Selasa, 21 April 2015

Pengertian Disiplin (konsep Pendidikan)

Secara etimologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003 : 268)  disiplin adalah tata tertib di sekolah, kemiliteran, dan lain sebagainya (ketaatan/kepatuhan terhadap tata tertib di sekolah). Sedangkan pola asuh berarti bentuk atau sistem dalam menjaga, merawat dan mendidik. Jika ditinjau dari terminologi, pola asuh anak adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga, merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif atau positif.
Baumrind (Abdul Ghofur dkk, 2009 : 3) Pola asuh orang tua dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu 1) Pola asuh secara demokratis, 2) Pola asuh otoriter, 3) Pola asuh permisif (pemanja), 4) Pola asuh penelantar.
1).    Pola Asuh Secara Demokratis Pola asuh secara demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersifat realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap melebihi batas kemampuan sang anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam hal memilih dan melakukan sesuatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

2).    Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter adalah kebalikan dari pola asuh demokratis, yaitu cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. Biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah dan menghukum apabila sang anak tidak mau melakukan apa yang di inginkan oleh orang tua. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi, dan dalam berkomunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti dan mengenal anaknya.

3).    Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar, memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali disukai oleh anak.

4).    Pola Asuh Penelantar Pola asuh tipe yang terakhir ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya, waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka seperti bekerja. Dan kadangkala mereka terlalu menghemat biaya untuk anak-anak mereka. Seorang ibu yang depresi adalah termasuk dalam kategori ini, mereka cenderung menelantarkan anak-anak mereka secara fisik dan psikis. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mau memberikan perhatian fisik dan psikis pada anak-anaknya.

Anak usia dini adalah masa-masa yang butuh perhatian dan kasih sayang total dari kedua orangtuanya. Apabila anak diasuh dengan pola asuh demokratis,  maka tumbuh kembang anak akan lebih baik. Karena jika pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya demokratis, maka anak akan cenderung bebas melakukan aktivitas pembelajaran dalam dirinya.
Tetapi, bertanggungjawab terhadap akibat yang akan diterima kelak, pemberani, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, tidak tergantung kepada orang tuanya. Karena dia akan mencoba melakukan aktivitasnya sendiri dengan pengawasan orang tuanya yang selalu memberikannya kebebasan beraktivitas, tetapi tetap diarahkan orang tuanya. Berani mengungkapkan pendapat, riang gembira. Sebaliknya jika pola asuh orang tua kepada anaknya otoriter anak akan cenderung takut untuk melakukan sesuatu untuk perkembangannya yang lebih baik. Karena apapun aktivitas anak selalu dikekang dan orang tua terlalu takut membebaskan anaknya beraktivitas. Anak akan cenderung penakut, tidak percaya diri, tergantung kepada orang tua, cenderung pendiam, pemurung, tidak mudah tersenyum gembira. Usahakan agar anak menikmati kehangatan kasih sayang dan rasa aman yang cukup ketika berada dalam rumah.
Selain itu, jika menghadapi anak yang suka berbohong, orang tua harus introspeksi diri dan harus mengubah cara dalam menjatuhkan hukuman. Bila terlalu keras dan diktator akan membuat anak semakin suka berbohong supaya terhindar dari hukuman.

Tim Trainer K-100 (2003 : 71) mengatakan, pada usia empat tahun, anak-anak mulai mengerti bahwa berbohong yang dilakukan dengan sengaja untuk mengelabui orang lain merupakan perbuatan buruk. Menurut Paul Ekman (Tim Trainer K-100, 2003 : 71) ada bermacam-macam alasan mengapa anak-anak tidak berkata benar, sebagian dapat dimengerti sebagian yang lain tidak.
Beberapa contoh alasan anak-anak berbohong :
1).    Untuk menghindari hukuman.
2).    Untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
3).    Untuk mendapatkan pujian.
4).    Untuk melindungi privasinya
5).    Untuk menguji kewibawaan orang tua.
6).    Untuk melepaskan diri dari rasa malu, dll.

Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top