan kata lain perasaan disifatkan sebagai suatu keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa yang datang dari luar yang menimbulkan kegoncangan.
Reaksi dari masing-masing orang terhadap keadaan itu tidak sama benar satu dengan yang lain. Karena itu, dalam perasaan adanya beberapa sifat yang tertentu sebagaimana Abdul Rahman (2003:151) katakan, yaitu :
1) Perasaan berhubungan dengan peristiwa persepsi, merupakan reaksi kejiwaan terhadap stimulus yang mengenainya, contoh tersebut di atas memberikan gambaran bahwa keadaan (stimulus) itu dapat menimbulkan perasaan pada masing-masing individu. Tetapi apakah perasaan yang timbul pada masing-masing individu itu sama satu dengan yang lain, ternyata tidak demikian. Ada yang mengalami keadaan itu sangat menyenangkan, tetapi sebaliknya, juga ada yang biasa saja, dan bahkan mungkin ada yang mengalami perasaan kurang senang dengan demikian, sekalipun stimulusnya sama, tetapi perasaan yang ditimbulkan oleh stimulus tersebut dapat berlainan.
2) Perasaan sifat subjektif, lebih subjektif bila dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa kejiwaan yang lain. Contoh tersebut di atas dapat memberikan gambaran sekalipun stimulusnya sama, perasaan yang ditimbulkan dapat bermacam-macam sifatnya sesuai dengan keadaan masing-masing individu.
3) Perasaan dialami oleh individu sebagai perasaan senang atau tidak senang hanyalah sekalipun tingkatannya dapat berbeda-beda. Walaupun demikian sementara ahli yang mengemukakan bahwa perasaan senang dan tidak senang hanyalah merupakan salah satu dimensi saja dari perasaan.
Seperti telah dikemukakan di atas perasaan itu timbul akibat atau reaksi terhadap stimulus yang mengenai individu, ini berarti bahwa keadaan perasaan itu semata-mata hanya bergantung pada stimulus dari luar, sebab adakalanya sesuatu kedaan tidak menimbulkan perasaan sama sekali. Contoh tersebut di atas mungkin tidak dapat menimbulkan perasaan selain tergantung pada stimulus yang datang dari luar, juga bergantung pada :
a)  Keadaan jasmani individu yang bersangkutan kalau keadaan jasmani kurang sehat misalnya, hal ini dapat mempengaruhi soal perasaan yang ada pada individu itu. Pada umumnya orang yang dalam keadaan sakit, sifatnya lebih perasaan dibandingkan dengan keadaan jasmani yang sehat. Suatu peristiwa tidak menimbulkan sesuatu perasaan yang waktu sehat, tetapi dapat menimbulkan sesuatu perasaan pada waktu individu itu sakit. Hal ini menunjukan adanya hubungan yang erat antara keadaan jasmani dengan keadaan psikis individu.
b)  Keadaan dasar individu. Hal ini erat hubungannya dengan struktur pribadi individu, misalnya ada orang yang mudah marah. Sebaliknya ada orang yang sukar, sehingga dengan demikian struktur pribadi individu akan turut menentukan mudah tidaknya seseorang mengalami suatu perasaan.
c)  Keadaan individu pada suatu waktu, atau keadaan temporer seseorang, misalnya orang yang apada suatu waktu sedang kalut pikiranya, akan mudah sekali terkena perasaan bila dibandingkan individu itu dalam keadaan normal.

b.  Perkembangan Emosi Anak
Pola perkembangan emosi anak sebenarnya telah ada sejak ia lahir atau bayi. Menurut Hurlock (Suyadi, 2009:105) gejala emosional pertama yang muncul adalah keterangsangan yang umum terhadap stimulus atau rangsangan yang kuat. Reaksi emosional ini memang belum nampak jelas sebagai reaksi emosi pada umunya, tetapi hanya memberi kesan sederhana berupa kesenangan atau ketidaksenangan. Reaksi emosional yang tidak menyenangkan biasanya diekspresikan dengan cara menangis, bersuara keras, atau mengubah posisi secara tiba-tiba dan lain sebagainya. Reaksi ini akan mudah muncul ketika anak dibiarkan memakai popok basah atau menempelkan sesuatu yang dingin pada kulitnya. Sedangkan reaksi emosional yang menyenangkan tampak jelas ketika anak sedang menete ibunya, tertawa dan berceloteh. Reaksi serupa juga mudah muncul jika anak diayun-ayun, digendong, dan diberi sentuhan hangat. Mendekati usia satu tahun, emosional bayi semakin tampak jelas, bahkan mirip seperti emosi orang dewasa, yakni marah, takut dan bahagia.
Masih mengutip Hurlock (Suyadi, 2009:106), secara umum, pola perkembangan emosi anak meliputi sembilan aspek yaitu :
1).    Rasa takut,   
2).    Rasa malu,   
3).    Rasa hawatir,    
4).    Rasa cemas,   
5).    Rasa marah
6).    Rasa cemburu,
7).    Rasa duka cita,
8).    Rasa ingin tahu,
9).    Rasa gembira.   
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top